Menikmati Madakaripura Lewat Gerimis


Madakaripura. Om Iphank yang pertama kali ngenalin aku dengan tempat ini. Kalo hari itu beliau ga merekomendasikan untuk nyempetin mampir ke tempat ini, mungkin selamanya aku ga bakal tahu ada tempat beginian. Hahaha, lebay.

Sabtu siang hari, 17 November 2012.

Setelah kesampean menginjakan kaki di tanah Bromo, perjalanan kita lanjutkan untuk mengunjungi Madakaripura. Madakaripura adalah salah satu air terjun yang masih berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tepatnya di daerah Lumbang, Probolinggo. Konon, air terjun ini adalah tempat bersemedinya Patih Gajah Mada menjelang akhir hayatnya.

Mendengar air terjun, udah kebayang aja di pikiran aku bakal sepuas-puasnya hunting foto di Madakaripura. Tentunya hunting foto air terjun yang aliran airnya keliatan lembut kayak kapas. Ngeliat objeknya (lewat mbah Google) yang kayanya keren banget, bikin aku tambah gatel buat ngejepret. Ga sabar!

But, kabar buruk tiba-tiba di depan mata! Mendung sodara-sodara, dan gerimis! Dan pas udah sampai di loket tiket masuk, petugas bilang udah tutup karena cuaca mendung! Aaarrghh… Haruskah? Tapi, setelah sedikit eyel-eyelan (baca: berdiskusi), akhirnya kita diperbolehkan masuk oleh petugas dengan senjata “kita jauh-jauh dateng dari Jakarta, Pak”. Hahaha.

Melihat cuaca yang memang kurang bersahabat, dengan berat hati aku merelakan meninggalkan kamera dan tripodku di dalem elf. “Sementara kalian istirahat dulu ya di elf. Mungkin ini lebih baik daripada nanti kalian sakit kalo aku paksa kalian tetep ikut ke atas”, batinku, wkakakaka. Fiuh, pupus sudah bayangan foto-foto yang indah itu. Huaaaa T_T Untung aja Mas Yusuf masih rela ngebawa pocket camera-nya meskipun harus basah kena air gerimis dan air terjun.

Untuk sampai ke air terjun inti, kita harus trekking dulu melalui jalan setapak dan aliran sungai. Karena saat itu cuaca sedang kurang bersahabat, petugas benar-benar memperingatkan kita untuk sangat berhati-hati. Debit air sungai bisa saja tiba-tiba naik sehingga memutus jalur trekking. Akibat gerimis, jalur trekking juga menjadi lebih licin sehingga resiko terpeleset lebih besar.

Jalur trekking jalan setapak. Benar-benar sunyi.
Jalur trekking jalan setapak. Benar-benar sunyi.
Jalur trekking aliran sungai. Harus sangat hati-hati ya!
Jalur trekking aliran sungai. Harus sangat hati-hati ya!

Setelah trekking +/- 20 menit ditemani tetesan-tetesan gerimis, tirai air itu mulai terlihat. Yup, inilah salah satu keunikan yang bisa kita temui di sini. Sebelum sampai ke air terjun inti, air terjun yang menyerupai tirai air akan menyambut dulu kedatangan kita. Cantik banget! Kita bisa dengan bebas berdiri di bawahnya menikmati dinginnya air yang jatuh dari celah tebing yang ada. Ada yang alirannya lembut, ada pula yang lumayan deras. Mirip seperti jatuhnya air hujan dari genting rumah kita.

View air terjun dari kejauhan. Ini kemungkinan aliran air dari air terjun inti.
View air terjun dari kejauhan. Ini kemungkinan aliran air dari air terjun inti.
Tirai air yang sangat cantik itu ada di Madakaripura!
Tirai air yang sangat cantik itu ada di Madakaripura!

Trekking sedikit lagi yuk, dan kita akan segera sampai ke air terjun inti, ke tempat Mahapatih Gajah Mada bersemedi, yang sunyi, yang tersembunyi, yang penuh misteri (halah). Begitu sampai di air terjun inti, kita akan seperti di dalam sumur/tabung yang super besar. Soalnya air terjun ini dikelilingi oleh tebing yang cukup tinggi. Begitu melihat ke atas, nuansa “di dalem sumurnya” semakin terasa. Wow, Subhanallah! Sayang, saat itu debit air sedang tinggi karena habis hujan. Sehingga warna airnya pun berubah coklat dan banyak sampah kayu gelondongan yang terbawa aliran air.

Segera menggapai air terjun utama nih. Ready?
Segera menggapai air terjun utama nih. Ready?
The sacred of Madakaripura.
The sacred of Madakaripura.
Air berubah warna menjadi coklat akibat turun hujan.
Air berubah warna menjadi coklat akibat turun hujan.

Naahhh…. Sekarang waktunya bener-bener basah-basahan! Rugi kalau basahnya nanggung, soalnya sepanjang perjalanan kemari juga udah basah kena gerimis dan tirai air. Sekalian yuk nyobain jadi Gajah Mada, mandi di bawah air terjun. Tapi harus ekstra hati-hati ya, takutnya kepleset dan kebawa aliran airnya.

Kabarnya, di sini lah Gajah Mada sering mandi. Ini bukan aliran air terjun utama. Aliran ini ada di sebelah kanan aliran air terjun utama.
Kabarnya, di sini lah Gajah Mada sering mandi. Ini bukan aliran air terjun utama. Aliran ini ada di sebelah kanan aliran air terjun utama.
Fotonya ngeblurrrrr. Soalnya lensanya kena cipratan airrr. Huaaa.... T_T
Fotonya ngeblurrrrr. Soalnya lensanya kena cipratan airrr. Huaaa…. Aku udah kaya penampakan aja T_T

Yippi. Meskipun ga sempat dapet foto air terjun yang airnya kaya kapas 😦 setidaknya aku senaaannngg banget bisa (sekali lagi) menikmati indahnya lukisan-Nya di alam Indonesia ini. So, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Keep travel yah teman-teman!

Advertisements

One thought on “Menikmati Madakaripura Lewat Gerimis”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s