Camping Ceria di Ranca Upas


Berhubung belum bisa naik gunung lagi, satu-satunya alternatif untuk mengobati kerinduan akan alam terbuka adalah dengan camping! Setelah camping di Cibodas setahun yang lalu (yampun lama bener), cuma satu tempat yang selalu terngiang-ngiang di benak saya, yaitu Ranca Upas.

Kata seorang kawan yang sudah pernah ke sana, Ranca Upas is not recommended. Katanya, cuma tanah lapang doang, nggak ada apa-apanya. Tapi, saya tetep aja penasaran. Masa iya sih se-not recommended itu? Pasti ada lah sisi-sisi yang bikin Ranca Upas menarik. Kalo nggak menarik, nggak mungkin banyak manusia yang datang ke sana cuma untuk tidur kedinginan di balik sleeping bag. Yekan?

IMG_20170507_082829-02
Ada view kaya gini masa dibilang not recommended?

Lucunya, kawan saya yang bilang Ranca Upas is not recommended itu, tetep mau tuh saya culik buat ikutan camping bareng kami. Hahaha. Mungkin dia sendiri penasaran, karena tempo hari dia ke sana, dia cuma numpang tidur doang, lantaran ada anak kecil di rombongan dia yang rewel dan minta pulang. Hmm, jadi ternyata kamu masih penasaran ya say? Hihihi.

Apesnya, perjalanan kami ke Ranca Upas terhadang macet parah sepanjang Depok-Jatiwaringin-Cikarang. Beuh, bayangkan aja, Depok-Jatiwaringin harus ditempuh selama empat jam perjalanan. Hiks. Ini demi jemput kawan saya ituh, sebutlah ia Nur, yang bilang Ranca Upas is not recommended. Wkwkwk. Aturan dia suruh nyusul langsung aja ya ke Ciwidey. Jadi kami nggak perlu bermacet-macet ria begini selama empat jam. *ketawa jahat*

Alkhamdulillah, selepas dari Cikarang, jalan tol langsung berubah lengang. Tapi waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Mau nggak mau kami harus ishoma dulu, nglurusin badan yang berjam-jam tertekuk oleh kemacetan panjang. Dari pengalaman kami ini, saran saya sih kalau memang berniat ke Ranca Upas dari Jakarta, pertimbangkan waktu tempuh masak-masak. Karena daerah Bekasi-Cikarang menjadi langganan macet parah. Ada baiknya tidak melintas di daerah itu pada jam-jam sibuk. Karena kendaraan kalian pasti bakal stuck banget.

Berpandu pada GPS dan Nur, kami tiba di loket masuk buper Ranca Upas sekitar pukul 11 malam. Kami langsung dimintai uang retribusi, biaya bermalam dan parkir mobil. Total untuk tiga orang sekitar Rp65,000. Kami langsung masuk ke area buper dan mencari lahan untuk mendirikan tenda. Senormalnya manusia kan jam 11 malem harusnya udah pada tertidur pules ya. Eh pas kami sampai di area, ternyata masih super ramai lho. Malah tenda sebelah masih gitaran sambil nyanyi bersuara rada sumbang. Lumayan lah, jadi ada kawan melek.

Kami sendiri tidak langsung tidur begitu tenda sudah selesai didirikan. Masak indomi dan memakannya bareng-bareng ditemani segelas susu hangat terasa nikmat betul malam itu. Launa aja ikut-ikutan melek dan teriak-teriak kegirangan. Entahlah, mungkin ia sebahagia emaknya akhirnya bisa keturutan camping ceria lagi. Ihir.

Esok paginya, saya dibangunkan oleh suara adzan Subuh yang terdengar jelas dari surau di area buper. Mata masih sangat lengket, rasanya masih ingin merengkul di dalam sleeping bag. Tapi, bukankah sangat sayang melewatkan setiap pagi di tempat baru yang baru kali itu kita kunjungi? Saya pun memaksa badan untuk bergerak, keluar tenda dan menerabas dinginnya udara pagi. Brrrr… Hawa dingin kaya gini yang saya rindukan sekali. Menusuk kulit dan tulang sih, tapi bikin kangen.

IMG_20170507_064415-01
Tak ada yang lebih membahagiakan selain pagi yang berkabut seperti ini

Satu per satu anggota camping ceria ini pun bangun, tak terkecuali Launa. Ajaibnya, dia seperti tak terasa kedinginan. Percis seperti saat camping di Cibodas. Diajak keluar tenda, dia langsung mau. Sarapan oreo dan mimik susu coklat hangat. Hmmmm syedap ya nok.

Saat pergi camping, bawalah salah seorang teman yang jago masak, atau setidaknya hobi masak. Karena ia akan sangat berguna untuk membuatkan makanan. Hihihi. Kalau saya, cukup masak yang gampang-gampang aja, seperti nasi, goreng nugget dan bakwan, sama ngerebus air tak boleh ketinggalan.

IMG_20170507_090352-01
Thank you aunty!

Selain camping dan masak-masak, kita bisa melakukan banyak kegiatan lain lho di Ranca Upas. Teman-teman bisa benerang di waterboom, hunting foto di sekitar lokasi buper, outbond, dan melihat rusa sekaligus memberi makan di penangkarannya. Masuk ke penangkaran rusa tidaklah bayar. Tapi kalau ingin memberi makan rusa langsung, kalian perlu membeli wortel dulu di tempat yang telah tersedia. Kalau untuk benerang dan outbond, kurang tahu tarifnya berapa. Soalnya waktu itu kami tidak sempat melakukan kedua aktivitas tersebut.

IMG-20170512-WA0000-01
Males ah foto sama rusa

Nah, karena lokasi Ranca Upas amatlah dekat dengan kawasan wisata Kawah Putih dan Situ Patenggang, maka sebelum beranjak pulang, baiknya mampir dulu ke salah satu atau kedua objek wisata tersebut. Kami memilih untuk ke Situ Patenggang saja, soalnya saya dan Nur sudah pernah ke Kawah Putih. Wkwkwk, curang ya. Cuaca siang itu mendung-mendung kelabu dengan sesekali diselingi sinar cerah mentari. Saat perjalanan ke Situ, hujan gerimis sudah mulai turun. Kami sempat tidak bersemangat karena kami berencana untuk masak makan siang di lokasi sekitar Situ. Tapi tak berapa lama, gerimis berangsur mereda. Sinar matahari kembali terlihat. Yang bikin mata kami tak hentinya merem-melek adalah hamparan kebun teh yang hijau dan luassssss sekali di kanan-kiri kami. Yampun cantik sekali. Layaknya permadani atau karpet atau tiker atau apalah sebutannya. Sungguh memanjakan mata. Ketika masuk ke arena Situ Patenggang, pemandangan danau dari atas kebun teh tak kalah indah. Ckckck, cakep banget. Berasa tak ingin beranjak dari tempat itu.

IMG_4108-01
Bikin mata sehat kalau tiap hari lihat begini

IMG_4087-01
Sendirian aja neng, abang temenin mau nggak?

Kami pun menggelar bahan makanan yang akan kami masak siang itu, di tepian padang teh yang hijau, ditemani semilir angin pegunungan yang sejuk-sejuk adem gimanaaa gitu. Bukan di area Situ-nya ya. Di Situ malah kami cuma mampir sebentar. Kami lebih tertarik menikmati indahnya hijau kebun teh ketimbang naik kapal di area Situ. Hihihi. Padahal masuk ke kawasan Situ lumayan mahal tarifnya. Untuk weekend dikenakan Rp20,500 per orang. Mahal kan?

IMG_4112-02
Masak pecel aja bangga bu.. 😀

IMG_4119-01
Duh, mesra amat yak!

Sayangnya, ketika masakan kami baru benar-benar selesai dan siap disantap, hujan kembali mengguyur. Alhasil, kami makan siangnya di dalam mobil deh. Hahaha.

Jadi, salah besar ya kalau ada yang bilang Ranca Upas is not recommended. Hihihi. Aliran sesat itu, jangan diikutin. Justru sebaliknya, tempat ini sangat baik untuk wisata atau camping ceria bersama keluarga, mengajarkan anak mengenal alam sejak dini, atau bisa juga untuk outing acara kantor. Mau camping tapi tak punya alat camping? Tidak masalah. Di Ranca Upas menyediakan sewa alat-alat camping kok, mulai dari tenda, matras, sleeping bag, dan cooking set. Banyak juga pedagang yang jual nasi uduk, indomi, atau makanan lain. Pokoknya kalau urusan perut mah aman deh.

IMG_20170507_064523-01
Billion stars hotel

Bagaimana? Sudah mulai teracuni untuk menjajah Ranca Upas dan Ciwidey? Ke sana lah weekend ini. Yuukkk!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s