Bye Perseid, Bye Bima Sakti


Siapa sangka, saya mendadak terobsesi ingin memotret gugusan bintang di langit yang berkerlip di malam hari? Nggak ada, termasuk saya sendiri. Keinginan itu mencuat begitu saja, ketika saya iri melihat foto bintang hasil jepretan seorang teman, sebut ia Yasinta, yang diunggahnya di media sosial. Sungguh iri hati ini. Betapa tidak, berulang kali saya naik gunung, beberapa kali saya hunting foto, tak pernah sekalipun terbersit ingin foto bintang. Kalau main ke gunung atau pantai, paling banter cuma hunting sunrise dan sunset. Udah, itu aja.

bintang 4
Photo credit: Yasinta Tri Wasiati (Prau, 2016)

Sejak gagal diajarin motret bintang saat camping di Cibodas, karena Yasinta batal ikut camping, hasrat untuk bisa berhasil hunting bima sakti pun makin menjadi. Di chat wasap, dia banyak kasih info tentang tips motret bintang dan bagaimana cara pengaturan kameranya. Sounds easy sebenernya. Tinggal cari waktu dan tempat yang tepat aja. Lalu, Yasinta tetiba cerita tentang bagaimana dan kenapa dia bisa ikut-ikut motret bintang. Rupanya, kalau saja dia nggak ketemu dengan anak-anak @infoastronomy, mungkin dia juga nggak akan kepikiran untuk hunting foto bintang saat itu.

bintang 5
Photo credit: Jejak Pengamat Langit

Berawal dari chat singkat dengan Yasinta itulah, saya akhirnya makin kepo-kepo dengan @infoastronomy. Terlebih dengan trip mereka di awal bulan Agustus lalu ke Karimunjawa untuk berburu hujan meteor perseid dan galaksi bima sakti. Wih, terdengar keren banget kan? Saya pun makin kepikiran, makin penasaran, makin kepo, makin ingin tahu. Tidak ada dalam daftar rencana jalan-jalan kami di tahun ini untuk traveling ke Karimunjawa. Tapi, karena sebuah kesempatan kadang tak datang dua kali, akhirnya dengan di-iya-kan oleh Fandi, awal Agustus lalu kami meluncur ke Karjaw.

Bersama panitia trip yang juga para admin klub astronomi, Jejak Pengamat Langit, kami para peserta trip sudah siap dengan peralatan tempur kami untuk melihat meteor shower perseid yang puncaknya terjadi di tanggal 12 Agustus 2016, sekaligus juga hunting foto galaksi bima sakti yang cantik itu. Cantik? Iya cantik banget, bagi saya. Cantik bagi saya, belum tentu cantik bagi yang lain. Saking terbayang-bayang cantiknya milky way, saya sampai lupa kalau motret bintang itu harus didukung oleh cuaca yang cerah. Senja hari itu cerah lho, bintangnya banyak banget udah nongol di cakrawala. Saya sampai bilang, “Jam segini aja bintangnya udah kelihatan banget, gimana nanti malam ya? Pasti lebih kelihatan.”

bintang 1
Photo credit: Martin Marthadinata (2016)

Namun, alam bisa berkeputusan apa aja. Termasuk berubah dari yang cerah menjadi mendung dan hujan. Siapa sangka, senja yang ditutup dengan kilau puluhan bintang, harus berubah menjadi berawan gelap dan turun rintikan air dari langit. Iya, hujan pun mengguyur dengan derasnya saat kami sudah bersiap dengan kamera yang terpasang kokoh di tripod. Kami yang sudah pewe di tempat masing-masing, mendadak langsung turun lagi ke parkiran, masuk ke mobil, dan kembali pulang ke homestay. Siapa sangka? Nggak ada, termasuk saya sendiri.

Hunting di malam pertama yang gagal, walaupun belum sepenuhnya gagal. Kami masih optimis, begitu hujan reda, jutaan bintang di langit itu akan kembali hadir. Saya ikut-ikut deg-degan, antara pengen banget motret, dan pasrah dengan alam. Kalaupun malam itu tidak dikasih kesempatan, masih ada esok malam. Kalau esok malam pun masih juga tidak berjodoh, yasudah, masih ada hari-hari esok. Masih ada malam-malam berikutnya. Iya, saya menghibur diri sebenarnya.

Dan secara singkat, malam pertama setelah hujan deras mengguyur, kami sempat berjodoh dengan langit cerah bertabur bintang untuk beberapa puluh menit. Di depan homestay yang sedikit terkena polusi cahaya, saya masih mampu menangkap kilatan cahaya meteor di tiga titik. Alkhamdulillah, akhirnya dengan mata telanjang bisa secara langsung melihat fenomena alam yang nggak pernah sekalipun diperhatikan, padahal setiap tahun pasti terjadi. Hujan meteor tidak seperti hujan air yang datangnya berbarengan dan deras. Ia perlu ditatap lama agar tertangkap oleh mata kita. Datangnya pun bisa dari arah mana saja, tidak selalu dari arah langit yang kita tatap. Jadi, nonton meteor shower itu rejeki-rejekian ya? Iya, kalau rejeki ya bisa dapet banyak, kalau nggak rejeki ya, sama sekali nggak dapet. Dan malam itu, kami hanya dikasih rejeki untuk melihat meteor. Karena ketika kami sudah di dermaga dan bersiap memotret bintang, gerimis tetiba datang lagi. Yoweslah, balik lagi kami ke homestay.

bintang 2
Photo credit: Martin Marthadinata (2016)

Di malam kedua, saya cukup sangat berharap cuaca malam bisa lebih bersahabat. Please, saya jauh-jauh ke Karimunjawa bayar 1,2 juta per orang cuma untuk motret bima sakti aja lho. Nggak kasihan kah sama saya. Hahaha. Satu perfect shot aja kok, nggak banyak-banyak. Habis itu langsung bobok lagi. Bisa? Boleh? Diijinkan? Dijodohkan?

Jawabannya …

TIDAK.

Hah? Serius?

IYA. SERIUS.

Terus? Nangis dong?

NGGAK SIH, CUMA NYESEK AJA.

Hmm, kasihan.

bintang 3
Photo credit: Martin Marthadinata

Apa boleh buat, semesta tidak mendukung. Langit di malam kedua kami di sana justru makin bersih dari bintang. Hitam pekat, tak ada satu pun kilau cahaya di langit yang terlihat. Tetiba saya ingat quote Paulo Coelho, “When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” Lalu, apakah quote itu berlaku untuk kami, khususnya saya, di malam itu? It seems not.

IMG-20160803-WA0011
Photo credir: Alfian Widi (Merapi, 2016)

Bye perseid, bye bimasakti. Jika memang kita tidak ditakdirkan bertemu di Karimunjawa, mungkin semesta sedang merencanakan agar kita berjumpa di titik lainnya. Mungkin. Pastinya kapan, biarlah itu menjadi misteri. Eaaa.

***

Special thanks to @yasintaw @martin_marthadinata @jejaklangitcom dan @aansmile yang sudah bersedia berbagi hasil karyanya 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Bye Perseid, Bye Bima Sakti”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s