Menjejakan Kaki di Tanah Tertinggi Jawa Tengah


Mungkin pendakian pertamaku memang Gunung Papandayan. Tapi sebenarnya rencana pendakian pertamaku adalah Gunung Slamet yang diadakan oleh salah satu suhu gunung Indonesia, Adi Setiadi Ranreng (Ase Adventure). Sejak kala pertama nyasar ke blog Ase dan ngebaca open trip ke Gunung Slamet, tanpa pikir panjang aku langsung mendaftarkan diri untuk ikut bergabung. Masih ada waktu sekitar 2 bulan untuk menyiapkan peralatan pendakian yang diperlukan.

Ternyata oh ternyata, Papandayan mendapat penghormatan sebagai gunung pertama yang aku daki, karena kebetulan jadwal pendakiannya lebih awal ketimbang pendakian ke Slamet. So, ketika hari pendakian Slamet tiba, semua peralatan pendakian sudah lengkap. Namun, latihan fisik sedikit terhambat, karena seturunnya dari Papandayan, paha dan betisku masih kemeng. Alhasil, kaki ga bisa diajak lari pagi. Hehehe…

Singkat cerita, hari pemberangkatan pun tiba. Kamis, 28 Maret 2013. Malam itu aku berangkat menuju terminal Purwokerto, meeting point kami. Lalu lintas lumayan lebih padat dari biasanya, karena kala itu bertepatan dengan long weekend. Alhamdulillah, setelah 12 jam perjalanan, aku pun tiba di Purwokerto. Karena masih pukul setengah 6 pagi, aku memutuskan untuk mandi dan sarapan dulu di rumah bulek di Purbalingga. Dengan dijemput sepupu, aku meluncur ke rumah bulek untuk silaturahmi, sekaligus numpang mandi dan sarapan.

Siang hari, Jumat, 29 Maret 2013

Peserta demi peserta sudah berkumpul di terminal Purwokerto. Tapi menjelang tengah hari, kami masih terdampar di sekitar masjid terminal menunggu datangnya mobil yang akan membawa kami ke Bambangan, base camp pendakian Slamet. Padahal perjalanan Purwokerto-Bambangan bisa memakan waktu 2 jam. Ketika mobil carteran sudah tiba, kami langsung cus ke Bambangan dan tiba di sana sekitar pukul 2 siang.

Setibanya di Bambangan, beristirahat sejenak di rumah Mas Nur (kenalan Ase)
Setibanya di Bambangan, beristirahat sejenak di rumah Mas Nur (kenalan Ase)

Sesampainya di base camp, aku menyempatkan diri berkunjung ke rumah bulek aku yang lain, yang kebetulan rumahnya dekat sekali dengan base camp. Setelah ngobrol sebentar di rumah bulek, sekalian ikut solat dhuhur dan ashar, aku pun kembali ke base camp untuk repacking dan makan siang. Namun, cukup disayangkan, ketika kami telah bersiap memulai pendakian, tiba-tiba hujan deras turun. Alhasil, kami baru beranjak mendaki sekitar pukul setengah 5 sore, itupun dengan kondisi masih gerimis, sehingga semua peserta mendaki berbusana rain coat.

Kami sampai di pos 1 sekitar pukul setengah 7 malam. Sebelumnya Ase mengatakan kalau malam itu target kami adalah pos 3. Namun, sepertinya kondisi untuk mendaki lagi sudah tidak memungkinkan. Akhirnya malam itu kami mendirikan tenda untuk menginap. Suasana malam di pos 1 dengan pemandangan lampu-lampu rumah penduduk di bawah sana membuat hati ini adem banget. Bener-bener aku udah jatuh cinta sama gunung!

Subuh, Sabtu, 30 Maret 2013

Bela-belain bawa tripod dari Jakarta, aku pun ga mau melewatkan sunrise dari pos 1. Udara dingin subuh memaksaku untuk keluar dari sleeping bag. Melihat ke arah timur yang lumayan mendung, dan jepret! Tertutup awan namun tetap cantik. Inilah yang aku suka, sunrise dari spot yang berbeda, dan menambah koleksi foto sunrise-ku, sekali lagi.

Matahari pagi dari Pos 1
Matahari pagi dari Pos 1
Perbukitan yang indah ini dapat dilihat dari Pos 1
Perbukitan yang indah ini dapat dilihat dari Pos 1

Tepat pukul 8 pagi, kami beranjak dari pos 1 menuju pos 5, pos tempat kami menginap malam nanti. Dari awal pendakian, trek Gunung Slamet terbilang sulit. Jalurnya terus menanjak tanpa ada tanah datar. Kemiringan trek bisa mencapai 60 derajat. Trek tanah basah akan sangat berbahaya jika hujan turun, karena pasti akan sangat licin. Dan benar saja, di tengah perjalanan menuju pos 4, hujan pun mengguyur kami. Beberapa teman satu rombongan telah lebih dulu mendaki. Yang tersisa saat ini tinggal aku, Ase, Ika, Eva, Pram, Raymond, dan Achit. Baiklah, saatnya membentangkan flysheet dan bersiap bikin makan siang. Yup, apapun menu makanan dan entah bagaimana cara membuatnya, semua akan terasa sangat nikmat jika disantap di atas gunung. Duh, makin cinta deh sama kamu…

Makan siang kami di pos 4 ditemani gerimis romantis
Makan siang kami di pos 4 ditemani gerimis romantis

Pendakian dilanjutkan menuju pos 5, dan kami pun tiba sekitar pukul setengah 5 sore. Alhamdulillah, pos 5 sudah menyediakan tempat datar bagi kami mendirikan tenda sore itu. Letaknya berdekatan dengan jalur menuju mata air. Sebagai informasi, kalau di Gunung Slamet itu miskin air. Mata air cuma ada di pos 5 saja. So, bijaklah menggunakan air saat mendaki Gunung Slamet ya, hehehe…

Berhubung malam itu posisi kami masih di pos 5, Ase memberi instruksi kalau summit attack kami besok pagi dimulai pukul 3 pagi. Wow! Perjalanan menuju puncak masih cukup panjang, sehingga pendakian esok hari harus lebih pagi agar sekembalinya ke base camp tidak kemalaman. Karena sudah letih seharian treking, aku pun memilih langsung tidur awal. Mengingat besok juga harus bangun lebih awal. Good night Mt.Slamet climbers, zzzzz…………. (-____-)

Dini hari, Minggu, 31 Maret 2013

Ase membangunkan kami. Masih pukul jam 12 malam. Ternyata dia mengajak kami untuk late dinner. Ditemani udara dingin khas gunung, kami pun bersama-sama menyiapkan makan malam kami. Suasana menjadi hangat dengan tertawaan, bercandaan, celotehan kami malam itu. Sangat akrab! Padahal seperti trip-trip sebelumnya, kami belum saling mengenal satu sama lain. Alam dan perjalanan yang membuat kami akrab, dekat, dan bersahabat. Duh, puitis amat yak! Hahaha…

Teng, jam 3 pagi. Summit attack dimulai. Perbekalan kami tinggal di tenda. Pendakian malam yang cukup menyenangkan karena tidak perlu membawa beban berat. Trek yang harus kami lalui masih sama, menanjak, tanah basah, tidak ada tanah datar kecuali secuil. Sekitar pukul jam 5 pagi kami hampir sampai di batas Plawangan, batas daerah vegetasi dan non vegetasi. Kami memutuskan untuk berhenti sejenak menunggu dan menikmati datangnya matahari pagi ke dua kami di Slamet. Ya Allah, bener-bener deh, feel-nya dapet banget! Nuansa alam pegunungan di pagi hari yang dingin. Ngangenin banget! Dari tanah ini, tak berhenti aku berdecak kagum melihat si kembar Sindoro Sumbing, very clearly!

Cakrawala pagi dari atas Slamet
Cakrawala pagi dari atas Slamet
Persahabatan bagai kepompong
Persahabatan bagai kepompong

Puas mengabadikan momen indah itu, kami melanjutkan pendakian. Dari Plawangan, vegetasi hutan berubah menjadi bebatuan vulkanis khas Gunung Slamet. Trek yang masih terus menanjak dengan kemiringan 50-60 derajat membuatku semakin sulit untuk melangkah. Terpaksa pendakianku harus dipapah oleh mas Raymond. Kalo enggak, ga bakal sampe-sampe ke puncak.

Dan selangkah lagi…… Yeay! Alhamdulillah, aku berhasil menjejakan kaki di tanah tertinggi Jawa Tengah! Di atas ketinggian 3428 mdpl aku mengibarkan spanduk “Fame On Slamet 3428 mdpl”. Bangga banget sumpah bisa berdiri di tempat setinggi ini, karena ga semua orang bisa mencapai tanah ini, dengan kedua kaki sendiri! Di kejauhan terlihat Sindoro Sumbing terdiam dengan cantiknya. Salah satu pemandangan impian yang ingin kulihat, dan hari itu akhirnya mampu aku lihat. Subhanallah… Perjalanan kami lanjutkan menuju bibir kawah Slamet. Dari arah barat, di kejauhan aku melihat semburat gunung yang kata Ase itu adalah Gunung Ciremai. Lukisan alam-Nya yang ga akan pernah habis untuk dilihat. Aaaaaaaa…

Puncak Surono - Gn.Slamet 3428 mdpl
Puncak Surono – Gn.Slamet 3428 mdpl

Jam 8 pagi itu, kabut mulai mendatangi puncak Slamet. Kami pun beranjak turun agar tidak terlambat tiba di base camp. Sayang, sesampainya di pos 5, kakiku sudah kehabisan tenaga. Telapak kaki mulai sakit untuk menapak. Benar saja, perjalanan turun ke base camp menjadi sedikit terhambat karena aku lagi-lagi harus ditatih. Ujung jempol rasanya udah ga karuan, senut-senut. Perjalanan tambah terhambat ketika hujan tiba-tiba turun deras mengguyur kami sekitar setengah 3 sore. Padahal saat itu kami masih dalam perjalanan dari pos 3 ke pos 2. Dalam derasnya hujan, kami tetap melanjutkan perjalanan. Namun, kakiku rasanya sudah tidak mau diajak kompromi. Alhasil, beban carrier aku lepas dan dibantu dibawakan oleh pendaki dari rombongan lain sampai pos 1.

Sesampainya di pos 1, kami berlima (padahal semula jumlah rombongan kami ada 22 orang), memutuskan menghangatkan diri sebentar dan mengisi perut. Lumayan, telapak kaki ini bisa bernapas sejenak. Sekitar pukul setengah 8 malam, kami pun beranjak lagi menuju base camp. Dan tepat pukul 9 malam, kami sampai di base camp dengan Slamet (baca: selamat). Kepuasan mencapai puncak hari itu bersama teman-teman terkasih bertambah dengan melihat ke dua orang tuaku yang secara diam-diam ternyata telah datang menjemputku, bahkan telah menunggu dari pukul 2 siang! Ya Allah, bahagianya aku…

Kisah pendakian yang kutulis di atas hanyalah sedikit cerita selama pendakianku ke puncak Slamet. Selebihnya akan aku bagikan kepada anak cucuku kelak. Intinya bahwa puncak itu hanyalah bonus. Pendakian itu lebih kepada perjalanan, persahabatan, dan bagaimana kita dengan bijak menikmati alam yang Tuhan sediakan untuk kita. Itu.

More photos click here

Advertisements

5 thoughts on “Menjejakan Kaki di Tanah Tertinggi Jawa Tengah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s