Cara Kami Menikmati Tana Toraja


Flashback sedikit dua tahun lalu, tepatnya bulan April 2015, ketika kami pergi babymoon ke Sulawesi Selatan, tepatnya saat kami akhirnya menapakan kaki di Tana Toraja. Tanah yang bagi saya cukup menarik perhatian karena rumah adat dan tradisi pemakamannya. Lokasi wisata yang cukup memakan waktu panjang untuk bisa mencapainya.

Dari Makassar, kami naik bus Metro Permai tujuan Toraja yang berangkat jam sembilan malam. Kami berangkat dari pool bus yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan. Tiket bus dapat dibeli secara on the spot. Namun, mengantisipasi kehabisan tiket, saya sudah memesan jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Alhasil, tiket pulang pergi Makassar-Toraja, kami selalu dapat seat paling depan dekat dengan pintu bus. Hihihi. Pemesanan online bisa dilakukan by phone di nomor 0411-582734 dan pembayaran bisa dilakukan di hari keberangkatan.

toraja 1
Interior bus Metro Permai

Delapan jam perjalanan dari Makassar ke Toraja terasa nyaman sekali. Bagaimana tidak, fasilitas bus dengan tiket seharga Rp160,000 ini amatlah mewah, serasa naik pesawat. Pesawat kelas ekonomi saja kalah. Hehehe. Satu bus ukuran besar hanya ada sekitar dua puluh enam seat. Kebayang kan betapa luas space antar seat-nya? Kursi penumpangnya sangat empuk, lebar, dan terdapat sandaran kaki, lengkap pula dengan bantal dan selimut. Kabin barangnya pun bak kabin pesawat. Ada fasilitas toilet juga di dalamnya. Tak ketinggalan, masing-masing penumpang mendapat sebotol air mineral. Cukup mevvah kan? Andai saat itu saya tidak sedang hamil besar yang membuat pinggang kadang terasa pegal-pegal, mungkin saya akan bisa lebih menikmati kenyamanan bus Metro Permai itu.

Setibanya di Toraja sekitar pukul setengah enam pagi, tepatnya di agen bus Metro Permai Rantepao, kami segera menghubungi pihak rental motor untuk menjemput kami di lokasi. Dari informasi yang saya dapat, ada sebuah masjid lumayan besar di sekitar agen bus, yang bisa kami gunakan untuk mandi dan beristirahat sejenak. Benarlah, tak ada sekilo meter dari agen bus, masjid itu sudah nampak. Rupanya sepanjang jalan di depan masjid tersebut, merupakan pemukiman penduduk muslim. Di komplek itu juga lah kami menemukan warung makanan halal, tepatnya warung masakan khas Jawa. Hahaha, jauh-jauh ke Toraja, makannya makanan Jawa juga.

toraja 2
Menara masjid besar Rantepao dari kejauhan

Nah, setelah badan bersih, urusan perut beres, dan keril telah kami titipkan ke bapak rental motor, dimulailah wisata kami keliling Toraja hari itu. Sebenarnya, untuk bisa mendalami dan memahami adat dan budaya masyarakat Toraja yang super unik, diperlukan waktu yang tidak sebentar, harus dipandu pula oleh guide atau pun masyarakat lokal yang mengerti betul seluk beluk Tana Toraja. Akan tetapi, kami hanya punya waktu dari pagi hingga maksimal jam enam sore. Mau nggak mau, kami harus pandai-pandai mengeksplor sendiri setiap tempat yang kami kunjungi. Setidaknya, kami bisa mengabadikan dulu lewat gambar. Informasi lebih lanjut tentang gambar itu, bisa kami cari lebih dalam di internet nanti. Hihihi. Cerdas!

Secara singkat, saya beri rute eksplorasi kami di Toraja ya (silakan lihat peta wisata Toraja di bawah). Dimulai dari starting point Rantepao, Toraja Utara, kami menelusur ke arah selatan terlebih dahulu. Kami mendatangi Londa dan Lemo. Kemudian, kami lanjut lagi ke selatan sampai di Makale. Dari Makale, kami belok ke arah timur menuju Kambira. Di rute menuju Kambira ini, kami mulai agak-agak bingung. Bingungnya karena, “mana, kok nggak nyampe-nyampe?” Tambah bingung ketika kami tanya ke penduduk setempat, mereka kasih jawaban yang nggak pasti gitu. Lah? -___- Ternyata, mereka lebih familiar dengan istilah baby grave, bukan Kambira. Ya ya ya, baby grave maksud kami. Hehehe.

toraja 3
Apalah kami tanpa peta sederhana ini :’)
toraja 4
Londa
toraja 5
Lemo
toraja 6
Baby grave Kambira

Dari Kambira, eh maksud saya, baby grave, kami kembali lagi ke Rantepao di utara untuk mendatangi desa adat Kete Kesu dan Karrasik. Untuk menuju keduanya, sebelum sampai Rantepao, tepatnya di persimpangan patung kerbau, atau patung tedong dalam istilah Toraja, kami belok ke arah timur. Tak jauh dari persimpangan patung tedong tadi, kami sampailah di Kete Kesu. Setelah Kete Kesu, barulah kami mampir ke Karrasik.

Nah, rute yang kami lalukan tadi bisa dibalik. Jadi, dari starting point, kalian bisa eksplor Kete Kesu dan Karrasik terlebih dahulu, baru dilanjutkan Londa, Lemo, dan Kambira. Disesuaikan saja, lebih nyaman yang mana.

toraja 7
Kete Kesu
toraja 8
Karrasik

Usai dari Kete Kesu dan Karrasik, kami ishoma sejenak di masjid tempat kami mandi pagi tadi. Cuaca yang cukup cerah saat itu, lumayan bikin bumil kegerahan. Tapi justru makin bikin saya penasaran untuk lanjut eksplor wisata lainnya. Masih ada sisa waktu sekitar tiga jam lagi. Cukup lah kiranya untuk menyambangi Bori Parinding. Sebetulnya, ingin rasanya bisa ke Batutumonga dan Lokkomata. Tapi, lokasi yang terlampau jauh, membuat saya harus memendam asa tersebut.

toraja 11
Salah satu pemandangan yang memanjakan mata kami selama di Toraja

Untuk mencapai Bori Parinding, dari starting point, kami bergerak ke arah utara mengikuti petunjuk arah. Awalnya, papan petunjuk cukup jelas memberi kami info jalur menuju lokasi. Tapi lama-lama kok jadi geje gini? Serupa seperti saat kami mencari lokasi Kambira alias baby grave. Hingga sampailah kami ke suatu tempat yang kami pikir adalah lokasi Bori Parinding, tapi ternyata bukan.

“Bapak maaf mau tanya, arah ke Bori Parinding sebelah mana ya?”

Saya memberanikan diri bertanya ke seorang bapak yang kami temui di jalur yang kami lewati. Jalur yang sangat sepi, penuh pepohonan, banyak rumah-rumah tongkonan, patung tedong, dan batu megalitikum. Batu-batu menhir itulah yang membuat kami mengira disitulah lokasi Bori Parinding.

“Di sana, ke sana.” Si bapak menjawab dengan penuh ketidakpastian. -____-

Waduu, ini sih kayanya si bapak kagak tahu dengan apa yang kami tanyakan. Sepertinya beliau kurang mengerti bahasa Indonesia, makanya beliau pun menjawab sekenanya saja. Kami pun segera kembali ke jalur utama, ingin segera keluar dari lokasi yang sepi sangat itu.

Ketika kami menatap ke langit, ada rasa ragu mau melanjut perjalanan mencari Bori Parinding atau tidak. Warna langit mulai menggelap, perpaduan langit sore dan cuaca yang kian mendung. Saya melihat jam, ternyata masih pukul empat. Masih ada waktu kok, sayang banget udah jauh-jauh sampai sini kalau nggak sampai Bori. Lagian, feeling kami bilang, tujuan kami sudah dekat.

“Yuk, lanjut aja.” Kami mantap meneruskan perjalanan.

Benar saja, tak sampai lima belas menit dari tempat kami nyasar tadi, sampailah kami di tujuan terakhir kami hari itu, situs purbakala Bori Parinding. Sudah terlalu sore rupanya ketika kami sampai sana. Sudah tidak ada petugas yang menjaga loket masuk. Tidak ada siapa-siapa, kecuali seorang perempuan pemilik warung yang terletak persis si seberang Bori. Kata dia, karena sudah sore, jadi tinggal masuk saja ke area situs.

toraja 9
Bori Parinding yang lumayan bikin merinding

Setengah jam kemudian, kami memutuskan kembali ke Rantepao. Beruntunglah sore itu hanya mendung saja yang bergelayut, tidak sampai turun hujan. Di perjalanan menjelang senja itu, kami disuguhkan panorama desa ala Tana Toraja sepanjang jalan. Tongkonan, sawah, gereja kecil, dan perbukitan. Sungguh pemandangan indah yang tak bisa saya lihat setiap hari.

toraja 10
Foto pakai kamera hape

Sesampainya di Rantepao, lagi-lagi kami langsung menuju masjid untuk istirahat dan sholat. Sholat magrib hari itu, kami laksanakan berjamaah di tempat dengan minoritas penduduk muslim. Suatu pengalaman baru bagi saya.

Ketika motor sudah kami kembalikan ke pemilik rental, kami tinggal menunggu datangnya bus Metro Permai yang akan mengantar kami kembali ke Makassar. Ada rasa berat meninggalkan Toraja, serasa kurang puas menelusuri setiap sudutnya. Serasa kurang lengkap menyusuri Toraja tanpa seorang pemandu. Tapi, kami tetap harus pulang, dan menceritakan pada banyak orang bahwa cara kami berkeliling Tana Toraja cukup ramah dikantong dan patut untuk ditiru. Hihihi.

Tips sederhana dari saya ketika ingin keliling Toraja selama seharian full:

  1. Bawalah perbekalan (camilan dan minum) untuk menemani perjalanan kalian.
  2. Jika rombongan hanya terdiri dari 2-4 orang, sewa motor saja untuk berkeliling. Tapi jika jumlah rombongan sekitar 5-7 orang, bisa dipertimbangkan untuk sewa mobil.
  3. Carilah guide atau masyarakat lokal untuk memandu eksplorasi kalian. Ini bertujuan agar kalian paham lebih mendalam mengenai objek wisata yang kalian kunjungi selama di Toraja.
  4. Tentukan ke lokasi wisata mana saja yang ingin kalian kunjungi. Hal ini untuk memperkirakan waktu tempuh dari lokasi satu ke lokasi lain.

Demikian ya teman pembaca sekalian. Intinya mah rugi kalau main-main ke Sulawesi Selatan tapi nggak sempat mampir ke Toraja. Hihihi.

Advertisements

8 thoughts on “Cara Kami Menikmati Tana Toraja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s