Cerita Tak Biasa dari Yogyakarta


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat

Penuh selaksa makna ~~~

[Yogyakarta – Kla Project]

Camera 360Lagu lawas punya Kla Project tersebut agaknya semakin menyihir kami begitu tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto, Yogyakarta. Kota yang sarat dengan surga wisata ini tidak pernah lelah menerima setiap wisatawan, bahkan di libur lebaran sekalipun. Kami bergegas menuju Hotel Ina Garuda yang terletak di Jalan Malioboro. Bukan, bukan untuk check in, melainkan untuk serah terima motor yang kami sewa.

Libur panjang di hari raya tentu membuat semua harga merangkak naik, termasuk harga sewa motor. Biasanya satu hari hanya kena harga sewa Rp60,000 saja. Tapi berhubung sedang long holiday, harga sewa per harinya menjadi Rp90,000. Tidak apa, tanpa motor ini kami berdua tentu akan kesulitan mengunjungi destinasi menarik pilihan kami pada liburan kali ini.

Malam ini, kami kenyang menyantap nasi gudeg Yu Djum di jalan Wijilan. Di jalan Wijilan inilah sentra makanan khas gudeg berada. Berbagai penjaja gudeg berjajar dari ujung ke ujung. Setelahnya kami bergegas kembali ke hotel tempat kami menginap di daerah Gejayan karena kami perlu tidur agak cepat agar kami bisa bangun dini hari nanti menuju Muntilan, Magelang menuju destinasi menarik pilihan kami yang pertama.

Camera 360Namanya Punthuk Setumbu. Datang ke tempat ini haruslah sebelum jam empat pagi. Terutama bagi wisatawan yang ingin mengabadikan momen Nirwana Sunrise dari bukit ini agar bisa mendapat posisi yang nyaman untuk membidik mentari pagi. Saat kami tiba di area parkir wisata, suasana masih sangat sepi, karena masih jam setengah empat pagi. Namun, sebaiknya tetaplah trekking sampai ke titik pandang. Sebab, semakin siang wisatawan akan semakin ramai berdatangan.

Punthuk Setumbu adalah titik terbaik untuk memandang Candi Borobudur dari kejauhan, sekaligus menyaksikan mentari terbit di sela-sela gagahnya gunung Merbabu dan Merapi. Candi budha terbesar di dunia itu kini terlihat amat kecil dari tempat kami berdiri. Kabut yang menyelinap di antara pepohonan menambah kesan sejuk dan damai. Matahari mulai menampakan cahaya paginya walaupun harus sedikit tertutup awan. Ketika saya menoleh ke belakang, saya mendadak tersadar, rupanya nama Punthuk Setumbu sudah mendunia. Terlihat dari banyaknya wisatawan asing yang mendominasi pengunjung bukit kecil ini sekarang.

wisatawanTiket masuk ke Punthuk Setumbu seharga Rp15,000 saja. Dari area jalan di depan wisata Borobudur, sebaiknya pengunjung minta diantar guide sampai area parkir Punthuk Setumbu. Jalan menuju ke Punthuk Setumbu adalah jalan kampung yang minim petunjuk arah. Kurang disarankan untuk masuk sendiri tanpa guide jika belum paham benar rutenya. Ada mushola dan toilet yang cukup bersih di sini. Warung kecil penjaja minuman hangat dan mie cup siap melayani pengunjung yang kedinginan atau ingin sekedar mengisi perut.

Selepas dari destinasi ini, kami kembali ke hotel untuk istirahat, mandi dan sarapan. Selanjutnya kami hanya berencana ke keraton Yogyakarta dan sekitarnya saja untuk menghabiskan senja. Sebab kami perlu menyiapkan tenaga untuk mengunjungi destinasi menarik pilihan kami yang kedua, candi Prambanan.

bersama penariBukan areal candi Prambanan yang akan kami singgahi, melainkan menonton Sendratari Ramayana atau yang lebih familiar disebut Ramayana Ballet di pelataran candi Prambanan.  Ramayana Ballet merupakan pementasan cantik yang memadukan ragam kesenian Jawa berupa drama, tarian, dan musik dalam satu panggung pertunjukan. Tarian ini terinspirasi dari alur cerita yang terpampang pada relief candi Prambanan. Tidak ada dialog yang diucapkan oleh para penarinya, hanya terdengar tembang gamelan dan nyayian sinden untuk menggambarkan jalannya cerita. Untuk memahami isi dan jalan ceritanya, setiap pengunjung dapat membaca sinopsis kisahnya yang telah disediakan di pintu masuk panggung pertunjukan.

Kami sudah mereservasi dua buah tiket kelas I seharga Rp175,000 per tiket. Sembari menunggu dimulainya pementasan, kami sempat berfoto bersama para penari yang kebetulan melintas di sekitar area pintu masuk. Nuansa malam di sekitar pintu masuk panggung sangat homey. Ada sebuah stand kecil yang menjual makanan dan minuman, ada pula permainan gamelan dan seorang sinden yang menyuguhkan tembang Jawa. Bosan pun lenyap seketika dengan suguhan suasana malam yang bersahabat seperti ini.

sayembaraPementasan Ramayana Ballet tepat dimulai pukul 19.30 dengan opening yang dibawakan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Setelahnya, mulailah terdengar alunan tembang Jawa yang dibawakan live dari para pemain gamelan dan sinden, yang kemudian diikuti oleh babak demi babak alur cerita sendratari ini. Kisahnya yang menarik dibawakan dalam empat babak, yaitu penculikan Dewi Shinta, misi Hanuman ke Alengka, kematian Rahwana, dan pertemuan kembali antara Rama dan Dewi Shinta. Rangkaian gerak gemulai ratusan penarinya dipadukan dengan suara gamelan serta tata panggung dan cahaya yang indah, sukses menyihir setiap penonton yang menyaksikan pementasan ini. Saya pun tidak hentinya berdecak kagum dan bangga dengan salah satu seni budaya Jawa yang telah berhasil menarik para wisatawan mancanegara untuk turut menontonnya. Sebuah kebanggaan.

Salah satu scene favorit saya adalah ketika Hanuman akan dibakar hidup-hidup oleh Rahwana akibat dirinya telah merusak kerajaan Alengka, milik Rahwana.  Seketika itu panggung pementasan menjadi merah menyala karena api yang digunakan adalah api sesungguhnya. Menurut saya, ini merupakan bagian adegan yang  sangat totalitas, menambah hidup jalannya alur cerita.

hanumanScene favorit lainnya adalah saat Rama beberapa kali memainkan panah miliknya, salah satunya ketika akan membunuh Rahwana. Gerakan Rama amat gemulai saat mengambil anak panah dari punggungnya, tapi kemudian ketika dilepaskan lewat busur panahnya, anak panah tersebut mampu mengenai dada Rahwana dengan tepat dan sempurna. Sangat apik.

Pementasan usai tepat pukul 21.30 dengan lima belas menit break setelah scene Hanuman dibakar tadi. Usai pertunjukan, para penonton diperbolehkan naik ke atas panggung untuk berfoto bersama dengan para penarinya.

gamelanSetiap tahunnya jadwal pertunjukan Ramayana Ballet yang digelar pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu (ada kemungkinan berubah pada kondisi tertentu), serta dibagi dalam dua periode, yaitu saat musim hujan dan musim kemarau. Musin hujan terhitung dari bulan Januari sampai April dan November sampai Desember. Pada musim hujan, pertunjukan digelar di dalam ruangan (indoor), yaitu di Tri Murti Theater. Sedangkan pada musim kemarau, yaitu antara bulan Mei sampai Oktober, pertunjukan digelar di panggung terbuka (open air theater). Open air theater ini masih dibagi lagi menjadi dua jenis performance, yaitu episodic dan full story. Pementasan full story inilah yang kami tonton kali ini di panggung terbuka berlatarkan candi Prambanan yang berwarna kuning keemasan.

kamera

Ke Yogyakarta tidak melulu soal Malioboro dan Parangtritis, atau seputar Kaliurang dan Alun-alun Kidul saja. Melipirlah ke salah satu atau kedua destinasi di atas. Lokasinya memang bukan tepat di provinsi Yogyakarta, namun memulai perjalanannya dari kota Yogyakarta tidak masalah bukan? Selamat berkelana!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s