Menemukan Kesunyian di Candi Cetho


Pagi hari di Solo, 30 Maret 2014.

Rute perjalanan kami hari ini sedikit agak jauh dari tempat kami menginap. Sesuai itinerary yang sudah saya buat, mengunjungi lokasi yang adem-adem tidak boleh terlewatkan. Masih mengandalkan google maps, kami mencari rute menuju timur kota Solo, tepatnya menuju kabupaten Karanganyar. Di sanalah letak destinasi kami berada, Candi Cetho.

Candi Cetho letaknya berada di kaki gunung Lawu. Gu..nung… La..la..wu? *langsunggalaupengennaikgunung* Okei kalem yak! Jadi, karena berada di kaki gunung, sudah terbayang kan suasana ketika sudah berada di atas sana? Dingin, hijau, jalan nanjak, membuat saya semangat sekali ingin cepat sampai.

Dari rute yang google maps tunjukkan, kami tinggal meluncur saja ke arah timur, menuju Karanganyar. Lalala ~~~ Karena ini adalah hari Minggu, sebagian jalan Slamet Riyadi ditutup untuk car free day. Akibatnya kami harus sedikit memutar jalur, mencari jalan yang tidak ditutup. Menuju Karanganyar, kami melewati kampus UNS. Seneng soalnya baru kali ini lewat UNS.

Satu jam lebih sedikit kemudian, kami berbelok ke kiri dan sudah melintasi gapura besar bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Candi Cetho Candi Sukuh”. Hore! Melihat tulisan sebesar itu, saya langsung girang sekali, sebentar lagi sampai nih, pikir saya. Tapi…

Jeng jeng…

Di-PHP-in dong kami berdua ~~~

Saya kira 15 menit sudah bisa sampai di depan gerbang candinya, atau paling lama ya 30 menit lah. Nah ini? ENGGAK!!!

Jalannya sih sudah mulai berkelak-kelok, dan sudah bermunculan papan-papan penunjuk jalan yang mengarahkan ke Candi Cetho dan Candi Sukuh. Wah, kalau begini kondisinya sih sepertinya kami tidak akan sempat mengunjungi kedua candi. Lha wong hampir 20 menit saja kami belum sampai-sampai.

-____-

Akhirnya prioritas awal kamilah yang kami kunjungi terlebih dahulu, yaitu Candi Cetho!

Berhubung kami belum sarapan, kami berhenti sejenak di Pasar Kemuning. Entah di desa apa pasar ini berada. Yang pasti pasarnya masih sepi. Padahal sudah hampir jam setengah sembilan.

Okei, perut kenyang, lanjut jalan.

Waspada! Setelah ini jalur aspal mulai berkelak-kelok dan curam!
Waspada! Setelah ini jalur aspal mulai berkelak-kelok dan curam!

Semakin mendekati lokasi candi yang tidak kunjung sampai, jalan aspal yang kami lewati semakin curam dan semakin sempit. Perlu kehati-hatian ekstra ya ceman-ceman, apalagi yang bawa mobil atau bus! Wah, kanan kiri yang warnanya sekarang hijau semua, menyejukkan pandangan mata saya! Saya tidak mengira kalau lokasi Candi Cetho benar-benar di pucuk desa Cetho. Pucuk! Pucuk!

Memasuki areal candi yang hanya cukup bayar Rp3,000 saja, kami disambut dengan gapura tinggi menjulang, mirip gapura di pulau Dewata. Rasa damai dan sunyi mulai memasuki relung hati. Halah! Tapi ini serius lho, mungkin karena letak candi ini benar-benar berada di ketinggian bukit dan di lokasi candinya sendiri steril dari para pedagang. Saya merasakan kesunyian betul di kawasan candi ini.

Candi Cetho berbentuk teras atau punden berundak yang saat ini tinggal sembilan teras. Di teras kedua, ada simbol-simbol unik yaitu berupa batu-batu yang ditata di atas tanah berbentuk kura-kura dan alat kelamin pria dan wanita. Hihihi… Kebayang nggak bentuknya seperti apa? Pada sisi kanan candi, terdapat bangunan candi lain bernama Candi Kethek. Namun, kami tidak menyempatkan diri masuk ke dalamnya karena harus bayar lagi. Hihihi…

Simbol unik di salah satu teras candi
Simbol unik di salah satu teras candi

Bentuk candinya sendiri tinggi memanjang dan mengerucut. Untuk sampai ke pucuk candi, kami harus menaiki beberapa anak tangga. Tenang, tidak sesulit mencapai puncak gunung Slamet kok 😀 Di pucuk bangunan candi, ada sebuah bangunan berbentuk trapesium  yang terbuat dari batu setinggi kurang lebih dua meter. Ada beberapa biksu yang kebetulan sedang datang beribadah di candi ini. Mereka duduk di depan bangunan trapesium tersebut dan mulai beribadah.

Menuju pucuk
Menuju pucuk
Bangunan utama Candi Cetho
Bangunan utama Candi Cetho

Dari pucuk bangunan candi ini, terlihat dengan jelas bangunan-bangunan lain di areal Candi Cetho. Gapura yang menjulang tinggi di setiap terasnya terlihat rapi jika dilihat dari satu titik.

Deretan gapura di Candi Cetho. Serasa di Bali nggak?
Deretan gapura di Candi Cetho. Serasa di Bali nggak?

Sayang, menjelang siang, kabut mendadak menghambur ke sekitar candi. Untung kami sudah puas mengeksplor setiap sudut Candi Cetho. Kami pun segera turun ke teras paling bawah, menghindari jikalau hujan mendadak turun juga. Sesampainya di teras paling bawah, mendadak kabutnya hilang lagi dan suasana sekeliling kembali cerah. Pfftt… Maunya apa? -____-

Tidak rugi menjadikan Candi Cetho sebagai destinasi wajib jika berpetualang ke Solo dan sekitarnya. Bahkan jika waktunya mencukupi, lengkapi kisah perjalananmu dengan berkunjung juga ke Candi Sukuh ya!

Nom nom nom… Menikmati bakso kuah ala gerobak motor pun menjadi penutup kunjungan kami kemari. Kenyang… 😀

Happy traveling!

Advertisements

3 thoughts on “Menemukan Kesunyian di Candi Cetho”

  1. boleh mengoreksi? Kampus di solo Universitas Sebelas Maret atau biasa disingkat UNS bukan Unnes.. Unnes berada di semarang sepertinya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s