The Surreal Bromo, Selalu Ramai Pengunjung


Perjalanan malamku bersama teman-teman Jakarta dan Semarang dari Sendang Biru menuju Gunung Bromo via Probolinggo cukup melelahkan. Bagaimana tidak, kita full belum sempat ketemu kasur selama 2 malam! Malam pertama kita tidur di kereta, dan malam kedua kita harus tidur di elf. Fiuh. Untuk sebagian orang yang kurang menyukai traveling dan adventure, mungkin sudah tepar ga berdaya jika harus melakukan rute perjalanan seperti kita. Hahaha.

Sesampainya di desa Ngadisari. Penerangannya terbatas. Udara dingin.
Sesampainya di desa Ngadisari. Penerangannya terbatas. Udara dingin.

Hari Sabtu, 17 November 2012 sekitar pukul 02.00 dini hari.  Sampailah kita di Desa Ngadisari, tepatnya di pangkalan jeep-jeep yang akan mengantar para wisatawan (termasuk kita) ke puncak Pananjakan. FYI, Pananjakan adalah spot bagi para wisatawan untuk dapat melihat cantiknya matahari terbit dari atas bukit ini. Pananjakan sendiri ada dua, Pananjakan 1 dan Pananjakan 2. Namun, karena rute menuju Pananjakan 1 sedang dalam perbaikan sampai akhir November, terpaksa kita hanya bisa sampai Pananjakan 2 saja. Padahal view yang lebih bagus bisa dilihat dari Pananjakan 1 lho. Sayang banget. Ya sudahlah, tidak apa-apa (sambil nangis).

Preparation is done. Jaket, sarung tangan, penutup kepala, ganti alas kaki paki sepatu, kamera, dan juga tripod. Setting kamera khusus buat hunting sunrise udah beres. Jeep sewaan juga udah ready (diurusin sama Mas Angga lagi, hehehe). So, let’s move to the top! Satu jeep cuma muat maksimal 6 orang. Biaya sewanya kisaran Rp 350.000 – Rp 450.000. Karena kita berduabelas, cukuplah kita menyewa 2 buah jeep untuk pulang pergi. Sebelum aku masuk ke jeep, ga sengaja aku tengok ke langit di atasku. Dan wow! Subhanallah, lautan bintang bertebaran ceraaahh banget. Langit bener-bener cerah, ga ada awan sama sekali. What a beautiful view! Hmmm pertanda baik kalo sunrise di Bromo pasti bakal seindah ini.

Matahari masih ngumpet, jadi suasana selama perjalanan dari Ngadisari ke Pananjakan bener-bener gelap, daaannn super dingin, padahal kita umpel-umpelan di dalem jeep. Aku satu jeep sama Fandi, Mba Ika, Mba Sari, Sara, dan Mas Aris. Karena masih sangat ngantuk, ditambah dinginnya udara dini hari, kita berenam cuma bisa diem menggigil sambil ngantuk- ngantuk nunggu jeep sampai ke lokasi. Sekitar 15 menit kemudian, jeep berhenti. Gelap banget! Kita cuma bisa ngandelin cahaya dari senter-senter para pengunjung lain (kita sendiri lupa ga bawa senter, hehehe). Supaya ga terpisah dari rombongan, sambil terus trekking kita sambil terus mengecek kelengkapan anggota. Itu pun cuma sama yang satu jeep sama aku, rombongan yang beda jeep sama aku, ga tau kemana. Hehehe… Ternyata trekking-nya lumayan melelahkan teman-teman. Semakin ke atas, semakin dingin, semakin kecil kadar oksigen, semakin susah kita bernapas. Hosh! Banyak sih yang nawarin naik kuda, tapiiiii ga bakal ada kesannya kalo ke puncak naik kuda. Selain itu kan harus bayar juga, hahaha.

Yes! Kita udah di Pananjakan 2. Ramenya masya Allah, kaya pasar. Sejauh mata memandang yang dilihat cuma manusia dan manusia. Sampai-sampai aku kesulitan cari spot buat ndiriin tripod aku. Waduh! Untungnya ga jauh dari tempat aku berdiri ada secuil tanah datar buat tripod aku. Alhamdulillah! Ayok ayok get ready for the sunrise. Bentar lagi cahaya
mataharinya muncul tuh. Allah baik banget ya, sejak awal kita udah dikasih cuaca cerah selama trip. Begitu juga saat kita di Bromo kemarin. Take it! I catched the sunrise perfectly. Aaaaaaaaaaaa akhirnyaaaaa aku bisa foto juga dengan backgroud Bromo Batok Semeru \^_^/

Semburat cahaya matahari dari Pananjakan. So attracting!
Semburat cahaya matahari dari Pananjakan. So attracting!
His silhouette from my angle. Beautiful.
His silhouette from my angle. Beautiful.
I catch you hey sun. Did you feel a pain?
I catch you hey sun. Did you feel a pain?
You versus me. Hehehe.
You versus me. Hehehe.

Setelah puas menikmati sunrise, kita trekking turun ke parkiran jeep untuk melanjutkan wisata Bromo lainnya. Perjalanan jeep dilanjutkan melewati kaldera (padang pasir). Persiapan sebelum kesini itu: (1) sunglasses; (2) masker; (3) sepatu tertutup. Di kaldera cuma ada pasir dimana kalo kena angin bisa aja terbang masuk ke mata kita atau nempel ke wajah kita. Selain itu pasir yang kita pijak bisa aja masuk ke alas kaki kita, makanya sepatu yang benar-benar tertutup bisa jadi alas kaki yang tepat saat menyusuri kawasan ini. Di kawasan ini kita bisa secara lebih dekat menikmati Gunung Batok yang sudah tidak aktif lagi. Ada juga Pura Luhur Poten yang selalu menjadi tempat berlangsungnya Upacara Kasodo bagi masyarakat suku Tengger. Di balik Gunung Batok kita bisa menikmati indahnya padang savana. Tapi kemaren aku kelupaan ga nyempetin mampir ke padang savana, soalnya waktunya habis buat trekking ke puncak kawah Gunung Bromo. Puncak kawah Gunung Bromo sendiri bisa didaki melalui bukit pasir dan anak tangga yang jumlahnya kurang lebih 250an anak tangga. Masih disewakan juga kuda sampai dengan anak tangga pertama, tapi aku dan teman-teman memilih untuk trekking on foot ajah, biar sensasinya dapet! Hwehehe.. Padahal, capekkkk juga sih xP

Nampang dulu sebelum nglanjutin trekking.
Nampang dulu sebelum nglanjutin trekking.
The brave red jeep!
The brave red jeep!
Yeay, aku sampai juga di tempat ini...
Yeay, aku sampai juga di tempat ini…
The way must go through to the top! Semangka!
The way must go through to the top! Semangka!
Do you see a man there?
Do you see a man there?

The surreal Bromo with its never ending beauty *sigh*

Setelah berbulan-bulan bermimpi bisa menginjakan kaki disana, akhirnya bisa kesampaian juga. Makasih ya Allah. Udah gitu dikasih cuaca yang cerah banget pula. Pas kesana juga udah bisa bawa DSLR dan tripod pribadi, wkwkwk lebay. Kalo ada review tentang wisata di Indonesia, Bromo pasti masuk list-nya, paling ga masuk top ten. So, I deeply recommended you to visit this surreal place, Bromo!

The great Bromo, Batok, and Semeru.
The great Bromo, Batok, and Semeru.
Advertisements

9 thoughts on “The Surreal Bromo, Selalu Ramai Pengunjung”

  1. Sudah pernah ke Bromo mba? Kalo belom, silahkan segera mencoba. Ini udah mau masuk musim kemarau, sunrise pasti lebih kelihatan cantik, tapi suasana kaldera mgkn lbh berdebu dan panas 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s