Nekat ke Rammang-Rammang


Ya, bumil yang satu ini memang tidak mau ambil rugi. Gagal ke Rammang-rammang di hari pertama penjelajahannya di selatan Sulawesi gegara hujan deras, tidak lantas menyurutkan niatnya untuk tetap mengunjungi kampung yang konon sangat epik dengan bebatuan karst-nya itu. Jujur, saya sangat nyesek. Hujan deras turun ketika kami sudah berada persis di depan dermaga di mana banyak tertambat perahu kayu yang selalu siap mengantar wisatawan menuju desa yang hanya berpenghuni 16 KK itu. Kami pun memutuskan kembali ke Makassar, dengan satu tekat dalam hati, esok lusa saya harus kembali kesini…

Benar saja, pagi hari sekembalinya dari Toraja (lho kok dari Toraja? Bukannya tadi baliknya ke Makassar ya? Hahaha iya, kan hari kedua memang jadwalnya kami eksplor Toraja), dan setelah berbenah sejenak di wisma, kami langsung tancap gas menuju Maros.

T: Naik apa?

J: Coba tebak…

T: Mobil dong.

J: Boros lah kalau sewa mobil lagi ke Maros.

T: Lha terus naik apa?

J: Motor.

T: HAPAH??? Hamil 7 bulan nekat naik motor dari Makassar ke Maros???

Iya, dan motornya saja bukan dapat dari penyewaan motor lho. Saya sudah berusaha maksimal mencari penyewaan motor di Makassar, tapi entahlah, kok bisa susah bener ketemu sama tukang nyewain motor di kota Anging Mamiri ini.

Alhamdulillah kami dapat pinjaman motor gratis dari mas OB tempat kami menginap. Itu juga karena suatu ketidaksengajaan bertemu mereka di lobby wisma. Kami cukup mengganti bensin motor mas-nya setelah selesai dipakai. Ssst, saat pinjam motormya, kami bilang ke mas-nya mau dipakai untuk muter-muter Makassar saja. Hehehe. Sebabnya kami tidak enak hati kalau harus jujur mengatakan motornya mau dipinjam sampai Maros. Sudah gratis, mau dibawa jauh pula. Kami takut masnya jadi khawatir dan tidak jadi meminjamkan motornya kepada kami. Jadi, berbohong sedikitlah kepadanya agar motornya tetap bisa kami pinjam. Hihihi.

Dengan berucap bismillah, akhirnya, meluncurlah kami ke Maros.

Percaya kah, waktu itu saya hanya bersandal jepit, pakai gamis, tanpa jaket, tanpa masker. Secara kami kan tidak punya plan ke Maros naik motor. Jadi, perlengkapan tempur semacam masker, jaket, dan sepatu pun tentu tidak kami persiapkan dari rumah. Fandi yang hanya pakai kaos lengan pendek, akhirnya menyerah pada teriknya matahari hari itu. Dia memutuskan untuk membeli jaket seharga Rp5.000 yang kebetulan dijual di pinggir jalan. Ndilalah kok ya ada gitu yang kebetulan jual jaket murah di saat kami sedang membutuhkan. Mungkin ini rejeki para traveler soleh dan solehah. Hihihi.

20150405_134117 (1)
Kostum yang seharusnya untuk city tour Makassar 😀
IMG_6606 (1)
Memakai jaket seharga lima ribu rupiah

Perjalanan pun dilanjutkan. Bisa dibayangkan kan, betapa nekatnya kami berdua? Kondisi jalan raya Makassar-Maros sangatlah ramai dan cukup berdebu. Beberapa kali motor kami beradu dengan truk dan bus yang sama-sama melewati jalur tersebut. Mulut dan hati saya tidak berhenti komat-kamit melafazkan doa agar kami bertiga selamat pulang pergi dalam perjalanan ini.

T: Kenapa harus senekat itu sih, Intan? Kamu kan dulu sedang hamil besar? Nggak kuatir dengan kandunganmu?

J: Pertama, selama kita yakin dengan apa yang menjadi jalan pilihan kita, just do it with bismillah. Kedua, desa Rammang-rammang terlalu sayang untuk tidak didatangi mengingat tiket pesawat PP CGK-UPG untuk berdua itu harganya tidak murah lho. Hehehe.

So, bukan berarti saya tidak mengkhawatirkan kondisi kandungan saya saat itu. Justru karena saya amat yakin kandungan saya akan baik-baik saja, sehingga saya akhirnya berani melakukan perjalanan tersebut walaupun dengan perencanaan dadakan.

Perjuangan menggunakan motor selama kurang lebih dua jam yang diselingi dengan perdebatan kecil menentukan arah jalan pun sukses kami lewati. Dengan diantar sebuah perahu kayu berukuran sedang, kami diantar ke lokasi utama tujuan kami, desa Berua, kampung Rammang-rammang. Sejauh mata memandang, kampung ini dibentengi oleh bukit-bukit karst yang aduhai indahnya. Sawah nan hijau kekuningan, seakan memanggil-manggil minta foto bareng saya. Hehehe. Tidak terpungkiri memang, tanah air beta sungguh tiada duanya. We-o-we, WOW!

20150405_123835 (1)
Rammang-rammang hasil jepretan kamera hape Note II

Lalu, apa jadinya ya kalau kami tidak nekat ke Rammang-rammang? Mungkin tidak akan ada cerita beli jaket seharga 5000 perak, mungkin tidak akan ada cerita bumil bonceng motor pakai gamis, mungkin tidak akan ada cerita bertengkar gegara bingung pilih arah jalan, mungkin tidak akan ada cerita-cerita perjalanan nekat kami untuk kami kisahkan kepada Launa dan anak-cucu-cicit kami nanti.

Iya, mungkin tidak akan pernah ada.

20150405_125245 (1)
27 weeks 4 days

Advertisements

One thought on “Nekat ke Rammang-Rammang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s