Kekonyolan Kami Hari Itu


Konyol? Ya, itulah kami jika sudah ngumpul. Saya dan alumni kost Jatisari III 51A. Meski tidak dengan formasi lengkap (karena ngumpul dengan formasi lengkap masih jauh dari harapan), tidak lantas mengurangi kreatifitas kami untuk saling bikin ketawa, membuat kekonyolan, menciptakan kenangan. *halah*

Hari itu, kami sepakat merealisasikan rencana kami untuk nonton film luar angkasa di Planetarium. Untuk mempermudah, kami menunjuk Stasiun Cikini sebagai meeting point kami.

“Jadi jam 10 udah ngumpul di Stasiun Cikini ya!” Begitulah ‘perjanjian’ kami di grup wasap. Perjanjian yang hanya tinggal janji.

Nyatanya jam 10 saja saya baru pamit mandi lantaran saya sempat ogah-ogahan berangkat. Entah apa yang membuat saya tiba-tiba ragu antara berangkat atau tidak. Hihihi. Di tempat lain, Diah masih sibuk antri tiket kereta di Stasiun Tangerang. Udah tahu kosannya paling jauh, berangkatnya teteup aja siang-siang. Itulah manusia bernama Diah. Hanya Lidya dan Mba Ratih saja yang sedikit lebih on time. Sedikit lho ya, nggak banyak. Soalnya mereka juga baru sampai di Cikini sekitar jam 11-an. Hahaha. Sedangkan Mba Gendis sudah ijin lebih dulu kalau dia datang agak telat karena ada urusan sebentar di Depok.

Singkat cerita, sekitar jam 1 siang saya dan Diah yang ternyata satu rangkaian kereta dari Stasiun Manggarai, nggak sengaja dipertemukan di toilet Stasiun Cikini. Ndilalah kok ya kami sama-sama kebelet pipis saat sampai stasiun. Hihihi. Kami berdua lantas segera menghampiri Lidya dan Mba Ratih yang sudah garing menunggu kami di McD seberang stasiun. Makanan dan minuman mereka sampai sudah habis tak bersisa lho saking lamanya menanti kedatangan kami berdua. Hihihi. Maafkeun ya! Karena saya dan Diah lapar, akhirnya kami makan dulu. Saya makan bekal yang saya bawa dari rumah, sedangkan Diah pesan Panas Spesial. Selesai makan, saya dan Diah solat dulu di mushola Stasiun Cikini (balik lagi dong ke stasiun? Ya gitu deh!), sedangkan Lidya dan Mba Ratih pergi sebentar ke Carrefour beli pembalut karena Mba Ratih ternyata sudah kebanjiran 😦 Selepasnya mereka dari beli pembalut, mereka nyamperin kami ke mushola stasiun. Mba Ratih langsung menuju toilet untuk membersihkan bekas kebanjirannya. Di dalam mushola, tiba-tiba Lidya nyeletuk.

funika

“Eh udah hampir jam dua lho. Tiket planetarium-nya udah habis belum ya? Kan ini weekend, biasanya suka rame kalo weekend.”

Mendengar celetukan Lidya itu, saya bergegas beranjak dari mushola dan mengajak Diah untuk duluan ke planetarium, agar kami bisa pesankan tiket masuknya dulu. Lidya biar menunggu Mba Ratih yang masih sibuk di toilet.

Kami pun berjalan keluar stasiun dan menyetop bajay. Tidak sampai sepuluh menit, kami tiba di depan gerbang Taman Ismail Marzuki. Wow, lapangan parkirnya kok kelihatan ramai sekali begini. Firasat saya nggak enak.

Begitu masuk ke gedung Planetarium, terlihat kerumunan orang-orang seperti sedang mengantri. Saya pikir mereka sedang mengantri untuk beli tiket masuk. Tapi kok mereka nggak mengantri di depan loket penjualan tiket? Pas saya lihat ke arah loket, terlihat loket penjualan tiketnya sepi dan………jendela loketnya tertutup!

Diah pun bertanya pada seseorang yang duduk-duduk di depan loket.

“Mba, ini loketnya udah tutup ya?”

“Iya Mba, tiketnya udah habis kejual,” jawab si Mba.

Duar! Kami pun langsung lemes…

-______-

Salah siapa coba???

  • Lidya dan Mba Ratih sudah sampai duluan di Stasiun Cikini dari jam 11 siang. Dan mereka nggak ada inisiatif sama sekali buat beli tiket dulu? Kenapa Lidya baru kepikirannya pas kami lagi di mushola? (kata saya dan Diah)
  • Eh… Siapa coba yang datengnya siang banget? Padahal janjinya jam 10 di Stasiun Cikini. Kami kan setia kawan, makanya kami nungguin kalian di Cikini (kata Lidya dan Mba Ratih).

Ya begitu deh, kami berempat akhirnya saling menyalahkan dan nggak mau ada yang disalahkan. Hahaha. Padahal rencana untuk ke Planetarium sudah dari kapan tahu ada lho. Apalagi saya, sudah sampai kemimpi-mimpi karena ingin sekali ke sini. Mungkin kami sedang lelah dan terlalu saling merindukan satu sama lain. Jadinya malah amburadul rencana awal kami.

Mungkin kami belum berjodoh denganmu :(
Mungkin kami belum berjodoh denganmu 😦

Gagal ke Planetarium, kami membelokan agenda ke es krim Ragusa dan Pasar Baru. Untuk menuju Ragusa, kami berempat naik taksi dari Planetarium. Mba Gendis tentunya langsung menuju Ragusa. Kami ketemuan di sana. Ragusa juga merupakan tempat makan yang sudah lama saya incar, tapi lagi-lagi baru kesampaian sekarang. *Kemana aja Ntan baru ke Ragusa? Maklum, mungkin saya kurang gahol*

Seperti yang sudah dibayangkan, antrian di Ragusa………panjang sekali… Mba Ratih, Diah atau Lidya gitu, saya lupa, langsung mengibarkan bendera putih, tanda tak sanggup untuk mengantri sepanjang itu. Tapi ketika melihat pelayanannya lumayan cepat, saya buru-buru meminta Diah untuk ikutan mengantri.

“Buruan antri Yah… Itu cepet kok antriannya!” Teriak saya. Saya pun turut mengantri bareng Diah. Lidya dan Mba Ratih malah leha-leha di luar. Bukannya inisiatif nggantiin saya ngantri. Saya kan bumil……… Huaaa………

Panjang kan ngantrinya?
Panjang kan ngantrinya?

Saya nyeletuk lagi ke Diah, “Yah Yah… Itu Lidya sama Mba Ratih suruh cari tempat duduk gih. Tuh tuh, udah ada yang mau selesai makan!”

Diah pun buru-buru mundur ke belakang barisan dan meminta tolong mereka untuk hunting tempat duduk. Syukurlah, tidak menunggu begitu lama, pesanan es krim kami sudah siap, tempat duduk pun sudah dapat. Mba Gendis tak lama kemudian akhirnya sampai di Ragusa. Akhirnya…… Selamat makan!

Spaghetti ice cream yang rasanya biasa saja :D
Spaghetti ice cream, kacangnya enak lho 😀

Nah, tujuan berikutnya kan Pasar Baru nih. Dari Ragusa memang dekat, jika………naik kendaraan. Sedangkan kami kan tidak bawa kendaraan. Jadi, kami pun sempat bingung mau naik apa ke Pasar Baru. Lokasinya nanggung sih, antara dekat dan jauh. Sambil memikirkan mau naik apa, kami sambil jalan kaki ke ujung jalan Veteran. Di perjalanan, kami ketemu seorang abang delman. Saya pun nyeletuk, “Naik delman aja yuk!”

“Eh tanya dulu tanya dulu berapa duit. Kalo mahal, enggak ah”, sambar Mba Gendis yang terkenal sadis dalam urusan tawar-menawar.

Ternyata benar, abangnya kasih harga Rp50,000 lantaran harus memutar agak jauh. Pas kami nawar Rp30,000 abangnya menolak.

“Coba coba Rp25,000 mau nggak. Kalo nggak mau, naik busway aja kita,” Mba Gendis bersuara lagi.

Yassalam Mba… Rp30,000 aja kagak mau. Ini disuruh nawar Rp25,000. Dirimu sudah terlalu lelah ya Mba?

-______-

Akhirnya kami pun meneruskan berjalan kaki lagi karena gagal menawar si abang delman. Di ujung jalan Veteran, nggak sengaja kami melihat ada bus city tour yang gratis itu. “Nah naik itu aja yuk, sekalian muter-muter Jakarta!” Kami berlima sontak kegirangan. Saya nggak ketinggalan senang, karena sudah lama juga pengen naik bus itu. *Aduh Ntan, kamu kok kayanya semua-semua belum pernah ya?*

Eh sialnya, itu bus kata supirnya udah penuh, kami diminta menunggu bus selanjutnya. Tapi kami agak lama menunggu berikutnya datang. Hingga akhirnya, sampailah kami pada keputusan, “Udah, naik busway aja yuk!” Mba Gendis yang paling semangat ngajakin naik busway.

Yaaah… Balik lagi deh kita ke shelter busway. Jalan kaki lagi, naik turun tangga pula. Bumil mulai ngos-ngosan nih.

“Eh tapi bukannya naik busway sekarang harus pake kartu ya?”

“Iya sih katanya, tapi masa udah nggak bisa sama sekali pake tunai sih?”

“Bisa kali kayanya, coba aja yuk coba.”

Kami serius sekali berdiskusi.

Sesampainya di loket, “Iya Mba, harus pake kartu sekarang, nggak bisa tunai.”

Jreng……

Mba Gendis pun mengeluarkan kartu Flazz-nya. Tapi pas dicek, saldonya tinggal sepuluh ribu.

“Tuh kan bener nggak bisa tunai.”

“Kalo nge-refill harus di ATM,” Mba Gendis nyeletuk dengan wajah-wajah kecewa gimana gitu.

“Terus kita naik apa? Bajay lagi aja po? Pakai dua bajay gitu.”

“Yaudah yuk, udah keburu sore nih.”

Saya, Lidya, Mba Ratih, dan Diah berjalan duluan menuju seberang shelter untuk nyamperin si abang bajay. Mba Gendis entah lagi apa di loket. Duh, beneran ini udah mulai ngos-ngosan. Efek perut makin buncit sepertinya. Pas kami sedang naik tangga, tetiba Mba Gendis manggil kami dari bawah.

“Eh eh ini udah bisa di-refill. Ternyata refill tunai bisa, nggak mesti di ATM.” Mba Gendis ngomong sambil cengar-cengir.

Allohu Akbar Mba……… Tadi bilangnya kalau refill harus di ATM. Kirain udah nanya juga ke petugas loketnya kalau nggak bisa refill tunai. Ini kaminya udah setengah jalan naik tangga, suruh balik lagi. Lelah kami Mba, lelah………

Habis dibikin bete dan lelah sama Mba Gendis :D
Habis dibikin bete dan lelah sama Mba Gendis 😀

Oke, lupakan.

Yang penting, sesaat kemudian, kami bisa sampai di Pasar Baru, dengan sehat selamat, namun dengan perut keroncongan. Di Pasar Baru, nggak ada niat belanja sih saya. Duit untuk shopping-nya sudah teralihkan ke pos dana wisata. Pokoknya sekarang kemana-kemana mending nabung buat traveling daripada shopping. Sekarang, entah kalau besok.Hihihi.

Saya ke Pasar Baru lagi deh :D
Saya ke Pasar Baru lagi deh 😀

Kalau Mba Ratih, dia berburu celana kain warna biru dongker untuk dipakai selama pembekalan peserta CPNS dan celana apa saja untuk menggantikan celana yang dipakainya sekarang karena bekas kebanjiran tadi. Setelah itu, kami cuma makan siomay bareng-bareng sambil berhaha-hihi, sambil sharing seputar persalinan, seputar parenting, seputar jodoh. Kami nodong Mba Gendis untuk bayarin siomay kami, tapi nggak di-acc. Secara gosipnya Mba Gendis udah mau dilamar gitu sama mas-mas berjam tangan warna merah. Hihihi.

Hari semakin menyore. Time to go home, biar kami nggak kemalaman sampai rumah masing-masing. Keluar dari Pasar Baru, kami melihat jalanan menuju Stasiun Juanda, stasiun tempat kami menunggu kereta untuk kembali ke rumah. Sama seperti jarak Ragusa ke Pasar Baru, jarak Pasar Baru ke Stasiun Juanda juga nanggung! Antara dekat dan jauh.

“Aku nggak deh kalau harus naik busway lagi. Naik turunnya itu, nggak sanggup aku…,” kami semua sudah kelelahan rupanya.

“Yaudah naik bajay deh…”

“Dua bajay ya berarti? Kamu nanti berdua sama Mba Ratih, Ntan…”

“Tawar ya ditawar, Rp15,000 atau Rp10,000 kalo bisa.”

Sejurus kemudian, kami menghampiri salah satu abang bajay. Melihat kami datang berlima, eh si abang bajay-nya malah ngajakin kami berlima masuk semua.

“Kalo bisa muat buat berlima, nggak papa deh Rp20,000 bang!” Mba Gendis kegirangan dapet harga murah.

“Iya bisa kok ini masuk semua,” abangnya yakin banget sepertinya.

Okelah, akhirnya kami berlima bisa masuk ke dalam satu bajay. Yang duduk di depan samping abang bajay adalah Mba Ratih. Sisanya duduk di belakang. Mba Gendis dipangku Lidya biar saya nggak kecempet. Diah di pojokan sebelah kanan, saya di tengah. Wihiy… Sebajay isi enam orang bok! Demi irit di ongkos! Hahaha 😀 Sayang, pas foto keluarga, kami lupa ngajak abang bajay-nya foto bareng sekalian 😀

Foto dulu sebelum turun dari bajay!
Foto dulu sebelum turun dari bajay!

Begitulah cerita kekonyolan kami hari itu. Cerita konyol yang mungkin akan terdengar konyol HANYA di telinga kami saja, bukan orang lain. Lain waktu, ketika kami berkumpul lagi, pasti akan ada cerita konyol lainnya. Cerita konyol yang siap berubah menjadi kenangan manis dan indah yang tak terlupakan. Cieee…… Yuk ah realisasikan ngumpul-ngumpul di Bogor! 😀

Sampai jumpa di Bogor, in shaa Allah...
Sampai jumpa di Bogor, in shaa Allah…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s