A Memorable Ascent of Semeru: Kali Pertama “Gagal” Muncak


Saat saya pertama kali baca posting-an milik Ase Adventure tentang pendakian ke puncak para dewa yang diadakan dua kali, yaitu bulan Mei dan Juni, kegalauan kembali hadir berputar-putar di kepala saya. Galau, ikutan engga ikutan engga, secara ada hari kejepit yang sebenarnya belum tentu hari itu akan jadi hari cuti bersama. Tapi niat dan passion untuk bisa menjejakan kaki di tanah tertinggi Jawa sudah tertancap sejak tahun lalu. Tadinya saya ingin kesana setelah menikah, bareng sama suami saya. Tapi sepertinya open trip Ase itu sudah benar-benar meracuni otak saya. Dan anyway, ini adalah pendakian ke tiga saya bareng Ase Adventure, bosen! Wkwkwk…

Akhirnya setelah bbm-an dan telfon sama mas pacar, saya memutuskan ikut pendakian ini, June for Semeru! Yeay!

Februari, mendaftar pendakian Semeru ke Ase. Maret, summit ke Papandayan dan Slamet #ehh. April, summit ke Gede #loh. Mei, stay di rumah, soalnya ga dapet ijin naik ke Pangrango, hikss. Mei, dilamar sama mas pacar #lha kok curhat? Juni, tim pendakian Semeru saya namanya “Tegal Alun”. Ayok kita berangkat!

Rabu, 5 Juni 2013. Persis seperti cerita di novel 5cm-nya Donny Dhirgantoro, kita berangkat dan pulang naik Matarmaja. Tapi ada kenaikan tarif kereta Matarmaja saat kita pulang. Tiket Matarmaja untuk tanggal 9 Juni 2013 dinaikan dari Rp 51,000 menjadi Rp 130,000. Lumayan menguras kantong juga, hehehe..

Matarmaja jejes jejes nguunngg ~~~
Matarmaja jejes jejes nguunngg ~~~

Perlahan, Matarmaja membawa kita semua menuju kota Malang. Cami yang tinggal di Semarang, naik dari stasiun Poncol sekitar pukul 10 malam. Ah, akhirnya saya bisa membawa kamu mendaki gunung sayang #cueile. Tapi ada sedikit kabar buruk dari cami. Kaki dia lecet! Gara-gara hari sebelumnya dia main futsal ga pake sepatu. Duh, sedikit takut juga, kalau-kalau dia ga kuat jalan jauh.

Kamis, 6 Juni 2013. Kota Malang, apa kabar? Kita berjumpa lagi ya, hehe.. Dari stasiun Malang, kita langsung beranjak ke Tumpang dengan angkot yang telah disewa oleh Ase. Perjalanan sekitar setengah jam. Sampai di Tumpang, keril-keril kita langsung diangkut ke jeep yang akan membawa kita ke Ranupani. Perjalanan ke Ranupani sekitar 2 jam. Pengalaman baru lagi bro, apalagi di tengah jalan, ban jeep kita sempet bocor. Saat sudah mulai masuk ke kawasan Bromo, kita disuguhkan pemandangan savana berbukit-bukit yang cantik sekali. Persis yang ada di film 5cm. Indah banget!

Setelah solat Dhuhur dan Ashar yang dijamak, perjalanan dilanjutkan dengan kaki menuju Ranu Kumbolo. Kalau kata Dhonny sih yang kita perluin cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya. Dan kita, tim Tegal Alun, berangkaaatt!

Inilah kali pertama nanjak sama cami dan ini pertama kalinya cami nanjak, huhu.. Semua gears yang dia pakai adalah hasil pinjaman, soalnya cami sama sekali ga punya peralatan pendakian. Bahkan di menit-menit terakhir sebelum kereta Matarmaja sampai di Semarang, cami baru selesai packing! Fiuh. Thanks to bang Raymond untuk bantuannya 🙂

Biarpun ngos-ngosan, eksis mah tetep wajib!
Biarpun ngos-ngosan, eksis mah tetep wajib!

Jadi, ga terelakan kalo cami agak ngos-ngosan dan beban di pundak kayanya kerasa berat banget. Saya selalu mencoba kasih semangat ke dia, apalagi teringat kaki dia yang lecet itu. Pertama kali mendaki apalagi ke Semeru itu pasti bakal berat banget. Tapi saat itu saya tetap optimis bisa membawa dia sampai di puncak Mahameru!

Ternyata belum tiba di pos 1, hujan sudah mulai turun. Gawatnya, keril cami ga ada cover bag-nya -_- Alhasil, jas hujan bagian atas dipakai untuk nutupin keril, dan cami cuma pakai bawahan jas hujan dan payung. Hujan yang ga kunjung berhenti, keril yang rasanya bertambah berat, plus udara yang sepertinya makin lama makin dingin, membuat saya pengen buruan sampai Ranu Kumbolo, masuk ke dalam sleeping bag, dan tidur! Tapi perjalanan sore menjelang malam itu terasa lamaaa banget. Trek menjadi sangat becek, ketika malam sudah tiba, jalanan jadi sangat gelap, tambah lama nyampe Ranu Kumbolo-nyaaaa T_T

Ketika Windy ngasih tau saya kalo bayangan danau udah mulai kelihatan, wah seneng dan lega banget rasanya. Karena badan saya bener-bener udah menggigil. Baju dan kerudung saya totally wet. Cami juga sepertinya udah kelelahan dan kedinginan. Tapi saya bersyukur karena dia ga banyak mengeluh selama perjalanan.

Sesampainya di camp area Ranu Kumbolo, teman-teman cowo segera mendirikan tenda. Beberapa teman yang lain ada yang masak air dan mie instant. Cuaca bener-bener dingin malam itu, dan cami mulai menggigil, mulai mengeluh kedinginan sekali. Saya dan Windy akhirnya pinjam tenda teman dari tim lain untuk ganti baju, karena tenda milik tim kita belum selesai didirikan. Sebagian dari tim kita sudah ada yang membuat tenda terlebih dahulu, namun lokasinya agak jauh dari camp area rombongan Ase.

Malam itu saya langsung nyungslep di dalam sleeping bag. Bahkan saya ga sempat ke tenda cami untuk say good night (maaf ya). Dan ternyata malam itu cami ga bisa bobok lantaran saking dinginnya Ranu Kumbolo.

Jumat, 7 Juni 2013. Tsaahh, apa saya lagi mimpi? Pagi itu saya lagi berada di salah satu tempat impian saya. Korban film 5cm sepertinya memang penasaran dengan lokasi syuting film tersebut. Alhasil Ranu Kumbolo seperti kampung! Bedol desa! Ramenya bukan main ~~~ Ketika saya ke tenda cami, x_x duh cami masih kedinginan. Dia ngeluh bukan main dan bahkan bilang kalo mau balik aja ke Ranupani. Saya tetep mbujuk dia untuk tetap stay, nunggu saya di Ranu Kumbolo, sementara saya tetap akan summit malam nanti. Tapi cami tetap menolak. Kaki dia yang lecet juga sepertinya ga bisa diajak kompromi. Dan dia kekeuh ingin balik ke Ranupani.

Mengantar teman-teman yang akan berangkat summit
Mengantar teman-teman yang akan berangkat summit

Yap, saya tahu keinginan saya begitu besar untuk bisa ke Mahameru. Bahkan perjuangan dan keputusan untuk akhirnya ikut pendakian ini adalah suatu proses yang ga mudah! Dan dalam beberapa menit saja saya harus mengambil keputusan yang sangat tepat dan bijak: mengikuti ego dan ambisi untuk tetap summit bersama teman-teman tapi harus tega meninggalkan cami sendirian di Ranu Kumbolo bahkan mungkin cami bisa saja nekad pulang sendiri ke Ranupani, atau tetap stay di Ranu Kumbolo untuk menemani cami dan beberapa anggota Tegal Alun lainnya yang ga summit tapi risikonya impian saya untuk bisa summit ke Mahameru hari itu harus GAGAL. Fuh, saya ga mau egois! Puncak ga akan lari, justru cami yang bisa saja lari meninggalkan saya karena saya EGOIS. Akhirnya dengan nada tenang, saya bilang ke cami, “Aku ga ikut muncak, aku disini nemenin ayang yah, tapi ayang disini aja, ga usah balik ke Ranupani dulu. Kita tunggu temen-temen yang muncak sampai mereka balik lagi kesini. Baru kita besok balik bareng-bareng ke Ranupani.” Dan seketika cami menghentikan kegiatan packing-nya. Saya bisa melihat kelegaan dan kebahagiaan dari sorot mata dan raut wajah dia, Tapi setelah itu saya bilang, “Tapi lain waktu kita kesini lagi yah, aku masih pengen muncak”. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum.

Hehehe Ranu Kumbolo lho ini :D
Hehehe Ranu Kumbolo lho ini 😀

Jadilah kami berlima stay di Ranu Kumbolo untuk menunggu teman-teman Tegal Alun yang memutuskan untuk summit. Eh ga taunya pas sore harinya saya kedatangan bulan. Duh, emang bener keputusanku untuk tetep stay di Ranu Kumbolo. Tahu sendiri gimana nyerinya saya kalau lagi haid. Ga kebayang kalo saya tetap melanjutkan pendakian, dengan atau tanpa cami, saya yakin pasti saya ga akan kuat, hehehe… Emang belom berjodoh sama Mahameru.

Sabtu, 8 Juni 2013. Pagi kedua di Ranu Kumbolo. Sebenarnya kami berencana untuk trekking ke Oro-oro Ombo kemarin sore. Namun, cuaca kurang bersahabat. Jadilah pagi ini kami berlima berjalan menyusuri tepi danau menuju Tanjakan Cinta, tanjakan terakhir sebelum sampai ke Oro-oro Ombo. Alhamdulillah, hari ini perut sudah ga begitu nyeri. Kalau sampai Oro-oro Ombo doang, insya Allah bisa!

Siapa yang tidak tahu mitos Tanjakan Cinta? Lagi-lagi saya akhirnya berhasil mencoba hal-hal yang selama ini hanya bisa saya bayangkan saja. Ternyata benar, capek banget lho menyusuri tanjakan ini, walaupun kalau dilihat dari bawah rasa-rasanya ga tinggi-tinggi amat. Ketika di perjalanan ke atas pun, badan dan mata rasanya selalu tergelitik untuk menengok ke belakang, padahal kalau menurut mitos, nengok ke arah belakang itu ga diperbolehkan kalau kita ingin kisah cinta kita ber-happy ending. Hahay.. Believe it or not ya!

Pemandangan kaya begini tuh selalu bikin kangeennnn T_T
Pemandangan kaya begini tuh selalu bikin kangeennnn T_T

Sesampainya di atas Tanjakan Cinta, trekking beberapa meter, dan wooowww Oro-oro Ombo terbentang luas di depan mata saya! Savana-nya Semeru. Satu lagi keindahan negeri ini teman. Hikss… Indah banget :’) Rasanya sedih banget sama orang-orang yang ga mau mencoba mendekat ke alam, padahal alam itu kawan kita sehari-hari. Tanaman khas Oro-oro Ombo yang orang-orang kira adalah lavender sedang mekar-mekarnya, sedang rimbun-rimbunnya, sedang ungu-ungunya! Waahh cocok banget deh buat spot foto-foto sama pasangan, ecieee cieee 😀

Kita melanjutkan trekking lagi menyeberangi Oro-oro Ombo. Sampailah kita di Cemoro Kandang. Di sini tumbuh banyak pohon cemara, makanya disebut Cemoro Kandang (analisis pribadi, hehehe). Sedikit nglirik-nglirik juga mata saya ke arah jalur pendakian ke Mahameru. Karena melewati hutan ini aja tuh kita udah sampai ke Kalimati lho. Bahkan kalo cuaca lagi cerah tanpa kabut, dari Oro-oro Ombo, puncak Mahameru udah terlihat jelas. Huaaa… Sabaarrr… Legowooo… Hehehe 😀

Sudah tengah hari, kita memutuskan kembali ke Ranu Kumbolo karena sepertinya mendung sudah kembali menggantung. Benar saja, bresss…. Hujan turun lagi. Untung saya dan cami sudah sampai shelter yang ada di Ranu Kumbolo, jadi bisa berteduh. Sedangkan tiga teman kita yang lain, Enti, Heri, dan Dudud, sudah ngacir duluan ke tenda.

Sore harinya, teman-teman yang berangkat summit mulai berdatangan pulang. Cuaca diluar masih gerimis romantis, semakin sore semakin dingin, semakin pengen bobok di dalem sleeping bag. Makan malam ala kadarnya pun menjadi pilihan kita. Windy sudah sangat kecapekan. Kakinya nyeri dan matanya udah ngantuk. Teman-teman yang lain juga sepertinya udah tepar. Malam itu, malam ketiga kita di Ranu Kumbolo. Ga berapa lama, kita pun tertidur pulas. Persiapan besok bangun pagi untuk packing dan kembali lagi ke Ranupani, mengejar jeep menuju Tumpang.

Minggu, 9 Juni 2013. Pagi terakhir kita di Ranu Kumbolo. Dari subuh kita sudah bangun dan bergegas packing seluruh perlengkapan kita. Teman-teman yang nge-camp-nya terpisah sudah menyiapkan sarapan, namun masih menyelesaikan packing-nya. Ga terasa ya, padahal baru kemaren kita sampai di sini, eh hari ini udah mau balik lagi ke Ranupani, celotehku dalam hati. Setelah dirasa cukup packing dan sarapannya, kita berdoa sejenak agar perjalanan pulang berjalan baik dan lancar. Eh ga ketinggalan, foto-foto dulu lah di Ranu Kumbolo. Yeah, full team of Tegal Alun :’)

Full team of Tegal Alun :’)
Full team of Tegal Alun :’)

Menjelang siang, kita sampai di Ranupani. Bergegas kita mencari jeep untuk kembali ke Tumpang, tapi karena sesuatu hal, kita ga dapet jeep. Sebagai ganti jeep, kita naik mobil bak terbuka menuju Tumpang.

Kenangan kembali terukir di memori tiap-tiap manusia yang ikut pendakian ini, termasuk saya. Senang itu pasti, lelah ga terpungkiri, sedih dan kecewa tentu ada. Tapi yang jelas, saya kembali mempunyai sahabat baru, keluarga baru, dan tempat baru untuk dirindukan mendatanginya lagi. Entah bagaimana saya melukiskan kecintaan saya pada alam yang telah memberi tempat bagi saya dan seluruh manusia untuk dapat hidup. Yang saya tahu, saya akan tetap ada untuk datang dan menceritakannya :’)

Memory of Mt.Semeru Summit, 6-9 June 2013

Lovely Indonesia ~~~ Be bright!

Advertisements

2 thoughts on “A Memorable Ascent of Semeru: Kali Pertama “Gagal” Muncak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s