Menjauh ke Selatan Sulawesi


Tidak ada latar belakang khusus mengapa saya tiba-tiba ingin menjadikan Sulawesi sebagai titik henti saya berikutnya. Bahkan saya sendiri masih samar-samar dan meraba ada tempat menarik apa di pulau berbentuk huruf K itu. Alasan sederhana saya hanya satu, saya belum pernah ke sana. Setelah berkesempatan ke Sumatra, Kalimantan, dan Bali yang merupakan beberapa pulau utama di nusantara ini, tiba-tiba mencuat saja rencana menjauh ke Sulawesi yang sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu. Tempat yang selalu terbayang pun hanya Makassar. Tidak Bunaken, tidak Wakatobi, tidak Togean, tidak pula Selayar, yang merupakan beberapa wisata pantai dan bawah laut yang ada di Sulawesi.

Saya masih ingat betul, suatu pagi di medio Januari 2015, di sebuah kamar di Wisma MM UGM, saya mendadak teringat hari libur panjang yang jatuh di bulan April 2015. Tanggal merah persis menempati hari Jumat yang menjadikannya long weekend yang menggoda iman. Saya iseng mengintip rate penerbangan CGK-UPG di long weekend tersebut. Sedih, tidak ada harga promo yang ditawarkan. Namun, harga yang dipajang masih dalam batas wajar dan cocok di pos dana wisata kami. Buru-buru saya hubungi Fandi. To the point saya mengajaknya, β€œKe Makassar yuk!”

Dengan keputusan yang sangat kilat saya kami ambil, dua tiket pulang pergi tujuan Jakarta-Makassar pun lunas terbayar! Iya pagi itu juga, hari itu juga. Tentu bukan keputusan tanpa pikir panjang. Dalam waktu sesingkat itu, saya sudah memperhitungkan hampir semua. Yang sangat krusial tentu saja usia kehamilan saya. Di awal April 2015, usia kandungan saya masih di angka 27 minggu. Angka yang masih sangat aman untuk perjalanan menggunakan moda transportasi pesawat terbang. Saya bersyukur, kehamilan saya ini sama sekali tidak mengganggu jadwal jalan-jalan kami. Saya pribadi ingin memperkenalkan calon travel buddy kami ini untuk mencintai alam dan tanah tempatnya akan dilahirkan sejak masih dalam kandungan. So sweet, nggak? Hihihi.

Tiket CGK-UPG (pp) sudah di tangan :)
Tiket CGK-UPG (pp) sudah di tangan πŸ™‚

Hal lain yang secepat kilat saya perhitungkan tentu saja masalah dana, masalah cuti Fandi, dan masalah 5W+1H perjalanan kami ke sana. Ah, masih ada tenggang waktu dua bulan lebih. Waktu yang lebih dari cukup untuk mempersiapkan semua perjalanan babymoon kami tersebut.

Menjauh ke Sulawesi dan tanpa ikut paket wisata tentulah menjadi pengalaman baru lagi bagi kami. Setelah sekian bulan hanya ber-real backpacking ke lokasi yang terbilang dekat, kali ini kami harus siap memulai perjalanan baru menyeberang pulau, secara mandiri, dan dengan membawa travelmate kecil kami. Percayakah, saya benar-benar merahasiakan perjalanan ini dari keluarga dan teman kantor saya! Alasannya tentu saja karena saya tidak ingin mereka terlalu mengkhawatirkan saya dan si Kakak, yang bisa saja membuat seluruh rencana jalan-jalan ini gagal total. Jadi, ketika itu, jika ditanya β€œLiburan tiga hari mau kemana Mba Intan?”, saya cuma nyengir sambil menjawab singkat, β€œDi rumah aja, kan suami nanti pulang ke Jakarta.” Beuh, bohong banget! Batin saya. Hahaha.

Padahal saya, Fandi, dan Kakak mau jalan-jalan ke sini... Hehehe...
Padahal saya, Fandi, dan Kakak mau jalan-jalan ke sini… Hehehe…

Dua minggu menjelang keberangkatan, kami mulai menyusun itinerary. Tidak terlalu sulit karena saya punya narasumber ter-update. Citra, sangat membantu saya membuat gambaran kemana saja kami harus menjelajah selatan Sulawesi. Dari kota Makassar, ada banyak sekali pilihan wisata yang tersuguhkan. Lagi-lagi, semua menggoda iman untuk dijelajahi. Tapi saya kami harus memilah dan memilih titik henti terbaik untuk kurun waktu tiga hari perjalanan kami esok. Pilihan wisata pulau yang perlu menyeberangi laut, terpaksa kami skip. Selain untuk keamanan dan keselamatan si Kakak, saat itu saya lebih tertarik mengeksplor kota Maros, Toraja, dan city tour kota Makassar. Dari cerita Citra di buku antologi kami, Rumah adalah Di Mana Pun, saya makin penasaran untuk melihat tebing karst di Rammang-rammang dan seni penguburan di Tana Toraja. Kami harus ke sana!

Rammang-rammang, desa bertebing karst...
Rammang-rammang, desa bertebing karst…

Selanjutnya, seperti biasa, kami mulai mem-booking penginapan, booking tiket bus ke Toraja, sewa mobil di Makassar, dan sewa motor di Toraja dan Makassar. Kesemuanya kami handle sendiri πŸ˜€ Ini adalah bagian yang paling menantang, menyebalkan, namun juga mengasyikan. Seru deh!

Beberapa catper teman-teman pejalan di mbah gugel sangat membantu kami untuk menentukan berapa budget minimal yang harus sediakan, termasuk informasi terkait tempat wisata yang akan kami singgahi. Makin tidak sabar menyambut hari babymoon kami. Yay!

27w2d di Bantimurung
27w2d di Bantimurung

Tiga hari di selatan Sulawesi, di tiga kota yang sarat kekayaan alam dan budaya, telah meninggalkan banyak cerita perjalanan yang berkesan. Jadi, sepertinya butuh beberapa kali catper untuk menceritakan semuanya. Hehehe. Apa saja yang terjadi selama babymoon kami ke Sulawesi Selatan? Di mana saja kami menghentikan langkah kaki kami? Bagaimana kami mengatasi setiap hambatan yang datang? Sabar ya, catper berikutnya sedang dalam proses pengetikan.

otomotif

Advertisements

One thought on “Menjauh ke Selatan Sulawesi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s