Banyak yang Kuno di Pasar Ini


Intermezo sebentar yak!

Proudly present, my beloved husband, Fandi 😀 Jadi, mulai dari posting ini dan selanjutnya, tidak akan ada lagi kata “masbojo” atau pun “suami” karena saya akan menggantinya dengan kata “Fandi”. Hihihi… Sekian, dan terima kasih.

***

Masih di Solo, tepatnya di kawasan kampung batik Laweyan. Kami menyerah untuk tidak melanjutkan penelusuran kami di kampung batik ini, karena masih banyak yang tutup!

Hari ini hari terakhir kami di Solo. Kami hanya punya waktu kurang dari dua belas jam untuk menghabiskan sisa waktu kami di sini agar kami tidak terlalu sore kembali ke Semarang. Secara perjalanan saya kan masih panjang, harus menempuh ratusan kilometer untuk bisa sampai di Jekardah. Fiuh, betapa melelahkannya perjalanan ini, hihihi…

Lalu, mau kemana lagi kita? Destinasi utama yang tercatat di itinerary sepertinya sudah semua dikunjungi. Tapi Fandi masih sibuk melajukan motor matic-nya, muter-muter nggak jelas, dan sesekali berhenti untuk, BERTANYA??!! Nah lho, mau mengajak kemanakah dia? Dia bilang sih kami mau mengunjungi sebuah pasar. Pasar lagi? Kemarin kan sudah ke Pasar Klewer. Sedikit tidak bersemangat rasanya kalau harus ke pasar lagi. Saya nggak pengen belanja soalnya -_____-

Sudah lebih dari tiga orang Fandi tanyai, tapi kami belum sampai-sampai juga di pasar itu. Aneh, pikirku. Kalau pasarnya terkenal, harusnya kan orang-orang yang kami tanyai tadi langsung tunyuk kemana jalan yang harus lewati. Sampai akhirnya… Motor kami menepi di tempat parkir sebuah pasar yang….. Sedikit sepi….. Dan saya lupa nama pasarnya apa -_____-

“Bukan, bukan yang ini,” begitu komentar Fandi begitu kami menelusuri ke lantai atas pasar ini.

“Lha terus yang mana? Emang mau ke pasar apa sih?” Saya penasaran.

“Pasar Triwindu, disitu banyak barang-barang antik.”

Melihat suasana jalan raya di sekitar kami, rasa-rasanya kok tempat kami berada sekarang nggak jauh dari penginapan kami ya? Saya cuma membatin aja sih, sambil terus mengedarkan pandangan. Dan ternyata…. Bener dong! Pasar Triwindu ternyata ada di daerah Keprabon! Tinggal nyebrangin jalan Slamet Riyadi aja dari daerah Kemlayan! Terus ngapain tadi kami muter-muter sampai kesono-sono??? Gini deh kalau Fandi yang nge-handle, jadinya kurang beres, hihihi… 😀

Rupanya semalam Fandi sempat browsing tempat menarik di Solo, dan dia menemukan salah satu tempat yang direkomendasikan adalah Pasar Triwindu ini. Dari lokasi kami memarkirkan motor, kami masih harus berjalan beberapa puluh meter untuk mencapai pasar Triwindu. Tepatnya ada di jalan Diponegoro. Pasar ini terbilang unik karena benda-benda yang dijual di sini berupa benda-benda kuno dan antik. Apa saja? Saya juga jadi penasaran! Padahal tadinya sempat kurang bersemangat 😀

Unik ya?
Unik ya?

Pasar ini terdiri dari dua lantai dan berbentuk persegi. Kami mulai menelusuri dari bagian samping kanan pasar di lantai bawah. Waaaahhh, lucu banget benda-benda kunonya, banyak banget! Saya sempat melihat peralatan dapur kuno (gelas, rantang, piring, panci, sendok, garpu), setrika arang, telepon yang angkanya bukan dipencet tapi diputer, hiasan dinding dan hiasan meja, patung-patung, alat cetak batik, jam beker yang bunyinya kriiiiiiingg, dan masih buanyak lagi lainnya. Kami lanjut ke lantai dua. Di sini benda-benda yang dijual lebih ke barang-barang elektronik seperti televisi kuno, radio. Ada juga sepeda, mesin ketik, timbangan bayi, piano, cermin, gelas literan penakar minyak, per, lampu gantung, guci, koper, lukisan. Fuh! Capek ih nyebutinnya. Habis beragam banget sih barang-barang kunonya.

Pas kami turun lagi ke bawah dan menelusuri sisi luar pasar, mata saya tertuju pada sederetan uang koin dan kertas kuno yang sejak di dalam tadi memang sudah mulai menarik perhatian saya. Kebetulan banget sih sebenarnya, karena saya suka mengumpulkan berbagai jenis mata uang, entah itu yang baru maupun yang kuno, entah dari dalam negeri maupun luar negeri. Saya senyum-senyum ke Fandi.

“Kenapa? Mau?”

Saya mengangguk. Yeay!

Uang kuno dan aneka perkakas dari aluminium
Uang kuno dan aneka perkakas dari aluminium

Ada banyak macam uang kuno yang dijual, yang kertas maupun yang koin, yang sudah sempat beredar maupun yang belum. Uang kertas saja yang saya beli dengan pecahan 1 rupiah, 2  rupiah, 5 rupiah dengan dua seri yang berbeda, dan 10 rupiah. Totalnya cukup Rp125.000 saja, harga setelah tawar-menawar tentunya, hihihi 😀

Satu yang bikin saya menyesal. Saya nggak jadi beli gelas kuno aluminium yang ada di gambar ini, hiks… Padahal kan lucu ya kalau dibawa camping atau naik gunung. Huhuhu… 😦

Sssttt… Suasana sekitar pasar Triwindu ini asik juga lho ternyata. Pedestrian yang memanjang dari utara ke selatan ini dilengkapi dengan tempat duduk melingkar di bawah pohon. Kami berdua pun istirahat sejenak di sini sambil menikmati es krim duren dan cilok. Kaya anak SD, hihihi… 😀 Kayanya asik juga sebagai lokasi hunting foto suasana malam kota Solo. Aaaaakkk nyesel nggak sempat foto-foto di siniiii…

Suasana pedestrian di depan pasar Triwindu
Suasana pedestrian di depan pasar Triwindu

Jadi, catet yah ceman-ceman! Kawasan pedestrian depan pasar Triwindu wajib masuk itinerary kalau kalian rawuh wonten Solo. Oke? Oke.

Advertisements

2 thoughts on “Banyak yang Kuno di Pasar Ini”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s