Setelah OFF Selama Tujuh Setengah Bulan


Pernah merindukan berumah di dalam hutan? Memandang sinar matahari bangun dari peraduannya di atas ketinggian?

Saya pernah.

Dan itu menyiksa! Tsah!

Sedikit menipu sebenarnya kalau mengira masbojo doyan dan trekking addict seperti saya, hehehe… Dia justru yang awalnya kerap kali melarang saya naik gunung dari sebelum kami menikah. Tapi karena saya bandel dan pintar merayu, akhirnya beberapa gunung pun berhasil saya daki, termasuk foto pre wedding pun saya minta di gunung!

Nah, terakhir kali kami naik gunung bareng ya pas foto pre wedding itu, di Papandayan, sekitar bulan Agustus akhir tahun lalu. Pasca menikah di bulan November-nya, saya langsung ingin program hamil, soalnya memang ingin sekali kasih cucu buat orang tua dan mertua. Jadi mau nggak mau saya harus cuti naik gunung dong, hehehe… Tapi Allah sepertinya masih ingin menyimpan malaikat kami, meskipun kami sudah berusaha dan berdoa. Empat bulan setelah menikah, saya masih kedatangan bulan.

Sekedar traveling aja itu rasanya tetap beda dengan naik gunung. Ada rasa rindu melangkah naik ke titik puncak, kemudian turun lagi ke basecamp. Ada rasa kangen bobok di balik tebalnya sleeping bag berbalut dingin khas gunung. Ada semacam keinginan untuk packing yang membawa keril dan tenda. Ah, pokoknya setelah city tour ke Solo, saya mau ajak masbojo naik gunung!

Dan… Masbojo pun setuju kalau libur paskah nanti kami habiskan untuk mendaki gunung Cikuray. Oye! Aku senang riang gembira sekaliii…

Kami berangkat Jumat pagi karena kami harus menunggu masbojo dulu yang datang dari Semarang. Agak rempong sih emang, masbojo jadi kaya setrikaan, dan pasti dia capek karena baru sampe Jakarta Jumat subuh. Tapi dengan semangat yang selalu saya kobarkan untuknya, masbojo jadi nggak terlihat lelah sama sekali tuh. Apalagi sepatu trekking masbojo baruuuu. Jadi tambah semangatlah dia.

Sepatu baruuuu ~~~
Sepatu baruuuu ~~~

Jumat ini target pendakian kami bisa sampai pos lima jika cuaca cerah. Kalau hujan, mentok-mentoknya kami bisa camp di pos empat atau pos tiga. Saking semangatnya menyusun itinerary pendakian, sampai-sampai kami lupa tidak mengantisipasi terjadinya kemacetan di perjalanan menuju Garut karena ini adalah long weekend. Dan benar saja, kami kena macet yang sangat parah! Kami pun baru sampe Garut jam setengah empat sore, padahal kami berangkat dari Jakarta jam setengah sembilan pagi. OMG!

Ya sudah, akhirnya kami baru mulai trekking jam tujuh malam setelah solat magrib dan isya di pos pemancar Cikuray. Kami sudah kelelahan dan pasrah akan sekuat dan sejauh apa kaki kami nanti melangkah. Beberapa pendaki yang kami temui sepanjang jalur awal pendakian mengatakan kalau di pos satu sampai lima sudah ramai dengan tenda. Sedangkan kami berencana akan mendirikan tiga tenda. Akhirnya, kami berlima memutuskan untuk camp di lahan datar setelah kebun sayur karena kami khawatir tidak mendapatkan lahan untuk mendirikan tenda. Sedangkan dua orang teman lainnya tetap meneruskan perjalanan.

Hihihi sedikit lucu sebenarnya. Karena jarak tenda kami dengan pos pemancar tidak lebih dari satu jam trekking. Sama aja dong mending tadi camp sekalian aja di pos pemancar -____- Tapi kami pikir daripada kami memaksakan diri dalam kondisi lelah dan belum tentu mendapatkan lahan datar untuk mendirikan tenda di atas sana, lebih baik kami camp di sini dan memulai trekking lagi dini hari nanti sekitar jam satu malam untuk sampai ke puncak. Menu makan kami malam ini menggoda sekali sepertinya. Sup dimsum shabu-shabu. Yuummm… Berkuah dan panas, segar sekali dinikmati di tengah dinginnya udara di sini. Pemandangan kota Garut yang berkerlap-kerlip, ditambah sinar bulan yang sedikit tertutup awan, serta dua tiga bintang yang malu-malu mengintai kami, menambah lengkap suasana dinner kami kali ini. Sumpah nikmat banget!

Menu dinner kami malam ini
Menu dinner kami malam ini

Kenyang. Saatnya tidur. Persiapan tenaga untuk summit dini hari nanti.

Sabtu dini hari. 19 April 2014.

Samar-samar terdengar suara dari tenda sebelah membangunkan kami, memanggil-manggil nama saya. Suara Nanda rupanya.

WHAT??? Sudah jam setengah dua??!!

-____-

Masbojo rupanya salah mengatur alarm hp. Harusnya jam 12.15 AM, dia malah atur jadi 12.15 PM. Jadi ceritanya kami kesiangan bangun! Aaaakkk!

Cetek cetek cetek… Nanda mencoba menyalakan  kompor untuk memasak makanan kami sebelum memulai trekking. Meskipun kesiangan, tapi lambung kami tetap harus diisi dulu. Namun, malang sekali, kompor Nanda sepertinya ngadat! Butuh bantuan korek api untuk mau menyalakannya. Kami batalkan niat kami untuk memasak. Dengan sisa-sisa sari makanan saat dinner tadi, kami mulai summit trekking ini. Pupus sudah harapan kami untuk menjadi salah satu saksi terbitnya mentari pagi itu di puncak Cikuray. Dadah babay… Hiks, sedih…

Badan memang terasa ringan tanpa harus memanggul keril berkilo-kilo itu. Namun, tanjakan yang lumayan tinggi-tinggi ini berhasil bikin ngos-ngosan juga. Terlebih, trekking malam hari kan berarti saya harus berebut oksigen dengan pohon. Tambah sedikitlah oksigen yang saya hirup.

Perlahan tapi pasti, kami terus menaiki tanjakan demi tanjakan ekstrem ini. Kami berhenti sejenak untuk beristirahat dan melaksanakan solat subuh saat adzan subuh samar-samar terdengar dari surau di bawah sana. Hei hei ingat ya! Bagi seorang muslim, SOLAT itu WAJIB hukumnya. Di mana pun, kapan pun, dalam kondisi terburuk apa pun, tetap wajib solat. Saya berwudu dengan tayamum dan menutup aurat dengan pakaian saya saja, kaos tangan, dan sepatu. Bismillah, biar Allah yang menerima atau tidak solat saya ini, yang terpenting saya sudah berusaha untuk solat.

Kami melanjutkan trekking. Kali ini saya sudah lebih mampu mengatur irama nafas, tidak begitu ngos-ngosan lagi. Hingga di titik setelah pos tiga kami lewati, kami terpaksa harus menghentikan langkah kaki kami lagi. Bukan untuk beristirahat, namun lebih kepada memandang jauh ke ufuk timur, tempat sang surya perlahan menampakan sinarnya. Mata kami dipaksa berhenti berkedip. Wow, gunung Ciremai yang terlihat sangat kecil dari kejauhan terlihat menyapa kami. Saya takjub! Indah bingit, selalu indah memandang matahari terbit dari ketinggian. Di sini saja sudah secantik ini, gimana kalo ngliatnya dari puncak? Aaaahhh….

Pretty sunrise
Pretty sunrise

Di momen inilah tiba-tiba Delly jadi galau. Galau apakah mau meneruskan trekking untuk sampai puncak atau tidak. Sunrise sudah berhasil kami lihat dari titik ini, apalagi yang mau kami kejar di puncak nanti? Perjalanan ke puncak pun juga masih lumayan jauh. Begitu pikir Delly. Akhirnya setelah menyempatkan sarapan seadanya di pos empat dengan sebelumnya meminjam korek dari pendaki lain, kami bertiga (saya, masbojo, dan Nur) memutuskan tetap melanjutkan summit, sedangkan Nanda dan Delly memutuskan kembali ke tenda.

Saya pikir kami masih kuat untuk trekking sampai puncak. Masbojo juga ndilalah kok ya tetap manggut-manggut dan bilang “iya” saat saya tanya “masih kuat lanjut ke puncak?” Hehehe… Saya tidak mau kejadian saat ke Semeru terulang lagi. Puncak memang tidak akan lari, tapi saya yang ingin sekali lari ke puncak bersama masbojo. Hasiikkk ~~~

Di beberapa titik tanjakan, kami sesekali berhenti untuk sekedar mengatur irama nafas dan meneguk sedikit air. Beberapa kali pula kami bertanya pada setiap pendaki yang baru turun, masih sejauh apakah puncak Cikuray? Tentu jawaban yang diberikan mereka relatif, tidak ada jawaban yang sepenuhnya tepat. Namun, kami cukup lega karena waktu tempuh yang harus kami lalui tidak selama yang sebelumnya Nanda perkirakan.

Di jalur pendakian menuju pos tujuh, kami kembali berhenti dan istirahat. Dari titik ini saja, samar-samar sudah terlihat pemandangan khas dari atas ketinggian. Awan putih berarak menutupi dataran di bawahnya. Vegetasi di sekeliling kami sudah berangsur memendek dan jarang, artinya puncak memang sudah dekat. Di tengah-tengah kelelahan kami, tetiba lamat-lamat terdengar suara tawa seorang anak kecil, suara perempuan. Lah? Ini di puncak gunung lho? Kok ada suara anak kecil? :O

Bersama Sabrina
Bersama Sabrina

Kami pun terperanjat ketika dia muncul dari bawah jalur pendakian, dia berjalan, memanjat, dengan kedua kaki dia sendiri…!!! :O

“Ya ampun, kamu lucu banget. Naik gunung sama siapa? Kok kuat sih dek?” saya dan Nur langsung mengerubunginya.

Dia hanya senyum-senyum, cengengesan, tertawa, seakan-akan tidak merasa lelah sama sekali. OMG… Hebat sekali… :O

Usianya yang baru tiga tahun tidak lantas menghalanginya menggapai puncak Cikuray. Ditemani sang Ayah yang saya kira dia itu Om-nya atau kakaknya (soalnya masih muda banget…), Sabrina mampu melangkah hingga setinggi ini. Gueerriiitt bingit… :O

“Kita ketemu di puncak ya, Dek!” ujar kami sebelum meneruskan perjalanan. Dan tahukah pemandangan apa yang saya lihat ketika kami hendak meneruskan pendakian??? Masbojo langsung ngiprit ke barisan paling depan! Huahahaha… Dia malu rupanya, kalah sama Sabrina 😀

***

Puncak Cikuray 2821 mdpl
Puncak Cikuray 2821 mdpl

Beberapa meter menuju puncak Cikuray, saya berhenti dan memandang ke bawah. Sosok masbojo belum kelihatan. Saya sengaja menunggu biar sampai puncaknya bisa bareng. Tapi kok lama banget dia nggak nongol-nongol. Sedangkan Nur yang sudah berada di atas saya memanggil-manggil, berteriak kalau view di atas sana bagus banget. Ya sudahlah, saya memutuskan meninggalkan masbojo saja, habis lama sih. Perlahan saya mendaki tanjakan terakhir sebelum puncak 2821mdpl tergapai. Hasrat hati ingan bertingkah seperti Zafran seperti di film 5cm, tapi malu ah! Yang ada, saya cuma melongo saking gembiranya bisa sukses mencapai puncak Cikuray! Tambah melongo lagi ketika saya melihat masbojo sudah di sini juga, malah sudah melepas keril dan jaket yang dia pakai. Howalah… Bener-bener malu dia kayanya sama Sabrina, hihihi…

Tidak perlu digambarkan lah ya bagaimana rasanya bisa menggapai (lagi) puncak sebuah gunung, apalagi setelah OFF selama kurang lebih tujuh setengah bulan. Satu rasanya, AMAZING.

Makan pepaya di puncak Cikuray
Makan pepaya di puncak Cikuray

Planning untuk melihat sunrise dari puncak memang tidak kesampaian, tapi tidak untuk makan pepaya. Saya sudah berniat membawa pepaya dari rumah dan akan dimakan saat di puncak nanti. Alhamdulillah, kesampaian. Belum pernah kan ngupas pepaya di puncak gunung, kemudian menikmatinya bersama dengan suami dan seorang Sabrina, gadis cilik berusia tiga tahun? Iyup, tidak berselang lama setelah kami sampai di puncak, eh Sabrina tahu-tahu sudah ikutan nongol di sini. Tanpa malu, dia langsung mendekat ketika kami menawarinya makan pepaya. Bahkan habis tiga potong ukuran besar! Ah, AMAZING lagiiiii…

***

Percakapan di perjalanan turun ke tenda.

“Aduh… Aduh… Duh…,” masbojo mengeluh terus, dia bilang kalau persendian kaki dia sakit.

“Gimana, Yang? Kapok nggak naik gunung?” saya bertanya begitu karena ini pertama kali baginya menelesuri trek yang sangat OMG.

“Kapok,” jawabnya singkat, masih sambil beraduh-aduh.

“Tapi kalo aku ajakin naik gunung lagi mau nggak?”

“Nggak.”

“Kenapa nggak mau?”

“Capek turunnya.”

“Tapi pas udah sampai di puncaknya seneng nggak?”

“Pas sampai di puncak sih seneng.”

AHA! Hassyyyiikk ~~~

Berarti cara untuk meracuni masbojo untuk mau naik gunung lagi adalah dengan mengingatkannya akan rasa senang setelah sampai puncak! Okesip!

***

Tujuh setengah bulan OFF mendaki, tujuh setengah bulan pula JARANG olahraga. Sekalinya mendaki lagi, dikasih gunung Cikuray dan ditantang untuk tektok dari bawah ke puncak lalu ke bawah lagi. Capek itu pasti, pegel-pegel itu tidak terpungkiri. Tapi kalau kapok, sepertinya SAY NO deh. Yang ada justru makin membesar hasrat ini untuk terus mendaki dan mendaki. Mampukan kaki-kai kami ini ya Allah. Semoga kami masih terus diberi kesempatan untuk mencapai titik-titik tertinggi di atas permukaan laut sana. Aamiin.

Sampai jumpa di pendakian berikutnya
Sampai jumpa di pendakian berikutnya
Advertisements

One thought on “Setelah OFF Selama Tujuh Setengah Bulan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s