Saya Seorang Perantau


Terdengar suara seorang pengamen di bagian paling depan bus Murni Jaya, bus jurusan Jakarta-Yogyakarta yang kali ini akan membawa saya pulang kembali ke kota kelahiran saya, Cilacap. Inilah rutinitas saya semenjak beberapa tahun lalu, hidup di negeri orang (mungkin lebih tepatnya di kota orang) dan rutin pulang kampung untuk beberapa minggu sekali. Dulu saya kuliah di Semarang. Selama empat tahun (2007-2011) saya menjadi pelanggan setia bus Sumber Alam, satu-satunya bus yang melayani rute Cilacap-Semarang PP saat itu. Tarifnya sangat cocok di kantong saya. Jadwal keberangkatan dan kedatangannya pun tepat waktu. Namun beberapa kali saya sempat merasakan kurang nyamannya armada yang digunakan untuk membawa penumpang-penumpangnya. Pernah saya dan para penumpang yang lain diminta untuk berganti bus lantaran bus yang kami gunakan sebelumnya mengalami kerusakan. Pernah juga bus yang saya gunakan mogok hingga mengeluarkan asap di bagian depan dekat dengan kursi supir. Tidak ada yang dapat saya lakukan selain tetap setia pada Sumber Alam karena alasan tadi, tidak ada trayek bus yang melayani rute Cilacap-Semarang PP kala itu.

Rutinitas pulang kampung masih menjadi kegiatan saya hingga hari ini. Namun kali ini saya tidak lagi hidup di Semarang, melainkan di kota yang sering menjadi tujuan orang-orang untuk mengadu nasib. Apalagi kalau bukan Jakarta. Ya, tempat yang sebelumnya tidak pernah terpikirpun untuk saya tinggal di sana. Bahkan saat itu saya membatin dalam hati tidak akan mau hidup di lingkungannya. Tapi kenyataannya saat ini saya justru sudah dua tahun lamanya menetap di kota metropolitan ini. Berpacu dalam kemacetan dan berteman dengan polusi, kebisingan serta teman-temannya itu sudah menjadi hal biasa bagi saya. Ya, Jakarta. Semakin tahun akan semakin ramai oleh para pendatang.

Si pengamen sudah selesai membawakan lagu berbahasa “jowo” itu, kemudian dia berjalan ke belakang sambil mengedarkan topi miliknya, tempat menaruh koin-koin dari para penumpang bus. Saya pun meletakkan selembar uang lima ribuan.

Lagi-lagi saya merasakan syukur yang mendalam dalam rutinitas perjalanan saya. Menjadi seorang perantau seperti ini memberikan saya banyak cerita dan pengalaman. Mereka yang hanya setia pada tanah kelahirannya, mereka yang tidak mau berkelana, tidak akan bisa merasakan was-was ketinggalan bus, berdesak-desakan antri di pintu masuk stasiun, gelisah menunggu taksi yang akan membawa ke bandara, ngobrol ngalor-ngidul dengan orang yang baru dikenal, Β membeli tiket pesawat dan kereta untuk jadwal perjalanan dua bulan ke depan, ya sejenis-jenis itulah. Dari hal-hal itulah saya mendapat banyak cerita yang mungkin tidak akan saya dapat jika saya tidak mau merantau.

Kadang saya merasa geli sendiri dengan reaksi atau sikap keluarga dan beberapa kawan saya yang notabene mereka mungkin jarang melakukan perjalanan jauh. Mereka kadang memberikan komentar yang bagi saya terlalu membesar-besarkan. Mereka sering kali bilang: “Emang ga cape? Kok berani sih? Hah, naik kereta ekonomi?” Dan jujur saya sering risih dengan mereka yang terlalu mengkhawatirkan saya. Saya tahu mereka hanya takut terjadi apa-apa dengan saya. Tapi bagi saya akan jauh lebih baik untuk mendoakan dan mengucapkan “titi dj” ketimbang terlalu khawatir dengan perjalanan yang akan saya lakukan.

Ya, saran saya sih rajin-rajinlah berkelana, lakukan sebanyak mungkin perjalanan, merantaulah ke kota atau negara tetangga. Maka kamu akan mendapatkan sesuatu yang tidak akan bisa didapat dengan hanya berdiam diri di dalam rumah.

Jakarta 20.12.13 | 08.16 PM | on my home way

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s