Ke Malang Aku Kembali Lagi


Duluuu banget masih suka kebayang-bayang dan kemimpi-mimpi bisa berkunjung ke Malang. Pertama, karena ingin ke Bromo. Kedua, karena ingin ke Batu. Ketiga, karena memang belum pernah ke Malang, hihihi.. Makanya dua tahun yang lalu waktu musyawarah nentuin lokasi Reuni Paguyuban Keluarga Besar Esthi Waluyo, aku semangat banget ngusulin kalo reuninya diadain di Malang aja. Ga taunya, dua tahun kemudian statusku sudah berubah menjadi “udah pernah ke Bromo”; “udah pernah ke Batu”; bahkan “udah pernah ke Semeru”. Yak, tapi karena lokasi reuni tahun ini sudah diputuskan di Malang, so awal tahun ini ke Malang lagi lah sayaaa 😀

Sedih banget deh, keluarga yang lain pada naik pesawat dari Jakarta. Sedangkan aku? Karena misua masih stay di Kudus, jadilah kita naik Gumarang, biar berangkat dan pulangnya bisa bareng. Sebenernya ga jadi sedih banget juga sih walaupun ga naik pesawat, jadinya kan kita bisa “ngeteng” berdua. Itung-itung mengobati rindu karena sudah lama ga backpacker-an. Cihuy!

Karena naik Gumarang, tentunya kita ga langsung turun di Malang, melainkan di stasiun Pasar Turi, Surabaya. Kereta yang langsung ke Malang dan lewat utara kan cuma Matarmaja ya kalo ga salah, jadinya ya kita agak menghindari pakai kereta itu. Peningkatan dikit lah, kata misua. Masa mau pake ekonomi terus, hihihi 😀

Sampai di Pasar Turi, langit masih gelap walaupun adzan subuh udah berkumandang. Misua bergegas sholat, sedangkan aku menunggu di depan mushola. Hei, kita ga ada persiapan apa-apa lho soal ngeteng ini. Maksudnya, kita ga banyak browsing atau nanya-nanya ke temen-temen tentang transport yang harus kita naikin dari Turi ke Batu. Semua serba spontan! Rencana awal sih di Surabaya kita mau nyempetin wiskul dulu, pengen nyobain rawon setan yang kata tante ada di depan JW Marriot. Yuummm… Tapi melihat matahari yang belum juga nongol, masa iya kita harus nunggu sampai jam 10 di sini? Sedangkan perjalanan ke Batu juga masih lumayan lama. Padahal menurut info dari panitia reuni, sebelum jam dua siang peserta diharapkan sudah berkumpul di Roemah YWI, lokasi reuni kita. Yasudah, kata misua kita langsung cus ke terminal Bungurasih aja, menghemat waktu, biaya, dan tenaga juga kan jadinya 😀

Hampir aja tuh kita “keblondrok” gegara mau pakai taksi blue bird ke Bungurasih. Ga taunya jarak antara Turi-Bungur tuh jauuuuhhh. Untung aja mulut kita mau nanya ke tukang Alfamart dan bapak-bapak penjaga warung depan stasiun Turi. Kalau engga, habislah uang kita cuma buat bayar taksi doang.

Catatan: Kalo mau ke terminal Bungur, dari pintu keluar stasiun Turi, kalian belok ke kiri. Jalan kaki sekitar 100 meter, ada pertigaan. Kalian belok ke kiri sedikit dan tunggulah bis ke arah Bungur disitu. Bayarnya cuma lima ribu perak. Bandingkan dengan berpuluh-puluh ribu rupiah kalo kita naik taksi. Ga maoooo!

Murah dan nyaman
Murah dan nyaman

Ga perlu khawatir kalo udah sampe terminal Bungurasih. Papan petunjuk di sana sangat jelas dan ga perlu bikin kita nanya-nanya ke orang. Apalagi bus-bus ke arah Malang itu hampir tiap jam ada, dan nama bus-nya pun banyak, tinggal milih, naik ke bus, bayar, dan sampai deh. Bayarnya juga murah, cukup dua puluh ribu rupiah saja, itu untuk bus patas AC yah. Kalo mau yang ekonomi juga ada, pokoknya sesuaikan sama selera kantong anda hehehe 😀

Salah satu seni naik bus adalah bisa ndengerin lagu-lagu romantis yang dibawain sama pengamen. Ya walaupun ga tiap kali lagu yang dibawain bertema romantis sih, dan ga semua pengamen itu suaranya bagus. Kalo lagu yang dibawain dan suaranya aduhai, ga rugi kalo mau kasih uang lebih ke mereka.

Nge-full-in bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan
Nge-full-in bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan

Perjalanan Bungurasih-Arjosari memakan waktu tepat dua jam. Dari terminal ini, perjalanan masih harus lanjut lagi untuk sampai ke Roemah YWI. Panitia bilang, penginapannya berada persis di depan BNS. Feeling-ku mengatakan, ga akan sulit cari angkot yang langsung bisa turun di depan lokasi. Benar aja, dari Arjosari kita cukup naik angkot biru jurusan Landungsari, kemudian dilanjutkan naik angkot warna kuning jurusan Batu. Emang sih cuma dua kali oper dan satu orang cuma bayar sepuluh ribu untuk dua angkot, tapi jangan kaget kalo perjalanannya lumayan lama karena rute angkot kan muter-muter, heuheu… Misua udah misuh-misuh terus, kecapekan dia gegara ga sampe-sampe.

Yang unik dari angkot di Malang adalah tulisan ADL, AL, AG, dan beberapa singkatan lain yang terpampang di bagian depan atau belakang angkot. Tulisan itu adalah singkatan yang menunjukan jurusan si angkot. Misal ADL, berarti Arjosari-Dinoyo-Landungsari. Nah angkot ADL ini nih yang kita pakai waktu mau ke Landungsari sebelum oper ke angkot warna kuning. Asyik banget kan? 😀

“BNS… BNS…”, teriak abang angkot kuning. “Kiri… Kiri… Pak…,” sahutku. Horeee… Berhasil juga kita sampai di depan Roemah YWI. Muka udah kusut, lecek, hitam kena angin dan debu, badan pegel-pegel karena duduk terus dari semalem, tapi kepuasan yang didapat, wwoooowww super sekalee! Ceritanya bakal biasa aja kalo cuman naik pesawat dan dijemput di bandara oleh panitia. Ga akan ada ceritanyah kaya kitah! Hihihi…

Ayo? Siap ngeteng kemana lagi kita??? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s