Rasanya Gendong Bayi ke Puncak Ijen


“In the mountain, there is no boundary between you and the great mother nature. Just let them touch your soul, because those moment only come to you, a mountaineer.” – Hendri Agustin

Berangkat dari pengalaman-pengalaman para orang tua yang berani bawa bayi mungilnya ke puncak gunung, saya pun latah. Bukan sekedar ikut-ikutan kegiatan ekstrem tersebut, melainkan memang sudah niat dari sejak Launa dalam kandungan bahwasanya ia harus kami kenalkan pada alam, sedini mungkin. Tahu sendiri sekarang eranya era digital, semua serba internet dan teknologi. Saya nggak mau Launa ikutan terkontaminasi dengan dunia gadget dan sebangsanya kalau umurnya belum mencukupi. Big no! Maka, setelah Baluran selesai terjelajahi, ke kawah Ijen-lah kami teruskan petualangan kami.

Sudah familiar dengan kawah Ijen kan? Kawah yang mendunia berkat si api biru atau blue fire ini terletak di perbatasan kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi. Blue fire-nya sendiri hanya bisa disaksikan sekitar pukul 02.00-05.00 pagi. Nah lho? Mau nggak mau, kalau kami mau secara langsung melihat fenomena yang hanya ada di Ijen dan Islandia tersebut, kami harus mulai summit sekitar pukul 01.00 dini hari.

Jam satu dini hari? Gimana dengan Launa?

Nah, ini dia momen yang super mendebarkan untuk saya. Setengah satu malam adalah jamnya Launa sudah tertidur pulas. Dengan hati-hati saya mulai memakaikan baju dan celana rangkap tiga, jaket tebal, kaos kaki, dan turban. Launa sedikit menggeliat-geliat, tapi matanya tetap tertutup.

“Jangan bangun dulu ya nok, nanti bangunnya pas di mobil aja,” begitu batin saya. Alhamdulillah, Launa nggak melek sama sekali walaupun sekarang sekujur tubuhnya sudah terbalut berlapis-lapis baju dan celana.

Launa trekking style :D
Launa trekking style 😀

Yes, tahap pertama, aman. Launa tetap tertidur sampai kami mulai perjalanan naik mobil ke pos Paltuding. Dari hotel tempat kami menginap, waktu tempuh ke Paltuding hanya sekitar 45 menit saja. Kami sengaja mencari hotel yang terletak tak terlalu jauh dengan Paltuding agar Launa bisa lebih lama tidur di kasur sebelum kami mulai trekking. Sampai sedetail itulah saya dan Fandi mengatur trip ini. Pokoknya yang didahulukan kepentingannya ya always selalu Launa, Launa, dan Launa. Hehehe.

Ketika kami hampir tiba di pos Paltuding yang mana suasana sekitar masih sangat gelap, saya sedikit terkejut dengan deretan mobil dan puluhan orang yang berdiri di luar. Yakin nih seramai ini? Wah, ngalamat bakal ketemu lautan manusia nih di puncak sana. Persis ketika kami mengunjungi Bromo beberapa tahun silam. Berada di gunung jadi berasa seperti di pasar malam. Riuh bergemuruh suara-suara manusia. Aduh! Nanti fotonya nggak secetar seperti yang ada di google dong? Hahaha.

Bukan di Paltuding. Ini bibir Kawah Ijen.
Bukan di Paltuding. Ini bibir Kawah Ijen.

Oke, lupakan tentang masalah keramaian itu. Sekarang saatnya memindahkan Launa dari pangkuan saya ke gendongan Fandi. Launa akan digendong pakai gendongan depan olehnya. Perlahan, Launa kami berdirikan dan diposisikan sesuai baby carrier yang sudah terpasang di badan Fandi.

“Jangan bangun dulu nok, jangan bangun. Bobok yang nyenyak ya di gendongan Ayah. Kita mulai trekking ya ke Kawah Ijen,” saya membatin lagi.

Sip, tahap kedua aman! Launa tetap tertidur pulas saat ia dipindahkan dari saya ke gendongan Fandi. Tiket masuk sudah di tangan, perbekalan sudah lengkap, doa sudah dilantunkan. Bismillah, mari mulai trekking!

Beginilah rasanya sudah lama nggak olahraga. Baru sebentar jalan nanjak aja rasanya langsung ngos-ngosan. Hehehe. Padahal saya kan nggak bawa beban berat, cuma tas gemblok yang massanya tak seberapa. Gimana dengan Fandi? Jangan ditanya! Launa memang cuma 7,8kg. Tapi dengan keadaan tertidur, tentulah ia akan terasa lebih berat. Mana jalannya nanjak, wah sengkleh-sengkleh deh tuh pundak. Hihihi.

Trek yang kami lalui tidak begitu terjal, kontur jalannya tanah dan tidak berbatu. Namun ada beberapa titik yang agak bergelombang. Meskipun kami lupa nggak bawa senter, jalur trekking masih tetap terlihat. Kan yang lain banyak yang bawa senter. Hehehe. Selain itu, kebetulan langit juga sedang cerah, jadi sinar bulan membantu kami untuk berjalan di tengah kegelapan ini. Aih, suasana yang udah lama banget saya rindukan. Gimana nggak rindu? Terakhir naik gunung tuh bulan April 2014 ke gunung Cikuray. Artinya, hampir dua tahun saya cuti naik gunung! Hahaha, kangennya udah tingkat dewa! Ini aja tergolong setengah naik gunung. Secara nggak sempet bermalam di dalem tenda. Karena bagi saya, naik gunung yang komplit itu harus tidur di dalem tenda, harus masak pakai nesting, dan harus ada summit attack. Halah! 😀

Ini dia waktu singgah di Cikuray. Uhuy!
Ini dia waktu singgah di Cikuray. Uhuy!

Hampir dua jam kami trekking, dan perlahan vegetasi mulai jarang. Siplah, puncak sudah dekat. Bau-bau belarang juga sesekali mulai tercium. Launa sempat terbangun sebentar lantaran minta disusui. Kebayang nggak nenenin bayi di jalur pendakian ke kawah Ijen yang gelap dan sangat dingin? Subhanallah deh rasanya. Mana setelah itu Launa nggak langsung merem lagi pula. Malah nangis minta digendong saya terus. Akhirnya tetap saya gendong sebentar sampai ia merasa tenang lagi sebelum akhirnya tetap Fandi dong yang gendong lagi sampai kawah. Lumayan berat banget soalnya. Hahaha.

Yang perlu diperhatikan saat bawa bayi ke Ijen adalah saat sudah berada di jalur yang vegetasinya sudah mulai jarang. Angin gunungnya berasa banget. Kencengnya luar biasa, suaranya terdengar sangat jelas, dinginnya jangan ditanya. Wah, pokoknya ketika itu isinya cuma komat-kamit baca doa supaya dikasih keselamatan sampai nanti kembali ke bawah.

Her face on way down :D
Her face on way down 😀

Launa yang masih melek tapi ngantuk, anteng di gendongan ayahnya. Anteng pake banget, sampai kami tiba di bibir kawah tempat jam 4 pagi! Duh nok, alhamdulillah kamu kuat sampai sejauh ini. Nggak rewel nggak nangis. Hebat sekali lah kamu!

KITA UDAH SAMPAI DI KAWAH IJEN, NOK! YEAY!

Hampir 2.443 mdpl
Hampir 2.443 mdpl

Dan seketika itu juga, Launa langsung ngrengek, nangis, minta nen lagi. Saya langsung cari bebatuan yang bisa dipakai untuk duduk. Untungnya langit masih gelap. Jadi, meskipun suasana sekeliling saat itu luar biasa ramai, mereka nggak akan ngeh kalau satu di antara mereka, ada seorang ibuk-ibuk yang sibuk lagi nyusui bayinya.

Well, gimana rasanya gendong bayi ke puncak Ijen?

Jangan tanya saya, tanya lah Fandi karena dia yang gendong Launa dari Paltuding sampai puncak. Hehehe.

Pertama, yang pasti bersyukur. Karena dengan persiapan yang ala kadarnya, cuma modal yakin, nekat, dan doa, akhirnya Tuhan ijinkan kami bawa sinok yang usianya belum genap 9 bulan ke ketinggian 2.443 mdpl dengan jalan kaki. Fiuh!

Kedua, pegele puol. Ini penting, karena artinya saya, Fandi, mama, dan juga Trias, harus rutin OLAHRAGA.

Bersyukur tapi pegel :(
Bersyukur tapi pegel 😦

Ketiga, terharu. Lha kok terharu? Iya, karena sepanjang perjalanan naik dan turun, entah ada berapa puluh orang yang nanyain kami. Nanyain Launa sih tepatnya. Mulai dari turis lokal sampai turis internasional. Beberapa ada pula yang minta foto bareng. Bareng Launa tentunya, bukan bapaknya, apalagi emaknya. Hiks. Emaknya mah apa atuh, cuma res-resan bakso goreng.

So, pesan emaknya Launa, monggo dede bayinya dibawa kemari. Belum punya dede bayi? Ya siapa kek yang mau diajak. Bisa kawan lama, sahabat erat, calon pacar, atau tetangga depan rumah. Kawah Ijen makin tahun makin ramai lho. Long weekend tahun 2016 aja udah kaya bedol desa gitu. Gimana tahun-tahun berikutnya? Apalagi saya ikutan mempromosikan begini. Duh!

Pesona Indonesia!
Pesona Indonesia!

So, pesan selanjutnya dari emaknya Launa, please keep the environment clean. Yes? Seramai apapun objek wisata kalau pengunjungnya udah sadar kebersihan, yakinlah wisata tersebut akan tetap indah.

Salam Piknik.

Advertisements

3 thoughts on “Rasanya Gendong Bayi ke Puncak Ijen”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s