First Caving, Goa Batu Bantimurung


Kalian harus percaya sama saya bahwa menikmati Bantimurung Bulusarung perlu waktu seharian, dari pagi hingga sore agar kalian bisa benar-benar menjajal tiap objek di taman wisata alam ini. Selain famous dengan taman kupu-kupunya yang menurut informasi ada ratusan spesies kupu-kupu yang menjadi penghuni Bantimurung Bulusarung, ada banyak tempat menarik lainnya lho di kawasan ini. Saya pun baru tahu ketika Mas Fandy mulai bercerita tentang ada apa saja di Bantimurung. Saat itu juga saya langsung sedih karena hanya sempat menyusuri Gua Batu Bantimurung saja. Hiks.

Taman Nasional Bantimurung Bulusarung sendiri lokasinya ada di kabupaten Maros. Dengan mobil, perjalanan hanya butuh waktu sekitar satu setengah jam dari bandara Sultan Hasanuddin. Ikuti saja jalan raya menuju Maros, nanti ada papan petunjuk kok yang mengarahkan ke Bantimurung. Kalau bingung, bisa tanya warga sekitar. Oia, ketika sudah berbelok ke arah Bantimurung, siapkan mata lebar-lebar ya. Kalian akan dimanjakan oleh pemandangan tebing-tebing karst yang pastinya membuat kalian berdecak kagum. INDONESIA…

Tebing-tebing karst yang menjadi ciri khas kota Maros
Tebing-tebing karst yang menjadi ciri khas kota Maros

Di bayangan saya, Bantimurung hanya punya air terjun dan taman kupu-kupu. Jadi, niat awal memasukan objek ini ke dalam itinerary ya karena ingin melihat ke dua tempat itu saja. Setelah melewati pintu masuk Taman Wisata Alam Bantimurung, kami disapa dengan patung kupu-kupu besar yang dibawahnya bertuliskan “Bantimurung The Kingdom of Butterflies”. Tidak jauh dari patung itu, air terjun Bantimurung sudah bisa terlihat. Berhubung masih musim hujan, aliran airnya menjadi sangat deras. Warna airnya pun jadi butek, persis jamu beras kencur. Hehehe. Di sekitar aliran air terjun, wisatawan bisa bermain air. Bahkan beberapa meter darinya dibuatkan semacam kolam renang gitu, mungkin biar lebih aman bagi yang ingin berenang.

Patung kupu-kupu raksasa menyambut kami
Patung kupu-kupu raksasa menyambut kami
Deras dan butek airnya
Deras dan butek airnya

Dari lokasi air terjun, ada pilihan untuk menuju Goa Batu (ke arah kiri) atau ke Goa Mimpi (ke arah kanan). Di Bantimurung ada gua juga ternyata? Iya, ada! 😀 Dan seketika itu juga saya jadi tidak tertarik ke lokasi penangkaran kupu-kupu. Saya lebih tertarik untuk susur gua karena penasaran dengan suasana di dalam gua seperti apa. Kami memutuskan untuk ke Goa Batu Bantimurung (terlebih dahulu). Untuk menuju Goa Batu, kami harus trekking lumayan jauh, sekitar 800 meter dari air terjun. Jalur menuju gua persis di samping aliran air terjun Bantimurung. Jadi, kami bisa tahu dari mana asal air yang jatuh bergelimpahan itu.

Suasana sekeliling kami cukup sepi. Mungkin karena tidak banyak pengunjung yang tertarik mengunjungi gua. Hanya beberapa orang wisatawan yang sempat kami temui sepanjang perjalanan. Sesekali kami berjumpa dengan kupu-kupu penghuni Bantimurung yang ukuran dan warnanya beraneka macam. Cantiknya. Jalan setapak kecil yang kami lalui diapit oleh tebing dan pepohonan di kiri dan air sungai yang berhulu di air terjun Bantimurung tadi di sebelah kanan. Katanya, aliran air sungainya bisa terlihat berwarna biru kehijauan di saat musim kemarau lho. Mendekati mulut Goa Batu, ada sebuah makam tak bernisan yang terletak di jalur sebelah kiri. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan makam itu, tapi ketika menyusun tulisan ini, rupanya makam tersebut banyak dibahas oleh para blogger. Ada yang menyebutkan bahwa makam tersebut adalah makam Raja Bantimurung.

Suasana menuju Goa Batu
Suasana menuju Goa Batu

Tiba di ujung jalan setapak, kami harus meniti tangga setinggi sekitar 10 meter untuk mencapai mulut gua. Ini adalah kali pertama saya melakukan caving. Sayangnya, karena berpegang teguh pada prinsip traveling hemat, kami tidak lantas menyewa guide pribadi dan petromaks untuk menyusuri gua. Ongkosnya lumayan mahal sih, sekitar Rp100,000 kalau tidak salah. Padahal, sangat disarankan untuk minta didampingi guide dan sewa petromaks saat susur Goa Batu ini. Selain sebagai petunjuk jalan, guide bisa memberi keterangan tentang berbagai ornamen batu yang ada di dalam gua. Berhubung kami traveler soleh dan solehah, tanpa menyewa guide dan petromaks pun kami bisa aman menyusuri gua ini. Kebetulan ada rombongan satu keluarga yang datang bersamaan dengan kami, dan mereka menyewa guide lengkap dengan petromaksnya. Jadi kan kami bisa ngintil dibelakangnya sambil sesekali mencuri dengar. Hihihi.

Mulut Goa Batu Bantimurung
Mulut Goa Batu Bantimurung

Memasuki kawasan gua, suasana langsung berubah gelap mencekam. Benar-benar gelap lho, tidak ada cahaya matahari yang masuk sama sekali. Bahkan cahaya dari dua buah senter yang kami sewa seharga Rp60,000 (tuh kan mahal), tidak mampu menerangi sekeliling ruangan di dalamnya. Untunglah kami berjalan berbarengan dengan rombongan keluarga tadi. Sinar yang berpijar dari petromaks mereka dengan jelas mampu memperlihatkan betapa wow-nya bentuk ornamen-ornamen gua ini.

Tadi pas di pintu masuk, kami sempat ditunjukan sebuah batu yang berbentuk seperti wajah manusia. Di dalam gua, selain ratusan stalaktit dan stalagmit yang menghiasi setiap ruang, ada banyak batuan yang bentuknya unik. Sebutlah batu kera, batu akar, batu gajah, dan batu jodoh. Tapi saya nggak sempat memotretnya semua satu-satu, karena terhambat masalah penyinaran tadi itu 😦

Batu berbentuk wajah mirip manusia
Batu berbentuk wajah mirip manusia
Ornamen batu berbentuk akar pohon
Ornamen batu berbentuk akar pohon

Selain gelap, di dalam gua juga terasa pengap, lembab, dan gerah. Padahal jalur sepanjang gua tuh becek dan licin lho akibat tetesan air dari batuan stalaktit. Saya membayangkan seandainya gua ini dijadikan lokasi uji nyali, ada yang berani ikut nggak ya?

Salah satu ruangan di dalam gua
Salah satu ruangan di dalam gua

Di salah satu bagian gua, ada sebuah lorong kecil di mana kami harus sedikit merunduk untuk melewatinya. Di situ pun ada sebuah ember besar untuk menampung air tetesan stalaktit. Airnya dingin. Nampak juga bebatuan stalaktit yang menyatu dengan stalagmit. Entah butuh waktu berapa puluh ribu tahun untuk membentuk semua ornamen unik nan indah ini.

Mata air yang konon bisa bikin awet muda
Mata air yang konon bisa bikin awet muda

Menurut papan informasi yang saya potret tanpa saya baca dulu (duh, payah banget dah saya), selain Goa Batu, ada pula sebuah danau bernama danau Kassi Kebo yang letaknya ada di depan Goa Batu. Uhmmm… Saat itu sih saya tidak begitu memperhatikan, karena saya baru ngeh ada danau ya pas sudah turun ke bawah. Hahaha. Yang saya lihat saat itu hanya sungai saja, di mana bagian sungai dekat mulut gua-nya memang sangat tenang airnya. Itukah yang bernama danau Kassi Kebo? Entahlah.

Inikah yang bernama danau Kassi Kebo?
Inikah yang bernama danau Kassi Kebo?

Setibanya lagi di air terjun, masih ada Goa Mimpi yang menyahut-nyahut kami untuk disusuri. Tertarik sih, namun waktunya mepet. Sudah hampir menjelang tengah hari, sedangkan masih ada dua lokasi lagi yang harus kami kunjungi. Kami pun merelakannya, termasuk merelakan tidak mengunjungi taman kupu-kupu yang entah seperti apa suasana di dalamnya. Kata Mas Fandy sih, kupu-kupunya sedang tidak banyak karena sedang musim hujan. Makanya, besok kalau berencana ke mari, pas musim kemarau aja ya! Agar bisa melihat air terjun yang berwarna bening biru kehijauan dan kupu-kupu yang banyak beterbangan. Hokei? 🙂

kamera digital

Di sekitar area lapangan parkir, banyak dijumpai para penjual cinderamata. Salah satu yang paling banyak dijual adalah hiasan dinding dan aneka kerajianan lain yang terbuat dari awetan kupu-kupu. Uhmmm… Antara setuju dan tidak sih ya dengan bisnis mereka ini. Kalau memang beneran kerajinan yang mereka jual adalah terbuat dari kupu-kupu yang hidup kemudian diawetkan, bukankah itu sama saja dengan mengganggu ekosistem kupu-kupu itu ya? Tapi kalau pihak taman nasional sudah memberikan ijin kepada para pedagang untuk menjualnya dalam bentuk awetan, berarti mereka sudah yakin betul hal tersebut tidak akan berdampak buruk pada kelangsungan hidup si kupu-kupu itu. *Saya kok jadi ngoceh sendiri?*

Deretan penjual cinderamata
Deretan penjual cinderamata

Well, apapun faktanya di lapangan, prinsip yang selalu saya pegang ketika berwisata adalah quote legendaris ini:

Take nothing but pictures, leave nothing but footprints, kill nothing but time.

In shaa Allah, jika tiga hal itu saja sudah mampu kita lakukan, kita sudah bisa berkontribusi aktif dalam pelestarian alam kita. Hihihi, bijak banget sih saya 😀 Correct me if I am wrong ya!

Selamat berlibur!

Advertisements

One thought on “First Caving, Goa Batu Bantimurung”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s