Pendakian ke Papandayan bersama Indonesian Mountains


Pertemuan yang sama sekali tidak disengaja dengan event Indonesian Mountains pada akhirnya membatalkan perjalananku bareng Mba Sinta ke Sawarna. Ternyata aku lebih penasaran dengan indahnya puncak gunung Papandayan daripada eksotisme pantai Sawarna. Apalagi ini ga sekedar pendakian biasa, tapi ada semacam outdoor photography training yang dipandu sama Bang Widi dan Mas Arsyan, para pakarnya fotografi. Modal nekat karena sebenarnya peralatan pendakianku belum sepenuhnya lengkap. Padahal waktu yang tersisa tinggal 6 hari. Tapi hasrat kuat ini mengalahkan semuanya. Berangkatlah aku  malam itu, 8 Maret 2013, bersama 10 orang peserta lainnya dan para mimin Indonesian Mountains.

Sabtu, 9 Maret 2013

Pemberhentian pertama kami adalah masjid di pertigaan Cisurupan, Garut. Tempat ini memang menjadi langganan para pendaki Papandayan sebelum menuju Camp David. Setelah prepare peralatan pendakian, solat subuh, dan berdoa bersama, kami langsung menuju Camp David menggunakan mobil bak terbuka. Perjalanan Cisurupan-Camp David memakan waktu sekamir 40 menit. Rusaknya jalur yang kami lalui sempat membuat mobil bak kami mogok. Tapi pemandangan luar biasa yang membentang di ufuk timur tak hentinya membuat kami berdecak kagum, siluet gunung Cikuray di antara semburat cahaya matahari pagi. Subhanallah.

Siluet Gunung Cikuray dari jalur menuju Camp David
Siluet Gunung Cikuray dari jalur menuju Camp David

Sesampainya di Camp David, udara dingin gunung yang khas beranjak menemani kami. Sarapan nasi dan lauk terasa dingin di mulut. Teh panas pun cepat sekali mendingin. Namun, sinar matahari pagi mampu menghangatkan badan kami . Sebelum memulai pendakian, ada sedikit coaching clinic tentang konsep dasar fotografi dari Bang Widi dan Mas Arsyan. Sedikit bangga juga karena apa yang mereka jelaskan sedikit banyak udah banyak aku pelajari sebelumnya. Hehehe..

Beberapa menit kemudian, kaki kami pun mulai melangkah mendaki. Benar-benar ini pendakian perdanaku. Semuanya serba masih baru: carrier, sepatu trekking, celana lapangan, rain coat, sandal gunung, headlamp, semuanya. Niat banget kan aku? Hehehe..

Satu jam kemudian kami sampai di Kawah, pos pertama kami. Kami istirahat sejenak, sedangkan tim dari IGR (Indonesia Green Ranger) dengan sigapnya langsung menyiapkan secangkir susu dan white coffee hangat. Kami para peserta tak mau melewatkan momen ini untuk jepret sana sini. Pemandangan tanah kapur berwarna kuning kecoklatan menjadi objek menarik untuk diabadikan. Bau belerang tercium jelas. Satu lagi keindahan Indonesia!

Wonder women nih, dari 22 total yang nanjak dari tim kita, cuma ada 6 peserta cewek!
Wonder women nih, dari 22 total yang nanjak dari tim kita, cuma ada 6 peserta cewek!

Perjalanan dilanjutkan menuju Jalur Putus menuju Pondok Saladah. Gerimis rintik-rintik menemani perjalanan kami siang itu. Jalan sedikit menjadi licin namun kami tetap semangat. Carrier yang kubawa ternyata sudah mulai membuat pundakku pegal-pegal. Fiuh. Tapi semua itu terbayarkan ketika akhirnya kami tiba di Pondok Saladah, tempat kami bermalam hari itu. Sisi nyaman dari pendakian ini adalah kami tidak perlu repot memikirkan tenda, masak, dan lain-lain. Karena semua itu telah di-handle dengan baik oleh tim dari IGR. Hal ini ditujukan agar peserta mampu secara fokus mempraktekan teknik fotografinya di alam pegunungan ini. Asyiknya. Setelah makan siang, kami dipersilakan mengekspresikan apa saja di Pondok Saladah, alias acara bebas. Yeay!

Perjalanan menuju Pondok Saladah. Keren banget kan aku? Hehehe...
Perjalanan menuju Pondok Saladah. Keren banget kan aku? Hehehe…

Minggu, 10 Maret 2013

Pagi ini kabut rajin banget deh, sampai-sampai matahari pagi dari tebing Pondok Saladah cuma bisa terlihat malu-malu di balik awan. Sedikit kecewa karena gagal melihat sunrise dari Papandayan. Tiba-tiba Bang Widi kasih tau kalo ada air tejun di sebelah kanan tebing. Cukup sulit menjangkau spot yang enak untuk meng-capture air terjun itu. Terlebih kabut tiba-tiba turun. Yaaahh, gagal lagi deh dapet foto air terjun yang bagus T_T

Malu-malu tapi tetep kelihatan menarik, sunrise Papandayan!
Malu-malu tapi tetep kelihatan menarik, sunrise Papandayan!

Sehabis sarapan roti bakar plus telor dadar dan sosis, kita bersiap untuk summit attack! Diawali dengan streching yang dipandu gila sama Mas Popo, pendakian menuju puncak ini kami mulai. Trek hutan khas pegunungan menyambut kami. Kemudian dilanjut dengan trek terjal bebatuan yang membuat kami harus benar-benar hati-hati dalam mendakinya. Beruntung banget karena carrier kami nanti akan dibawakan tim IGR ke hutan mati. Jadi selama menuju puncak, kami ga perlu repot membawa beban berat. Enaknya. Dan, inilah puncak Papandayan, dikelilingi pepohonan cantigi yang indah. Dari atas terlihat jelas Pondok Saladah tempat kami bermalam. Alam Indonesiaku, cantiknya dirimu!

Pemandangan Podok Saladah dari Puncak Papandayan
Pemandangan Podok Saladah dari Puncak Papandayan

Perjalanan kami lanjutkan menuju Tegal Alun. Trek mulai menurun dan cukup licin karena hujan semalam, kontras sekali dengan trek Pondok Saladah-Puncak Papandayan tadi. Beberapa menit kemudian, yang didepan kami hanyalah pohon-pohon kecil berwarna hijau, inilah padang edelweiss-nya Papandayan, Tegal Alun. Impianku satu lagi tercapai, berfoto ria ditengah-tengah pohon edelweiss, memegangnya secara langsung, dan mengabadikannya lewat kameraku. Di tengah-tengah padang edelweiss terdapat kubangan air seperti danau yang langsung membawa pikiranku ke Ranu Kumbolo. Sebutlah danau kecil ini sebagai Ranu Kumbolo-nya Papandayan. Cantik sekali ya Allah.

Bunga edelweiss, tetaplah abadi...
Bunga edelweiss, tetaplah abadi…
Mini version of Ranu Kumbolo
Mini version of Ranu Kumbolo

Spot berikutnya yang akan kami kunjungi adalah Hutan Mati. Menurut cerita, hutan cantigi ini dulu sempat gersang dan terbakar. Sehingga yang tersisa tinggalah batang-batangnya saja yang amat kokoh dan kuat. Herannya, meskipun hanya batang pohon berwarna hitam di atas tanah kapur yang tandus, penampakan alam ini tetap sangat cantik. Subhanallah. Bermain hitam putih menjadi andalah para pembidik gambar. Mistis, namun tetap eksotis. Itulah Hutan Mati. Sayangnya, belum puas kami jepret sana sini, kabut kembali turun, dan hujaaannn! Untungnya kami sudah akan sampai ke bivak yang telah didirikan oleh tim IGR. Berteduhlah kami disana menunggu hujan berhenti sebelum kami turun menuju Camp David.

Hitam putih di Hutan Mati
Hitam putih di Hutan Mati

Begitu hujan sudah sedikit reda, kami langsung bergegas turun. Masih ditemani gerimis kecil, kami setapak demi setapak menyusuri tanah kapur yang berbatu dan licin. Bahu membahu kami saling membantu antar teman agar tetap aman dalam menuruni trek ini.

Alhamdulillah, sampailah kami di Camp David. Semua peserta tampak senang dan puas. Para mimin memberikan ucapan selamatnya pada kami karena telah berhasil sampai puncak dan kembali turun ke bawah dengan selamat. Rasa bahagia ini, khususnya bagi aku pribadi, sama sekali ga bisa terungkap. Pengalaman pertama naik gunung yang tiada pernah akan aku lupakan, apalagi bersama teman-teman Indonesian Mountains. Terima kasih ya Allah, kuucapkan syukur atas kesempatan untuk melihat lukisan bumi-Mu yang lain. Sesampainya di Masjid Cisurupan, masih ada bonus untukku. Pelangi senja di atas langit Cikuray. Indaaaahhh sekaliii.

Habis badai, terbitlah pelangi.
Habis badai, terbitlah pelangi.
Peserta dan para mimin #Tegal Alun, Papandayan
Peserta dan para mimin #Tegal Alun, Papandayan
Advertisements

22 thoughts on “Pendakian ke Papandayan bersama Indonesian Mountains”

  1. Mas Haekal: mantap tuh mas, coach-nya mas Haekal yah 😀
    Mas Widi: boleh boleh tuh, biar web-nya IM tambah berisi dengan sharing pengalaman pendakian teman-teman ^_^

      1. hehe, mungkin begitu 😀 kak, kalau mau ngetrip lagi, ajak2 ya, saya lg nyari temen backpacking. agak susah nyari temen perempuan yg mau ‘ke luar rumah’
        kakak punya twitter?

      2. selama ini lg ‘terngiang’ ke sumatera, tapi ke manapun sebenernya ga masalah bagi saya. wuih keren, kakak mau ke sana rencananya kapan?

  2. hehe, samaan kak, harus nunggu waktu liburan dulu T_T
    yah, saya ga punya keduanya kak -.-‘ , alternatifnya, saya biasa muncul di twitter atau fb. saya sudah add fb kakak

    1. sudah pernah kesana atau belom mas? kalau belom wajib kesana weekend ini ya, soalnya edelweiss-nya pas lagi gemuk-gemuknya dan warnanya lagi kuning banget kaya pop corn 😀

  3. waa,, ga sengaja lagi searching2 photo pendakian malah ketemu gallery nya ‘Nta,, beuuhh aseekk…
    kapan ya bisa nyusul.. mupeng >,<

    1. Ini mba Asri ya? Aduh mba, harus itu naik gunung…
      Kapan yuk kita kemana mba…. Lawu atau Merbabu yuk..
      Eh tapi mba Asri kan belum pernah naik gunung ya? Berarti kita ke gunung Ungaran aja.. Deket plus gunung pendek, cocok lah buat warming up.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s