Love in Papandayan


Menciptakan momen bersama orang terkasih adalah sebuah hal yang indah. Orang terkasih itu bisa keluarga, sahabat, teman, dan tentunya pasangan kita. Itulah yang sangat memotivasi saya untuk selalu merencanakan dan menciptakan banyak momen indah bersama mereka, melalui sebuah perjalanan tentunya.

Setelah sukses membawa cami ke Semeru bulan Juni yang lalu, saya lagi-lagi “nekat” mengajak cami untuk jalan-jalan ke gunung. Tapi kali ini tema naik gunungnya sedikit berbeda, unik, mungkin aneh untuk orang-orang awam, dan spesial, hehe.. Foto pre-wedding! Yap, saya dari awal udah minta persetujuan cami supaya foto pre-wedding-nya nanti harus di gunung. Ada kata “harus”, jadi kesannya emang agak maksa hehehe.. Tapi kapan lagi coba, menciptakan momen indah dan unik sama pasangan di tempat yang ga biasa orang pikirkan dan lakukan? Awalnya lokasi gunung yang saya usulkan ke cami adalah Pangrango. Alasannya, saya penasaran banget sama kesunyiannya Mandalawangi. Tapi sayangnya, mendekati hari H (31 Agustus – 1 September 2013), saya baru dapet info kalau selama bulan Agustus pendakian ke TNGGP ditutup untuk alasan rehabilitasi dan recovery hutan. Ngoookk… Pihak TNGGP tidak mau memberi kebijakan, karena sebenernya kan pendakian kami antara Agustus dan September tuh.

Zzzz baiklah, sepertinya memang harus pindah lokasi. Pilihan kedua diambil, Papandayan. Kalau melihat sisi kecantikan gunungnya sih sebenarnya Papandayan menang telak di banding Pangrango. Secara saya udah pernah kesana dan keindahan tiap bonusnya emang yahud banget. Tapi, berhubung saya belum pernah ke Pangrango dan sangat penasaran dengan Mandalawangi-nya, pilihan pertama tetap ke Pangrango. Eh ga taunya tanggal pendakiannya yang ga match. Berarti memang jodohnya sama Papandayan 😀

Jumat, 30 Agustus 2013

Sempet kuatir juga karena udah sejak balik dari mudik lebaran badan saya rasanya kurang sehat terus. Yang batuk lah, yang demam, flu, meriang, pusing… Zzzzz… Tapi syukur alhamdulillah Allah Maha Baik, menjelang keberangkatan kondisi badan sudah membaik, walaupun masih agak batuk-batuk dikit.

Rombongan kami ada 11 orang, tapi ga semuanya berangkat dari Jakarta. Cami jelas berangkat dari Semarang, naik kereta Harina ke arah Bandung dulu, baru habis itu lanjut ke Garut. Nanda (fotografer utama) dan Delly (pasangan) berangkat dari Bandung, soalnya Nanda mau jemput si Delly dulu. Jadilah kita berdelapan berangkat dari terminal Kampung Rambutan, naik bis jam 11.45 malem! So sleepy………. :O

Sabtu, 31 Agustus 2013

Terminal Guntur Garut, pukul 04.00 pagi. Cepet banget perjalanannya yak. Kami pun langsung mencari tempat pewe untuk beristirahat, sembari menunggu Nanda, Delly, dan cami. Saya memilih menuju masjid untuk menunggu adzan subuh biar bisa sekalian sholat. Ternyata di masjid sudah banyak para pendaki lain yang numpang istirahat di teras masjid. Sebentar kemudian, adzan subuh berkumandang. Setelah solat subuh ditunaikan, kami ngobrol-ngobrol sebentar dengan para pendaki lain.

Karena kami belum menyiapkan bekal logistik, akhirnya rombongan dipecah lagi. Ika, Hendro, dan Manay (kalo ga salah) memutuskan terlebih dahulu berangkat ke Cisurupan untuk membeli logistik dan mendaki duluan agar bisa mendirikan tenda dan memasak. Saya dan beberapa rombongan yang lain tetap stay di warung sekitar masjid untuk menunggu Nanda, Delly, dan cami. Awalnya saya cuma minta tolong Nanda buat motoin saya sama cami. Eh ga taunya ada dua fotografer lagi, Akbar dan Sandy, yang katanya mau ikutan jeprat-jepret saya. Alhamdulillah ^_^

Nanda dan Delly muncul sekitar jam 7, dan cami muncul sekitar jam 9. Lumayan siang juga hehehe… Bis dari Bandungnya agak lelet kata cami. Akhirnya kami berdelapan (saya, cami, Nanda, Delly, Nur, Sari, Akbar, dan Sandy) meluncur menuju ke Cisurupan, lanjut ke Camp David (base camp Papandayan). Sampai di Camp David sekitar pukul 11 siang. Alhamdulillah, cuaca sangat bersahabat hari itu. Di mulai dari Camp David, sesi pemotretan pun dimulai, hihihi maluuuu 😀

IMG_3419 (1)
Perjalanan ke Pondok Saladah lewat Hutan Mati

Lokasi dan scene pemotretan pada akhirnya mengalir begitu saja, padahal awalnya udah sempet dikonsep mau kaya gimana-gimananya. Walaupun ga semua scene sesuai konsep bisa terealisasi (halah), tapi hasilnya tetap ga mengecewakan! Yahud lah! 😀

Sesampainya di Pondok Saladah melalui jalur Hutan mati, kami langsung menyantap masakan koki Ika (tapi nunggu agak lama bentar deng, soalnya masakannya belom mateng, padahal udah jam 2 siang). Setelahnya kami istirahat dulu, solat, tidur-tiduran, nyemil. Sore harinya kami hunting foto lagi di sekitar tebing dekat Pondok Saladah, tapi sayang udah mulai kabut. View-nya jadi kurang oke. Akhirnya menjelang magrib, kami cuma bermain strobist sebentar dan malamnya iseng-iseng mainan bulb 😀

Minggu, 1 September 2013

Hari ini sesi kedua pemotretan. Tapi pagi ini Akbar dan Sandy ga ikutan poto-poto, soalnya semaleman sepertinya mereka begadang! Halah halah… Jadilah kami berlima (saya, cami, Nur, Delly, dan Nanda) berangkat ke TKP. Lokasi kami hari ini adalah Hutan Mati dan Tegal Alun. Cuacanya berkabut dan sedikit mendung. Tapi alhamdulillah tidak hujan. Yang ada siang harinya justru terik banget. Kondisi yang berkabut ini cukup mendukung scene foto waktu di Hutan Mati. Kesan mistisnya jadi tambah dapet hehehe.. Edelweiss yang lagi kuning-kuningnya di Tegal Alun bikin pengen terus di sana awawawa 😀

IMG_3509 (1)
Pencarian lokasi hunting poto 😀

Kami kembali ke Pondok Saladah sekitar jam 12an siang. Seperti biasa, kami langsung menyerbu makanan yang udah dimasak koki Ika hehe.. Ternyata cuma difoto aja kok ya capek ya rasanya? Apa karena kami harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh dengan berjalan kaki? Tapi rasanya seneng walaupun capek. Cuma tetep aja rasanya kurang puuuaassss >,<

Sekitar jam 2 siang, kami bersiap kembali ke Camp David. Cami secara resmi menutup acara pendakian dan pemotretan hari ini. Ucapan terima kasih yang paling dalam cami sampaikan untuk teman-teman semua. Huaaa udah mau pulang aja sih T_T

Singkat cerita, kami tiba di terminal Guntur sekitar jam setengah 8 malam. Di sini kami berpencar lagi. Nanda dan Delly langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Saya, cami, Nur, dan Sari langsung mencari bis menuju Jakarta. Sedangkan sisanya sepertinya stay sebentar di terminal untuk bersih-bersih badan dan mengisi perut.

1237218_3260941058546_542302360_o
Salam cinta dari Papandayan

Yap, pada akhirnya tetap ada perpisahan jika sebelumnya ada pertemuan. Tapi diantara pertemuan dan perpisahan itu akan selalu ada sebuah cerita untuk dibagi, akan selalu ada kenangan untuk diingat kembali, dan kisah yang tidak akan pernah kami lupa. Terima kasih Papandayan, para sahabat, dan teman untuk perjalanan indah kali ini. Saya dan cami sangat bahagia ^_^

Advertisements

10 thoughts on “Love in Papandayan”

    1. Waktu itu sih saya enggak mas, soalnya ga bawa fotografer profesional. Peralatan juga seadanya, jadi pas naik ga keliatan kalo mau foto prewed. Taunya ya mau naik gunung biasa. Hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s