Naik Motor di Tengah Hutan? Bisakah?


Bisa! Karena sudah terlalu siang saat saya mengunjungi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, akhirnya saya memutuskan untuk menyusurinya dengan menggunakan sepeda motor!

Sebenarnya saya ingin menghindari hal ini, tapi cuaca yang masih kurang mendukung dan waktu yang sepertinya tidak akan cukup jika harus berjalan kaki, akhirnya dengan berat saya harus rela beriri hati melihat pengunjung yang bisa menyusuri kawasan hutan raya dengan treking. Fuhh… Padahal saya sudah sangat rindu treking semacam ini, di tengah hutan yang lebat sekali pohonnya.

image
Salah satu motor yang melintas -___-

Terus, kok bisa naik motor? Iya karena memang jalan setapak di dalam hutan sudah dibuat paving sehingga sangat memudahkan pengunjung jika ingin menyusurinya menggunakan motor. Tapi jalan setapak model paving tentunya kurang nyaman bagi pejalan kaki karena teksturnya yang keras akan membuat kaki mereka mudah lelah.

Anyway, jalan setapak yang hanya mempunyai lebar 1,5 meter ini membuat saya harus cukup berhati-hati mengendalikan laju motor saya. Apalagi di beberapa titik ada jalur tanjakan dan turunan. Meskipun tidak terlalu curam, tapi dengan suguhan jurang yang menganga di sisi kiri setapak membuat saya bergidik ketika membayangkan motor saya terjerembab ke dalamnya. Hiiiii… Lalu di sebuah tanjakan yang sedikit lebih curam, tiba-tiba laju roda motor saya menukik ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi hingga mencapai batas antara paving dengan tanah. Karena khawatir akan semakin oleng, saya pun mendadak menginjak pedal rem kaki dan menekan rem tangan sehingga roda motor pun perlahan melambat dan berhenti. Etetetetttt… Rupanya motor berhenti dalam keadaan tidak seimbang di atas kemiringan kurang lebih 35 derajat. Perlahan saya, adek saya yang membonceng, dan motor saya tentunya, oleng ke arah kiri. Hiyaaaa… Di situasi seperti ini kami hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal menyadari ada tiga orang pengunjung di belakang kami yang pasti menyaksikan dengan baik proses olengnya kami dan motor saya. Anehnya ketika mereka melewati kami, tidak ada belas kasihan sedikitpun dari mereka kepada kami. Dibantuin bangun kek, ditanyain “baik-baik aja kan mba” kek, atau apapun deh sebagai bentuk rasa empati mereka. Tapi mereka tidak melakukannya sodara-sodara. Fuuhh… Sedih!

image
Curug Omas Maribaya dilihat dari jembatan bawah

Oke, kami langsung bisa bangkit kok dari keterpurukan itu! Dan kami pun melanjutkan perjalanan untuk sampai di Curug Omas Maribaya.
Dari pintu masuk II Taman Hutan Raya, sekitar 30 menit sudah termasuk kejadian olengnya motor kami yang sangat memilukan akhirnya kami sampai di Curug Omas Maribaya. WOW… Finally! Hutan dan air terjun itu perpaduan yang sangat serasi. Sayangnya kami tidak bisa bermain-main di bawah curahan airnya karena debit air yang deras dan kedalaman sungai yang mungkin berbahaya. Tapi ada jembatan gantung yang melintang di atas air terjun yang bisa memberikan sensasi merinding saat melintasinya dan melihat di atas air terjun berketinggian sekitar 30 meter itu. Brrrr… Lagi-lagi imajinasi saya bergerak, membayangkan jembatan ini tiba-tiba roboh dan saya terjungkal ke bawah, hanyut bersama dengan berkubik-kubik air yang mengalir. Pfftt… Untungnya Tuhan tidak menjadikan khayalan saya terjadi. Sebagai gantinya, gerimis yang sedari tadi turun malu-malu, tetiba berubah menjadi hujan deras diiringin suara petir yang menggelegar. Basah!

Warung di samping jembatan gantung menjadi tempat berteduh kami dan beberapa pengunjung lain. Owh.. Jadi mungkin inilah yang membuat beberapa titik di sekitar sungai penuh dengan sampah! Warung dan pengunjung curug berhasil berkontribusi merusak keindahan curug ini. Huftt.. Tidak sadarkah hai manusia, sungainya jadi kotor!!!
Selain Curug Omas Maribaya, ada banyak titik wisata lain di hutan raya ini. Sebutlah Curug Dago, Goa Belanda, Goa Jepang, Goa Belanda, dan Patahan Lembang. Namun saya hanya sempat ke Goa Belanda saja, itu pun sekedar numpang foto. Hihihi…

Cukup bayar tiket masuk Rp7.500, asuransi Rp1.000 dan karcis parkir Rp5.000, kerinduan saya kepada sejuk dan asrinya suasana pegunungan pun akhirnya sedikit terobati. Nah! Terus mau coba yang mana nih, treking atau naik motor juga seperti kami?

Note: informasi tentang hutan raya Juanda bisa klik di sini ya. Nuhun… :)))

Advertisements

One thought on “Naik Motor di Tengah Hutan? Bisakah?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s