Seharian Bersama Mas Fandy yang Baik Hati


Mas Fandy? Fandi Rosananda? 😀 Hihihi bukan. Kalau Fandi Rosananda mah saya nggak pernah panggil dia pakai “mas”. Lalu, siapakah Mas Fandy itu?

Ketika sudah safely landed di Bandara Sultan Hasanuddin, saya langsung menyalakan hape, berniat menghubungi Pak Halim untuk menginformasikan kalau kami sudah sampai di Makassar. Tapi begitu hape saya menyala sempurna, sebuah sms dari Pak Halim justru sudah duluan sampai.

Slamat pagi bu, ini kontak Driver yg menjemput anda, 0823-4881-2788 an.FANDY Www.hlmrent.com

Begitu isi sms dari Pak Halim yang seketika membuat saya ngikik sebentar, kok namanya bisa persis gitu sama nama suami saya.

Mas Fandy ini orang asli suku Makassar, perawakannya tidak kurus tidak gemuk, tidak terlalu tinggi, berkulit lebih putih dari Fandi, dan belum berkeluarga. Pertama kali bersua kesan yang saya tangkap orangnya tidak banyak cakap. Terbukti saat Fandi tanya ke dia, “Berangkat jam berapa mas tadi dari rumah?” Eh dianya nggak jawab 😀

Kesan kedua yang saya tangkap adalah orangnya kurang kreatif dan kurang paham pariwisata di Maros 😀 Hal tersebut terlihat ketika Mas Fandy nanya ke kami, “Setelah dari bandara, mau ke mana dulu Mbak?”

“Kita ke pool bus Metro Permai dulu ya mas bayar tiket, terus kita cari sarapan. Habis itu kita mau ke Rammang-rammang, Leang-leang, sama Bantimurung. Enaknya kita sarapan apa ya mas?” Saya nyerocos.

Mas Fandy-nya manggut-manggut sembari menjawab, “Kalau sarapan, ini masih terlalu pagi Mbak. Belum pada buka. Yang sudah buka paling nasi kuning.”

“Ya udah nggak apa-apa Mas nasi kuning. Terus nanti kita baiknya kemana dulu ya dari tiga tempat tadi itu?”

“Ooo… Ya terserah Mbak saja mau kemana dulu, nanti saya antar.”

-______-

Iya tahu, maksud saya biar rutenya sejalan dan searah tuh enaknya kita ke mana dulu Mas? Saya membatin. Jawaban Mas Fandy lucu nih. Tapi pada kenyataannya dianya tahu kalau rute wisatanya itu dimulai dari Bantimurung dulu, lanjut ke Leang-leang, baru terakhir ke Rammang-rammang. Aneh kan? 😀

Walaupun awalnya terkesan pendiam, ternyata sesampainya di Bantimurung, suara Mas Fandy baru deh terdengar. Ketika mobil sudah diparkir, dia mulai banyak bicara dan sedikit memberi penjelasan kepada kami tentang Bantimurung. Fandi sudah pegang dua tiket masuk, tapi kami nggak tega membiarkan Mas Fandy menunggu sendirian di lapangan parkir. Akhirnya kami menawarkan Mas Fandy untuk ikut masuk juga.

aksesoris kamera

“Ya kalau tidak keberatan saya ikut ya nggak apa-apa,” Mas Fandy rupanya tidak menolak 😀

Nah dari situlah baru ketahuan kalau Mas Fandy ternyata orangnya nggak pendiam-pendiam amat, wawasannya juga terbilang luas, pokoknya jauh dari kesan awal yang saya tangkap tadi. Hihihi. Sepanjang jalan, dia banyak bercerita dan memberi informasi. Fandi yang duduk di kursi depan lebih banyak bertanya ke Mas Fandy. Jadi tambah akrablah duo Fandi ini. Hahaha.

Orangnya juga sepertinya rajin solat. Pas Fandi berangkat solat jumat di masjid depan Leang-leang, Mas Fandy ikutan solat Jumat. Tapi pas di Pantai Losari, Fandi ngingetin solat magrib, dia bilang, “Nanti saja Mas, saya belum mandi, masih bau.”

Lha piye??? -______-

Yang bikin saya salut sama sikap Mas Fandy adalah ketika dia mau balik lagi ke pintu masuk Leang-leang untuk memanggil guide. Padahal jarak antara pintu masuk ke Leang Pettakere lumayan jauh lho, tanjakannya juga lumayan bikin ngos-ngosan. Tapi dia dengan sukarela menawarkan diri. Setelahnya, dia langsung kecapekan, nggak sanggup naik ke atas lagi nyusul kami. Hehehe.

Mas Fandy ngos-ngosan di Leang Pettakere
Mas Fandy ngos-ngosan di Leang Pettakere

Pelayanan Mas Fandy selama jadi driver kami cukup memuaskan, hampir tidak ada cacat sama sekali. Enak diajak ngobrol, mau diajak muter-muter cari Wisma Favourite, mau mengantar kami sampai ke pool bus Metro Permai. Memang harusnya begitu sih tanggung jawab seorang driver. Iya apa iya? 🙂

Ketika sudah sampai di pool bus, Mas Fandy menawarkan diri untuk menunggu sampai bus kami berangkat atau tidak. Kami yang sudah melihat aura kelelahan dan kantuk di wajah Mas Fandy tentu langsung memintanya untuk langsung pulang saja. Kan tugasnya untuk menemani dan mengantar kami sampai di tujuan akhir sudah selesai. Mas Fandy pun berpamitan dan kami dadah-dadah ke dia.

Terima kasih ya Mas Fandy yang baik hati, terima kasih sudah menemani kami seharian. Sampai jumpa di lain kesempatan 🙂

Mas Fandy nggak mau solat magrib karena belum mandi :D
Mas Fandy nggak mau solat magrib karena belum mandi 😀

Advertisements

One thought on “Seharian Bersama Mas Fandy yang Baik Hati”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s