Cara Asyik Jalan-jalan ke Situgunung


Kalau bukan karena nyasar ke blog mbak Bulan, belum tentu saya bisa mengenal tempat secantik Situgunung dan cara asyik menuju ke sana. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari ibukota, sekarang ini bisa dijangkau dengan kereta karena telah beroperasinya kembali jalur kereta antara Bogor-Sukabumi. Selain tidak kena macet, perjalanan ke Situgunung dari Jakarta jadi semakin menyenangkan karena bisa naik kereta. Nama keretanya sendiri adalah kereta Pangrango yang melayani jurusan Bogor-Sukabumi-Cianjur (PP) dengan tiketnya seharga Rp20.000 (ekonomi) dan Rp50.000 (eksekutif) untuk sampai Sukabumi saja. Ada pula yang melayani trayek Cianjur-Sukabumi-Bogor (PP), namanya kereta Siliwangi. Informasi lengkap tentang dua kereta ini bisa dilihat di sini dan di sana ya! Btw, terima kasih dulu ah sama mbak Bulan atas informasi lengkap ke Situgunung di blognya. Hihihi.

Khusus pejalan yang start dari Jakarta, khususnya yang tinggal di Pasar Rebo seperti saya dan Fandi, kalian bisa memulai perjalanan ke Situgunung dengan naik commuter line dulu menuju Bogor. Stasiun terdekat dari rumah kami adalah Stasiun Tanjung Barat, jadi kami memutuskan untuk naik motor saja ke stasiun. Kami berangkat sekitar jam 5.30 pagi karena kereta Pangrango yang akan kami naiki berangkat tepat pukul 7.55 pagi. Motor kami tinggal satu malam di stasiun. Untuk masuk area parkir Stasiun Tanjung Barat, kalian harus punya member card ya. Tadinya kami juga belum tahu kalau sistem parkirnya harus dengan member card. Jadi, kami terpaksa membeli kartunya dulu di pintu masuk area parkir seharga Rp50.000 yang berisi saldo senilai Rp20.000. Biaya parkirnya sendiri kemarin habis Rp18.000. Mahal atau murah ya itungannya? *berpikirkeras*

peralatan rumah tangga

Di Stasiun Tanjung Barat, tinggal bilang aja ke petugas loketnya kalau mau ke Bogor. Kalian akan diberi karcis dan card untuk di-tap di pintu masuk peron Stasiun Tanjung Barat dan saat keluar peron di Stasiun Bogor. Ongkos commuter line dari Stasiun Tanjung Barat ke Stasiun Bogor seharga Rp8.000 saja.

Nah, poin ini nih yang jangan sampai salah. Kereta Pangrango memang berangkat dari Bogor. Tapi stasiun pemberangkatannya bukan dari Stasiun Bogor tempat pemberhentian terakhir commuter line. Melainkan dari Stasiun Bogor Paledang yang berjarak sekitar lima ratus meter dari Stasiun Bogor. Stasiun Bogor hanya sebagai tempat lansiran lokomotif kereta Pangrango saja. Jadi, jangan sampai salah stasiun ya! Nggak mau kan gagal naik kereta Pangrango seperti teman saya ini? Hehehe.

Tempat pemberhentian commuter line
Tempat pemberhentian commuter line
Stasiun pemberangkatan kereta Pangrango
Stasiun pemberangkatan kereta Pangrango

Waktu tempuh yang hanya dua jam ini jadi semakin terasa cepat karena selama perjalanan kami disuguhi panorama hijau sepanjang kanan kiri jalan. Nampak jelas barisan gunung Gede-Pangrango di sisi sebelah timur. Bagi kalian yang belum sempat sarapan dari rumah, bisa kok sarapan di kereta. Tinggal pesan saja sama petugas restorasi yang sesekali menawarkan menu sarapan. Asyik kan?

Stasiun terakhir kereta Pangrango adalah di Stasiun Sukabumi. Tapi, sebaiknya turun di Stasiun Cisaat ya, karena jarak tempuh ke lokasi Situgunung jauh lebih dekat. Stasiun Cisaat letaknya persis sebelum Stasiun Sukabumi dan setelah Stasiun Karang Tengah. Kemarin sih setiap kereta akan berhenti di stasiun, ada petugas yang teriak-teriak memberitahu kereta akan berhenti di stasiun mana. Jadi kayanya tidak perlu khawatir akan kelewatan akan berhenti di Stasiun Cisaat.

Kami turun di sini...
Kami turun di sini…

Stasiun Cisaat terbilang stasiun kecil, mirip Stasiun Bogor Paledang. Letaknya pun terpencil, ada di suatu jalan buntu. Namun rupanya sudah ada angkot yang ngetem di depan stasiun. Ketika kami tanya, “Lewat polsek Cisaat nggak Ak?” Supir angkotnya langsung manggut-manggut dan menyuruh kami segera naik.

“Mau ke Situgunung ya neng?” tanya si aak sopir angkot.

Waaaa…… Rupanya sopir angkotnya udah hapal tah. Pasti setiap weekend Situgunung selalu ramai pengunjung ya. Mudah-mudahan weekend ini nggak terlalu ramai ah Situgunung. Males euy kalau terlalu banyak orang. Takut kurang dapet nuansa private camping-nya. Hihihi.

Dari Stasiun Cisaat, kami meluncur ke polsek Cisaat. Letaknya nggak begitu jauh kok dari stasiun. Angkotnya diminta bayar Rp4.000 saja per orang. Di polsek Cisaat, kami melanjutkan naik angkot warna merah yang mengarah langsung ke pintu masuk Situgunung. Udara pegunungan mulai terasa. Sejuk-sejuk semilir gimana gitu. Jalanan semakin menyempit, menanjak, dan semakin sepi. Ih… Surga banget!

Welcome to Situgunung!
Welcome to Situgunung!

Tidak sampai tiga puluh menit, kami pun tiba di gerbang masuk Situgunung. Oia jangan lupa bayar angkotnya dulu, hehehe. Per orangnya bayar Rp7.000 ya!

Di pintu masuk, pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp11.000. Tapi kalau mau sekalian camping, dikenakan biaya lagi sebanyak Rp9.000. Kalau pengen semakin asyik menikmati alam hutannya lokasi Situgunung, saya sangat-sangat menyarankan untuk camping di sini ya! Meskipun di sekitar Situgunung ada beberapa penginapan dan villa, ada baiknya nyoba camping ceria di sini. Aselik asyik lho! Apalagi kalau kalian bisa bawa perlengkapan camping sendiri, seperti tenda, sleeping bag, matras, dan alat masak. Saya kira kami boleh mendirikan tenda di tepi danau. Nggak taunya lokasi mendirikan tenda sudah ditentukan petugas, yaitu hanya boleh di sekitaran pintu masuk. Baguslah, hal itu pasti sebagai bentuk keamaan dan menjaga kebersihan danau.

Tenda kami yang masih baru, soalnya baru dipakai dua kali ini...
Tenda kami yang masih baru, soalnya baru dipakai dua kali ini…

Bagi yang nggak punya perlengkapan camping sendiri, pihak Situgunung menyewakan tenda kok, tapi kayanya tanpa matras dan sleeping bag deh. Jadi, bisa diakalin sendiri ya gimana caranya biar tetep bisa bobok anget. Hihihi. Harga sewa tendanya Rp100.000 untuk tenda kecil, dan Rp300.000 untuk tenda ukuran besar.

Tenda sewaan tanpa dapet matras dan sleeping bag :(
Tenda sewaan tanpa dapet matras dan sleeping bag 😦

Di sekitar lokasi camping, ada banyak warung berjejer-jejer. Ada toilet juga walaupun kondisinya sedikit mengenaskan. Nggak ada lampunya bok. Gelap-gelapan deh kalau mau pipis malem-malem. Kalau dari tenda yang kami dirikan, letak toiletnya lumayan agak jauh, karena harus jalan kaki dulu sekitar seratus meter. Bagi bumil kaya saya yang sering banget pipis, mustahil harus bolak-balik sejauh jarak itu cuma buat buang hajat dengan intensitas yang lumayan sering. Jadi, pas malem-malem udah bersiap mau bobok dan tetiba saya kebelet pipis lagi…………

“Aku pipis di belakang tenda aja ah ya…” ujar saya ke Fandi.

Namanya udah gelap gulita ya, nggak bakal keliatan juga kan kalau saya ngejogrok di belakang tenda buat pipis. Hihihi. Padahal di bukit sebelah atas ada rombongan yang camping juga dan masih kedengeran suara cekakak-cekikiknya. Bodo amat ah, udah kebelet kok. Sebenernya agak takut-takut juga. Soalnya belakang tenda kami kan pohon besar, saya pipis di bawah pohon itu. Sekeliling saya hitam pekat, hanya ada cahaya headlamp di dalam tenda dan sedikit sinar dari lampu pos petugas jaga. Nggak ada kejadiaan apa-apa sih. Tapi yang saya bayangin udah macem-macem aja. Yang tiba-tiba ada yang nepuk dari belakang lah, yang tiba-tiba ada yang nggrayangin tangan saya pas saya ngambil tisu di tanah lah. Huihihihi…… Amit-amit ya Allah………

Udah ah! Lupakan scene yang tadi itu ya!

Karena kami punya waktu dua hari di Situgunung, hari pertama setelah beres mendirikan tenda, menjelang sore kami bisa main-main dulu ke Curug Sawer yang lokasinya sekitar 1,7 KM dari pintu masuk. Esoknya, pagi-pagi mruput, baru deh trekking ke danaunya yang berlokasi cuma 1 KM dari pintu masuk. Apa yang terjadi ketika kami main-main ke Curug Sawer dan danau Situgunung, nanti ada chapter-nya sendiri ya! 😀

Curug Sawer ke arah barat
Curug Sawer ke arah utara
Danau Situgunung ke arah barat
Danau Situgunung ke arah barat

Biar nggak terlalu sore sampai di rumah, kami memutuskan untuk pulang naik kereta Siliwangi yang tiba di Stasiun Cisaat jam 10.16. Kalau kamu iseng pengen naik dari Stasiun Sukabumi, jam tibanya di sana adalah jam 10.05. Boleh kok mampir-mampir ke sana dulu, karena Stasiun Sukabumi tentunya lebih besar dan bangunannya kata Mbak Bulan sih bagus buat foto-foto. Tapi, kalau tetep mau naik dari Stasiun Cisaat, dari polsek Cisaat kamu harus naik ojek ya ke stasiunnya. Karena ternyata nggak ada angkot yang mengarah ke Stasiun Cisaat, walaupun kemarin kami bisa naik angkot dari sana. Naik ojek cukup bayar Rp10.000. Seandainya bisa, ditawarlah Rp15.000 buat dua motor. Soalnya jarak dari polsek ke stasiun ternyata deket banget! Hehehe.

Nah, udah kebayang kan seru dan asyiknya ke Situgunung naik kereta? Ayok dong rame-rame kita naik public transportation, jangan naik mobil pribadi mulu napa? Lebih seru lhoooo, percaya deh………

Selamat menyiapkan liburan ke Situgunung ya! Semoga menyenangkan! 😀

Advertisements

3 thoughts on “Cara Asyik Jalan-jalan ke Situgunung”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s