Sunset Terindah Karimunjawa


Tiada yang lebih menyedihkan selain teringat kejadian ini, gagal berburu hujan meteor perseid dan galaksi bima sakti. Padahal itu adalah tujuan utama trip kami. Namun, nggak perlu lah disesali dan ditangisi terus. Untuk apa, ya kan? Sebab, ada pelangi setelah hujan. Alam tidak hanya punya bintang, ia masih punya matahari. Dan tahukah, matahari senja di Karimujawa tidak berhasil mengecewakan saya!

Berhubung saya bawa Launa, saya jadi kurang bebas mengeksplore setiap titik yang kami kunjungi. Biasanya, saya rajin banget jumpalitan untuk motret apapun yang menurut saya terlihat cantik. Yaaa meskipun hasil jepretan saya masih jauh dari kata cantik. Tapi lumayan lah, foto saya sering dapet banyak like dan love kalau saya share di media sosial. Hehehe. Dan Fandi pun sebenarnya kurang begitu hobi sama kamera. Dia orangnya moody. Kalau lagi semangat moto ya moto, tapi kalau lagi nggak mood ya didiemin aja itu view cakep di depan mata. Kan sebel jadinya.

Senja hari pertama adalah ketika kami baru kembali dari pantai Tanjung Gelam. Senja saat itu kami nikmati dari atas perahu otok-otok yang membawa kami kembali ke homestay. Makin malam, makin terlihat apik warna gradasi senja di kejauhan. Kami disuguhkan fenomena crepuscular rays. Wih, opo kuwi? Istilahnya kok susah banget. Secara singkat, istilah astronomi tersebut artinya adalah cahaya remang-remang di antara cahaya terang. Crepuscular rays terjadi ketika cahaya matahari melewati gumpalan awan dengan sebaran massa yang sangat tidak merata. Lapisan awan sangat tipis akan membentuk bayangan terang sedangkan pada lapisan awan tebal akan membentuk cahaya sangat redup. Mudeng nggak? Hahaha. Biar paham, mari saya kasih unjuk foto fenomena tersebut yang diambil sama koko Martin dari atas perahu.

senja 1
Photo credit: Martin Marthadinata

Ada juga hasil jepretan akang Osep Kaka. Tapi yang ini bukan momen sunset, melainkan sunrise. Nggak konsisten nih sama judulnya. Hehehe.

senja 2
Photo credit: Osep Kaka

Itu tuh yang saya maksud view cakep di depan mata tapi didiemin aja sama Fandi. Zzzzz. Padahal posisi duduk dia di perahu pas banget menghadap ke arah sunset lho. Kamera juga masih full baterry, tinggal dinyalain aja, lalu jepret. Tapi, karena lagi nggak mood, ya dilewatkan begitu saja sama dia. Kezel kan?

Nah, yang paling fenomenal adalah sunset di hari kedua. Kami sengaja datang (lagi) ke Bukit Love untuk berburu sunset. Datang (lagi)? Iyaaaa, karena Bukit Love seharusnya menjadi tempat untuk hunting perseid dan milky way. Tapinya, gagal. Huft. Baper lagi kan.

-______-“

Lupakan.

Sore itu sangat ramai. Maklum, tempat ini memang didesain untuk berburu matahari terbenam. Dari atas bukit ini, pengunjung bisa memandang lautan dengan bebas. Pengunjung juga bisa sepuasnya foto-foto dengan beragam spot unik yang tersedia. Sebutlah tugu Love, tugu Karimunjawa, dan sangkar burung. Saya agak sebel sebenernya dengan foto anak-anak di tempat ini. Karena saya nggak ikutan foto. Hahaha. Ndilalah sore itu Launa sedikit agak rewel. Entah ngantuk, entah kecapaian. Akhirnya saya bawa Launa turun lagi ke bawah dan masuk mobil untuk ngelonin. Alhasil, I missed the sunset moment with them. Hiks.

DSC_0715-01
Foto keluarga
DSC_0758-01
Para pemburu senja
DSC_0765-01
Ngeremin telor

Yang lucu adalah Fandi. Ceritanya, dia dapet posisi duduk paling pewe di atas bukit. Pewe banget deh pokoknya. Tapiii, dia cuma sok-sokan aja moto sunset dengan tripod yang sudah didirikan sampai tinggi banget. Setting kamera aja saya yang ngatur. Karena Launa rewel, akhirnya saya tinggal dia sendirian. Anak-anak kebetulan ngumpulnya di belakang, dekat dengan tugu Karimunjawa. Saya dari bawah cuma ngikik-ngikik aja merhatiin dia. Gaya bangeeettt, udah kaya fotografer beneran. Padahal mah, KAGAK. Hahaha.

Di sinilah kemudian sang penyelamat datang dari situasi celong-nya Fandi. Koko Martin tetiba muncul dan nyamperin dia.

M: “Mau belajar timelapse nggak Mas?”

F : “Nggak Pak, saya mau motret biasa aja.”

Saya ngekek waktu diceritain, kenapa panggilnya harus Pak sih? Kata Fandi, “Kan menghormati yang lebih tua.” Huahahaha, mas Martin berarti sudah ……… dong? Hihihi 😀

Namun, siapa sangka, berkat posisi pewe Fandi tersebut, dia akhirnya bisa jadi bahan objek foto dan timelapse nya mas Martin lho. Hehehe. Coba deh perhatikan foto berikut ini.

sunset
Photo credit: Martin Marthadinata

Fenomenal banget kan? Kalau kata Fandi, “Nggak papa muka nggak kelihatan. Yang penting karena ada aku, feel foto-nya jadi dapet.”

BUAHAHAHA. Ngekek bareng lah kita setelah dia berucap demikian. Berasa seneng banget dia udah bikin foto itu jadi hidup. Kemudian, sama dia, fotonya itu di-share di path, di facebook, di instagram. Hahaha. Kocak banget!

Eh ada lagi nih foto sunset yang nggak kalah fenomenal. Coba lihat ini ya?

DSC_0729-01
Photo credit: Osep Kaka

Keren kan? Kalau saya bilang, foto tersebut dramatis banget. Eh kang Osep nimpalin, “lebih dramatis kalau bang Dapit-nya jatoh mbak.” Hahaha, bener juga ya? Gimana terusan, kita senggol biar dia jatoh? 😀

DSC_0916_7_8_tonemapped
Cantik 🙂

Kalau saya bilang sih, sunset memang lebih cantik jika dipandang dari tepi pantai atau lautan lepas. Entah kenapa, tapi memang begitu, menurut saya. Dua kali menikmati sunset di Karimunjawa, ternyata berhasil menyembuhkan rasa kecewa saya akan gagalnya berjumpa dengan si bima sakti. Me love it.

 

Advertisements

3 thoughts on “Sunset Terindah Karimunjawa”

  1. Mbak Intan,..sepertinya seru bangets liburannya..klo boleh saya minta ijin copas gambar di artikel ini.. boleh ya 🙂 ..heheh
    salam dari karjaw. terima kasih sebelumnya mbak intan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s