Serpihan Surga di Ujung Barat Pulau Jawa


Terlepas dari kegiatan sosial kami di desa Banyuasih, Cigeulis, Pandeglang, saya masih terus merasakan syukur atas perjalanan kami kali ini. Sudah gratis, dapat kaos, eh masih juga dikasih bonus pengalaman menjelajah kecantikan ujung barat pulau Jawa yang belum banyak diketahui oleh wisatawan.

Saat kami tiba di Banyuasih, waktu masih menunjukan pukul empat pagi. Suasana masih gelap, selama di perjalanan pun saya lebih banyak tidur meskipun jalur sepanjang jalan menuju Banyuasih cukup berbatu dan tidak rata. Jadi, begitu Kak Angger menyilakan kami untuk istirahat di salah satu rumah warga, saya pun langsung pulas terlelap sampai subuh menjelang. Pukul lima pagi, saya bangun untuk solat subuh. Selesai solat subuh, saya tidur lagi. Masih ngantuk soalnya. Hehehe.

Terus, mana cerita tentang kecantikan ujung barat pulau Jawa itu???

Sabar.

Ini lho baru mau saya ceritakan.

Kata Umi si pemilik rumah tempat kami singgah, pantai di belakang SDN 3 Banyuasih itu namanya “pantai aya”. Maksudnya pantai saja, alias nggak punya nama. Beda lagi dengan salah satu murid yang Kak Citra tanyai. Adik itu bilang kalau nama pantainya adalah pantai Cigeulis. Kumaha dong? Adiknya sok tahu nih. Hihihi.

Apalah arti sebuah nama. Yang pasti pantai “aya” ini mempunyai karang di sepanjang tepinya. Pasirnya putih dan bertekstur kasar. Dari rumah Umi yang berseberangan dengan SDN 3 Banyuasih, pantai “aya” cukup ditempuh dengan berjalan kaki kurang dari lima menit. Dekat sekali kan? Di jalan setapak menuju pantai, ada banyak pohon kelapa tumbuh tinggi menjulang dan rerumputan berwarna kuning kecoklatan. Di salah satu titiknya terdapat sebuah gazebo yang lantai kayunya ada bagian yang bolong. Lantai yang bolong ini kerap kali dipakai untuk bermain murid-murid SDN 3 Banyuasih. Saya kaget, pas malam Minggu kami sedang bersiap makan malam di gazebo, tiba-tiba dua buah kepala nongol gitu dari bawah lantai gazebo yang bolong itu. Padahal kan suasana gelap ya, cuma disinari lampu senter masjid. Gimana saya nggak kaget plus ngekek coba. Aya-aya wae kelakukan bocah-bocah Banyuasih. Eh, iya! Sunset di pantai “aya” ini ga kalah ciamik lho sama sunset di pulau Pari ataupun pulau Derawan. Uwuwuw.

IMG_5873 (1)
Batu dan karang di pantai “aya”
Kalau sunset cantiknya dilihat dari tepi pantai :)
Kalau sunset cantiknya dilihat dari tepi pantai 🙂

Tidak hanya dipuaskan dengan suasana pantai “aya”. Kata salah satu murid, di dekat pantai ada danau, dan kata Kak Ari, di dekat danau ada lapangan golf gitu. Lah? Kok ada sih danau dan lapangan golf yang letaknya tetanggaan sama laut? Biar rasa penasaran ini terobati, Minggu pagi sebelum kembali ke Jakarta, kami pun menyempatkan susur pantai untuk mencapai destinasi unik itu. Saya kebetulan sudah mandi dan wangi, tapi karena kena angin pantai dan matahari lagi, badan jadi terasa lengket dan keringeten lagi deh. Hihihi.

kamera digital
Jarak tempuhnya mungkin sekitar 15-20 menit dari pantai “aya”. Tergantung kamu jalannya sambil nge-galau atau nggak. Lirik ke Kak Agit. Dan pas saya sampai, bocah-bocah Banyuasih sudah kecipak-kecipuk main air di danau. Kak Ari sama Kak Shirli juga nggak ketinggalan cebur-ceburan. Beberapa ada yang coba lompat dari dahan pohon yang tidak lumayan tinggi. Water boom-nya Banyuasih ini mah! Selain berenang, anak-anak ini kadang suka mancing ikan juga di danau ini. Ih bahagianya! Anak-anak saya besok mainannya harus kaya mereka gini nih! Di alam bebas! Ga gadget-an muluk! Hehehe.

Percaya nggak ada danau yang tetanggaan sama pantai?
Percaya nggak ada danau yang tetanggaan sama pantai?
Sebelah kiri pantai, sebelah kanan danau yang ada di gambar atas.
Sebelah kiri pantai, sebelah kanan danau yang ada di gambar atas.

Kami lalu jalan kaki lagi ke arah selatan, ke lapangan rumput hijau nan luas. Inilah lapangan golf-nya. Kok ya ada ya lapangan golf di tepi laut? Baru sekali ini sih saya lihat. Jadi wajar kan ya kalo saya sempat tertegun melihatnya? Kak siapa gitu saya lupa siapa yang bilang, memberi info kalau pulau di seberang barat sana namanya Pulau Umang. Mau tahu tentang Pulau Umang? Silakan klik di sini. Sayang ya, kami tidak sempat kemana-mana. Padahal dari Banyuasih, udah dekat kemana-mana lho. Sebutlah ke Pulau Umang tadi itu, ke Tanjung Lesung, ke Pulau Peucang, ke Ujung Kulon!

Mari berteriak, AAAKKK!!! MAAAUUU…!!!

😀 😀 😀

Lapangan golf yang tetanggaan sama pantai.
Lapangan golf yang tetanggaan sama pantai.

Hari sudah cukup siang, sudah saatnya kami kembali ke rumah Umi untuk packing dan bersiap kembali ke Jakarta. Sssttt, badan memang keringetan dan lengket lagi. Tapi saya males ah mandi lagi. Wkwkwk. Mendingan saya udah sempat mandi pagi. Nah Kak Citra, mandi terakhir tuh malam harinya. Dia bilang mandinya nanti aja kalau udah sampai rumah. Nyahahaha.

>,<

Bye bye pantai “aya”. Terima kasih untuk weekend indahnya!

Sampai jumpa lagi :)
Sampai jumpa lagi 🙂

Bisa baca tulisan dari teman relawan yang lain, ya. Ini cerita mereka.

Adhi Kurniawan – Bahagia Ala Murid SDN Banyuasih 3

Advertisements

2 thoughts on “Serpihan Surga di Ujung Barat Pulau Jawa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s