Bergerimis di Kebun Teh Ciliwung


Rencana kami untuk ngebolang ke kebun teh sebenarnya sudah lama ada, tapi lagi-lagi justru dengan planning dadakanlah, rencana tersebut bisa benar-benar terealisasi.

Seperti terkutip di sebuah artikel di detik.com, kebun teh yang akan kami datangi bernama Kebun Teh Gunung Ciliwung. Saya maupun Nur sama-sama tidak tahu dimana letak persisnya kebun teh itu. Yang kami tahu, letaknya ada di daerah Tugu, Bogor. Pas saya tanya kernet busnya pun, dia tahunya hanya kebun teh Gunung Mas. Tapi kami tetap pede dan lanjut melenggang naik bus jurusan Cianjur, sambil menikmati mendung dan gerimis romantis yang setia menemani perjalanan kami. Ihiy…

Memasuki kawasan jalan raya Puncak Pass, kami mulai berjaga-jaga, tidak tidur. Siapa tahu lokasi tujuan kami sudah dekat. Kalau Nur sih menebak kebun teh Gunung Ciliwung letaknya ada di atas, setelah perkebunan teh Gunung Mas. Jadi kami masih santai, karena bus yang kami naiki masih jauh di bawah. Beberapa menit setelahnya, ketika saya masih asyik mengobrol dengan Nur sambil sesekali memandang keluar jendela, tiba-tiba di kejauhan terlihat rerimbunan pohon teh. Dalam hati saya cuma berteriak, “Ih kebun tehnya udah mulai kelihatan!”

Lalu, saya melanjutkan ngobrol lagi sambil masih terus memandang ke samping kiri, keluar jendela. Sampai akhirnya bus melewati sebuah gerbang berwarna coklat bertuliskan “Perkebunan Teh Ciliwung”. Saya mengejanya perlahan, hingga akhirnya tersadar……

“Eh eh say…… Itu…… Itu…… Kebun teh Ciliwungnya……”, saya buru-buru memberi tahu Nur.

baju wanita

Kami pun gelagapan dan bergegas untuk minta bapak supir menghentikan laju busnya. Saya meminta Nur untuk maju duluan ke depan, saya kewalahan membereskan cemilan yang sedang asyik saya kunyah. Beberapa pasang mata penumpang sepertinya spontan memandang kehebohan kami yang tetiba minta turun. Rempong kali ya pikir mereka. Hihihi.

Laju bus yang lumayan kencang itu pun tentu sudah membawa kami berada beberapa puluh meter dari gerbang kebun teh tadi. Mau nggak mau kami harus berjalan kaki melawan arus untuk sampai ke gerbang. Rupanya gerimis kembali turun, kami lalu mengeluarkan payung.

“Eh ke toilet dulu dong say, kebelet pipis,” saya menunjuk papan kayu bertuliskan “toilet umum dan mushola” dan mengajak Nur untuk buang air dulu. Maklumlah, bumil kan tukang pipis. Minum sedikit saja rasanya sudah ingin pipis terus.

Ternyata yang papan kayu maksud sebagai toilet adalah bak besar yang airnya langsung mengalir dari pipa tanpa kran, hanya ada tembok pembatas, pintu yang tidak berdaun, dan bersebelahan dengan sungai yang aliran airnya lumayan deras. Lah? Jadi saya harus pipis di sini nih? Berhubung sudah di ujung (baca: sudah kebelet banget; nggak bisa ditahan; udah pengen keluar), akhirnya dengan toilet yang tidak berpintu itupun, saya pipis! Hehehe. Untungnya letak toiletnya cukup nyempil, jadi tidak terlalu kelihatan dari luar.

Habis dari toilet :D
Habis dari toilet 😀

Setelahnya, kami kembali berjalan lagi di sisi kanan jalan, melawan arus. Arus ke arah Puncak Pass terbilang lancar, sedangkan arus menuju Ciawi kebetulan sedang macet. Dua orang perempuan berpayungan di bawah rerintikan hujan, yang satu sedang berperut buncit, berjalan di tepi jalan yang tidak lazim untuk berjalan kaki, rupanya menjadi pemandangan unik para pengendara mobil yang sedang terjebak macet itu.

“Mau kemana Mbak?” ujar mas-mas yang bawa mobil berwarna hitam sambil berkode untuk memberi tumpangan.

“Neng, mau kemana hujan-hujan?” sapa seorang tukang ojek sepertinya.

Dan teriakan-teriakan lain yang menggelitik perut dan sedikit membuat kami maluuu. Gimana nggak malu? Menjadi point of interest dalam keadaan memprihatinkan seperti ini, rasanya saya ingin buru-buru sampai gerbang kebun teh! Hihihi. Pas kami sudah akan sampai di tujuan, tiba-tiba gerimis semakin menderas dan berubah jadi hujan lebat. Aduuuuh! Kami pun memutuskan untuk berteduh di warung bakso sekalian makan siang.

Sembari makan, saya nanya-nanya ke mamang penjual bakso, “Kalau mau ke kebun teh, jauh nggak Pak? Perlu naik ojek?”

Kata mamangnya sih deket, jalan sebentar aja juga sudah sampai kebun teh. Asyik, baguslah kalau begitu. Pikir saya, selesai makan dan mampir ke masjid untuk solat dhuhur, kami bisa nih langsung main-main di tengah kebun teh, foto-foto, dan mengibarkan bendera merah putih yang nyaris tertinggal di rumah. Tapi masalahnya adalah………

HUJAN SEMAKIN DERAAASS!!!

Pffttt……

Saya sedih, kakak sedih, Nur sedih. Kami semua sedih. Menunggu lah satu-satunya hal yang bisa kami lakukan. Hiks.

Sedikit-sedikit saya memandang keluar jendela masjid. Memastikan kalau-kalau hujan sudah benar-benar reda. Memang reda sih, tapi gerimis lembutnya itu lho. Awet sekaliii. Kami pun menunggu sampai hampir jam dua siang. Akhirnya saya dan Nur pun saling pandang.

“Ada payung kan?”

“Tapi kamu nggak papa hujan-hujanan say?”

“Nggak papa, kan ada payung. Lagian cuma gerimis kok, nggak deres. Udah sampe sini loh. Daripada nyesel nggak jadi main-main di kebun teh!” Saya meyakinkan diri dan Nur.

Akhirnya……… Kami pun rela gerimis-gerimisan demi main-main di tengah kebun teh. Hahaha. Dasar rempong! Karena khawatir tiba-tiba hujan deras turun lagi, kami pun sekedar foto-foto di kebun teh bagian bawah. Nggak jadi ke puncak bukitnya deh. Hiks, nggak papa kok.

Pemandangan dari atas kebun teh. Berkabut!
Pemandangan dari atas kebun teh. Berkabut!
Untung ada payung kesayangan
Dibawah naungan gerimis. Untung ada payung kesayangan…

Nah, setelah beberapa kali foto-foto dan saya sedikit mulai merasakan lelah, kami pun memutuskan untuk kembali ke masjid untuk solat ashar dan pulang. Namun, lagi-lagi di tengah perjalanan ke masjid……… Saya berteriak kaget!

“Yaaaaahh say kelupaan! Kita belom jadi ngibarin bendera! Padahal nih bendera aja tadi udah sempet mau ketinggalan…”

“Oiaaa yaaaa… Kok kita bisa lupa sih…” Nur sama kagetnya! “Terus gimana? Mau balik?”

“Iya deh balik bentar nggak papa kali ya? Nanggung banget ini, sayang banget nggak foto sama bendera.”

Nyahahahahaha… Dan kami pun kembali dong ke kebun teh tadi cuma buat foto bareng si merah putih. Hihihi. Rempong nggak sih kami? (O.O)

Hanya salah satu usaha seorang ibu yang ingin anaknya turut mencintai alam dan tanah tempatnya akan dilahirkan :)
Hanya salah satu usaha seorang ibu yang ingin anaknya turut mencintai alam dan tanah tempatnya akan dilahirkan 🙂
Datanglah sayang, dan buatku tersenyum :)
Datanglah sayang, dan buatku tersenyum 🙂 Pregnancy of 18w4d

Aduh, kakak…… Kalo Ibu sih senang bisa ajak kakak jalan-jalan, meskipun gerimis-gerimisan, dibikin malu di pinggir jalan, pipis di toilet yang nggak ada pintunya, rela balik lagi ke kebun teh cuma buat foto sama bendera, pulangnya sempat berdiri agak lama dulu di dalem bus kerena busnya penuh. Kakak senang juga kan tapi? Hehehe. Kan a happy mom equals to a healthy baby. Jadi pasti kakak pasti senang laaah yaaa. Tuh, pas Ibu ngetik cerita ini aja kakak kedut-kedut terus di dalem perut. Hihihi. Tanda kalo kakak senang!

Kakaaaakk…… Ibu sayang kamu, nak! Ayok besok kita camping ya sama Ayah! Ihiy…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s