Curug Sawer, Amankah Untuk Bumil?


Jawabannya bisa aman, bisa juga tidak. Karena sebenarnya trek menuju Curug Sawer sendiri tidak begitu menguras tenaga, hanya sejauh 1,7 KM saja dari pintu masuk kawasan Situgunung. Untuk pejalan normal, artinya tanpa membawa gemblokan di depan alias hamil, trek ini tentu saja aman. Empat puluh lima menit juga sudah sampai. Nah, pertanyaannya, bagaimana untuk para bumil seperti saya ini?

Menurut Nanda, seorang teman yang sudah pernah ke sana, “Situgunung lumayan, situnya biasa aja, air terjunnya yang seru, Ntan. Trekking-nya cepet…”

Wew…… Trekking-nya cepet?

Iyalah, itu kan menurut Nanda yang notabene dia cowo, nggak hamil, betisnya gede karena suka nyepeda. Wajar kalau dia bilang trekking-nya cepet. Tapi, harusnya dia kan tahu kalau saya ini sedang hamil? Lalu, kalau dia tahu saya sedang hamil, kenapa dia sama sekali tidak kasih peringatan ke saya supaya hati-hati atau menganjurkan saya untuk jangan ke sana? Ini sama sekali nggak lho. Jadi saya sempat berpikir………

Owh… Mungkin jalur ke Curug Sawer memang datar-datar saja, makanya Nanda nggak kasih warning atau menganjurkan saya untuk jangan ke sana.

Owh… Mungkin jalur ke Curug Sawer itu dekat dari starting point, jadi tidak akan membuat bumil kelelahan. Makanya, Nanda nggak kasih warning atau menganjurkan saya untuk jangan ke sana.

OwhMungkin Nanda lupa kalau saya lagi hamil, makanya dia nggak kasih warning atau menganjurkan saya untuk jangan ke sana.

OwhMungkin Nanda malah nggak tahu kalau saya lagi hamil, makanya dia nggak kasih warning atau menganjurkan saya untuk jangan ke sana. *nyesek*

ibu dan anak

Ih…… Saya jadi tambah semangat untuk sampai di Curug Sawer. Penasaran, seseru apakah Curug Sawer itu?

Setelah Diah berhasil sampai di Situgunung pasca tragedi ketinggalan kereta, setelah tenda kami sudah kokoh berdiri, setelah kami sudah makan siang dan solat, kami pun bersiap memulai trekking ke Curug Sawer. Jalur awal perjalanan cukup menggembirakan. Datar dan tidak berbatu. Ih… Ini mah beneran asyik kalau jalurnya seperti ini terus! Pikir saya. Berhubung saya dan Fandi sedikit-sedikit menghentikan langkah untuk foto-foto, akhirnya kami berempat terpisah. Mbak Gendis dan Diah mendahului kami jauh di depan.

Jalur yang mengasyikan, kan? Datar...
Jalur yang mengasyikan, kan? Datar…

Nah, ketika saya dan Fandi sampai di sebuah papan petunjuk jalan, jalur sepertinya mulai menunjukan ketidakdatarannya. Ngik…… Saya mengeryitkan dahi.  Saya melihat pemandangan yang tidak rata di depan sana. Jalurnya pun mulai berubah dari jalan tanah menjadi jalan berbatu-batu! Waduh………

-_____-

Bumil ditantang jalan naik turun!

Benar saja, setelah papan petunjuk jalan itu, jalur menuju curug jadi banyak turunan dan tanjakan! Nandaaa……… Kenapa kamuh nggak bilang ada jalur yang seperti ini, hah???

-_____-

Well, sebenarnya nggak apa-apa sih. Karena trek seperti ini menuju sebuah curug itu wajar. Wajar sekali malah. Saya sebenarnya juga sudah menyiapkan fisik dan mental untuk menghadapi kondisi ini. Meskipun lagi mlentung, semangat trekking tidak pernah pudar. Semangat!

Jalur menanjak, mulai muncul bebatuan :(
Jalur menanjak, mulai muncul bebatuan 😦
Jalur menurun yang sangat terjal :(
Jalur menurun yang sangat terjal 😦

Di beberapa titik, saya memang minta untuk berhenti. Pertama, karena sedikit ngos-ngosan dan pegel. Sesekali butuh tarik napas dan istirahat sebentar. Biasanya kalau trekking kan bawa keril di belakang. Nah ini, bawa kerilnya di depan. Kerasa banget ngos-ngosannya. Hehehe. Kedua, karena di beberapa jalur, kami menemukan jembatan dan sungai kecil dengan aliran airnya yang tenang dan jernih. Hasrat untuk menyentuh air yang begitu dingin itu tak terbendungkan. Dan ketiga, tentu saja buat foto-foto. Hihihi. Setiap tanjakan dan turunan harus diabadikan!

Setelah turunan dan tanjakan, di situ kadang saya merasa lelah :D
Setelah turunan dan tanjakan, di situ kadang saya merasa lelah 😀

Kurang lebih tujuh puluh lima menit trekking dari starting point, lamat-lamat kami mendengar suara air yang mengalir deraaasss sekali. Itukah Curug Sawer yang kami tuju? Perlahan namun pasti, setapak demi setapak anak tangga berbatu saya turuni. Sungguh saya nggak percaya bisa melewati medan terjal tadi dengan selamat. Alhamdulillah……… Saya berhasil sampai di Curug Sawer! Yeay……… 😀

Tentu saja di sana sudah ada Mbak Gendis dan Diah yang telah tiba duluan, mereka sedang asyik foto-foto. Saat saya berteriak ke mereka, mereka spontan kaget.

“Ya ampun, Ntan. Kita pikir kamu nggak bakal sampai ke sini lho. Bla bla bla………” Diah dan Mbak Gendis antara senang, khawatir, kaget, ketar-ketir. Hihihi. Udah yok ah kita foto-foto aja!

Jadi, untuk menjawab pertanyaan utama di judul kisah ini, tentu semua harus merujuk pada kondisi bumil itu sendiri, baik fisik maupun mental. Pertama, bumil yang benar-benar berhasrat ingin ke Curug Sawer seperti saya, harus yakin akan kondisi janinnya, kondisi fisiknya, dan kondisi mentalnya bahwa ia benar-benar sehat. Kedua, usia kandungan berada di trimester kedua. Saat ke sana, usia kandungan saya sudah 21 minggu. Aman, in shaa Allah. Ketiga, kondisi cuaca. Beruntung karena saat saya ke sana, cuaca sedang sangat bersahabat. Jalur menuju curug pun jadi aman dari terjangan air hujan yang tentunya bisa membuat jalur menjadi basah dan licin. Seandainya cuaca sudah kasih tanda mendung, lebih baik urungkan niat trekking ke Curug Sawer. Ngeri aja jalurnya jadi licin, takut kepleset. Keempat, banyak-banyak berdoa, biar trekking kalian selalu dilindungi Yang Maha Kuasa.

Bagi pejalan yang curug-holic, saya kasih tahu. Curug Sawer ini wajib banget untuk disambangi. Bener kata Nanda, seru banget tempat ini. Selain bisa main di tepian curugnya, kalian juga bisa menyusuri sungainya. Airnya tentu saja jernih dan dingin menusuk tulang. Area curug juga amat bersih. Bebas dari sampah-sampah berserakan. Tersedia juga toilet yang cukup layak dikatakan bersih. Pokoknya Curug Sawer sangat membuat saya betah!

PARADISE……

Deras banget aliran Curug Sawer!
Deras banget aliran Curug Sawer!
Sungai, batu, pohon... PARADISE...
Sungai, batu, pohon… PARADISE…

Ketika hari telah menyore, kami harus segera kembali ke starting point. Di pintu keluar inilah, banyak tukang ojek menawarkan jasa. Howalah, nggak tahunya ada tukang ojek juga. Ada gitu jalur untuk naik motor? *baru tahu*

Awalnya saya sempat tertarik untuk kembali dengan naik ojek. “Kalau sepuluh ribu aku mau deh,” ujar saya ke Fandi, Diah, Mbak Gendis. Mereka juga menyarankan untuk naik ojek aja, takut sayanya kelelahan. Tapi, si tukang-tukang ojek nawarinnya tiga puluh lima ribu masa?

-_____-

Males ah. Mending trekking lagi. Lagipula, saya bukan tipe pejalan yang memanfaatkan ojek, kuda, atau sejenisnya kalau memang masih bisa ditempuh dengan kaki. Rasanya jadi lebih bersyukur masih dipercaya punya kaki sempurna yang bisa dipakai untuk jalan. Hihihi. Alhamdulillah……

Oke para bumil tukang jalan, siapkan fisik dan mental ke Curug Sawer ya! Aduuuuh, jalan-jalan ke sini bakal jadi cerita seru lhoooo buat anak kalian nanti…… 😀 Nggak pengen?

Saya, Fandi, dan Kakak yang masih di dalem perut...
Saya, Fandi, dan Kakak yang masih di dalem perut…
We finished, Kakak... Alhamdulillah...
We finished, Kakak… Alhamdulillah…
Advertisements

4 thoughts on “Curug Sawer, Amankah Untuk Bumil?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s