Mengawali Ramadhan di Cibodas


Masih bersama seorang sahabat, yang selalu asyik diajak jalan kemanapun. Kata seorang traveler, berkelanalah kamu dengan seseorang, maka kau akan tahu karakter asli orang tersebut. Ya, karakter sahabat ini rupanya cukup klik dan klop dengan saya. Cucok lah kami berdua jalan kemana saja, hihihi…

Termasuk rencana dadakan kami yang disusun secara spontan saat saya mampir ke kosan dia. Siang itu kami tidak sengaja menonton salah satu acara traveling di salah satu channel tv swasta. Entah kenapa, topik yang dibawakan adalah naik gunung ke gunung Gede. Tambah mupeng lah saya, pas banget saat itu saya sedang kangen gunung, kangen ketinggian, kangen suasana dingin. Karena naik gunung sepertinya belum bisa saya lakukan lagi dalam jangka waktu yang belum bisa dipastikan, spontan saya mengusulkan untuk: ke Kebun Raya Cibodas aja yuk awal puasa besok!

Namanya juga sudah sehati, jadi sahabat saya ini langsung setuju. Dia sepertinya juga sedang galau seperti saya. Rindu gunung itu memang subhanallah rasanya.

Suasana hening dan sunyi ketika memasuki area kebun saya
Suasana hening dan sunyi ketika memasuki area kebun saya

Tepat di hari pertama Ramadhan, kami memulai dengan naik bus Parung Indah menuju Cibodas seharga Rp18.000 per orang. Niatnya mau bawa botol kosong untuk membawa air segar dari sungai di Kebun Raya Cibodas. Tapi saya lupa! Gagal deh buka puasa pakai air gunung. Hiks…

Rute ke Cibodas sudah diluar kepala. Turun di pertigaan Cibodas, lalu tinggal naik angkot deh sampai depan pintu masuk kebun raya, dengan membayar Rp4.000 saja per orang. Jadi ingat cerita saat awal kali kemari, yaitu saat saya dan seorang saudara beda ayah ibu pergi merantau ke Curug Cibeureum. Ah, kapan kita naik gunung bareng ya?

Setibanya di pintu gerbang Kebun Raya Cibodas, dan tadaaaa… Sepi nyenyet booo… Ya iyalah, secara bulan puasa. Tapiiii… Inilah suasana yang saya cari. Kesunyian dan keheningan. Kebun raya ini serasa milik kami berdua, hihihi… Ada beberapa mobil yang melintasi pintu gerbang dan saya menebak mereka kebanyakan pasti orang-orang non muslim yang tidak berpuasa.

Tiket masuk per orang hanya Rp9.500 saja, kami pun bebas berkeliling kemana pun di kebun raya ini. Wow, nampaknya area kebun raya ini luas, seluas Kebun Raya Bogor yang saat itu tidak berhasil saya singgahi semua sudutnya.

Kami menuju taman sakura terlebih dahulu. Papan arah dari pintu masuk mengarahkan kami untuk belok ke kiri. Oh Tuhan, andai halaman rumah saya seluas lapangan rumput ini dengan view pegunungan Gede-Pangrango. Betah kali ya di rumah terus.

Di taman sakura, ada sebuah air terjun kecil bernama curug Cibogo dan sebuah jalan air yang bisa dilewati mobil. Lumayan, spot ini bisa dipakai sebagai objek foto slow speed. Beberapa pengunjung yang mayoritas membawa mobil mulai meramaikan tempat ini. Beberapa ada yang menggelar tikar dan menyantap bekal yang mereka bawa. Saya tidak bisa membayangkan betapa ramainya kebun ini ketika weekend biasa. Syukurlah kami kemari saat Ramadhan. Ramainya masih bisa dibilang sepi.

Segaaarrr
Segaaarrr

Memasuki waktu dhuhur, kami solat dulu di mushola dekat jembatan air. Nyesss… Betapa segarnya air pegunungan ketika menyentuh wajah saya. Rasa lelah, lapar, dan dahaga pun semakin tak terasa.

Spot berikutnya yang saya ingin kunjungi adalah taman bunga bangkai. Di acara traveling yang saya tonton sebelumnya di kosan sahabat saya, memperlihatkan betapa cantiknya bunga bangkai yang sedang mekar. Rasa penasaran mengalahkan rasa ngos-ngosan berjalan beratus-ratus meter untuk menemukan taman bunga bangkai itu. Hosh, rutenya jauh juga jika ditempuh dengan jalan kaki. Apalagi ada jalur yang sedikit naik turun. Capek juga ya! Hahaha…

Sedikit lagi sampai, Intan!

Sekarang sudah sampai…

Namun…

Ngok! Bunganya sedang layuuuuuu… Sama sekali tidak berbentuk bunga. Warna coklat, tidak indah seperti yang di tv kemarin. Aaaakkk!!!

-_____-

Saya kecewa.

Bunga bangkai yang sedang layu :(
Bunga bangkai yang sedang layu 😦

Yasudah, saya tetap lanjut berkeliling menuju sebuah bangunan terbuat dari besi berwarna hijau. Rupanya bangunan ini adalah penangkaran tanaman pemangsa serangga, kantung semar. Aha! Ini pertama kalinya saya melihat kantung semar secara langsung lho. Sebelumnya saya sekedar melihat di buku cetak Biologi, hihihi… Lucu ya bentuknya, seperti apa ya ini? Sayang, pintu bangunan terkunci, jadi saya cuma mampu memotretnya dari luar pagar. Kebetulan tidak ada kantung semar yang sedang melumat serangga. Rasanya jadi kurang lengkap.

Tiba-tiba hari sudah menyore saja. Padahal curug Ciismun belum sempat kami kunjungi lantaran letaknya di paling ujung. Cukup memakan waktu kalau kami memaksakan ke sana dengan berjalan kaki. Kami harus lekas keluar area kebun raya sebelum terlalu sore. Dan sekeluarnya kami dari kompleks kebun raya, kami melihat dua orang menggendong keril dong! Sepertinya mereka baru turun gunung. Zzzzz… Sabar sabar…

Penangkaran kantung semar
Penangkaran kantung semar

Bekal air minum dan seplastik gorengan menjadi menu buka puasa kami senja itu, masih di dalam bus Doa Ibu jurusan Kampung Rambutan seharga Rp20,000 dan dalam sedikit kemacetan jalan raya Puncak. Bus yang kami naiki tepat sedang berhenti di depan sebuah masjid ketika adzan magrib berkumandang. Alhamdulillah… Selamat berbuka puasa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s