Camping di Sukamantri Camping Ground


Membaca beberapa review orang-orang yang sudah pernah ke Sukamantri, membuat saya agak ragu untuk menjadikan Sukamantri sebagai lokasi camping kami kali ini. Pasalnya, jalur sepanjang kurang lebih tiga kilometer sebelum pintu masuk Sukamantri adalah jalanan bebatuan yang tidak rata. Namun, di sisi lain, Mas Fendi dan Mba Ika sudah sempat survei ke lokasi, dan menurut mereka jalur bebatuan yang saya sangsikan tadi terbilang aman untuk dilalui. Baiklah, siang menjelang sore hari itu, saya dan teman-teman pun memantapkan hati untuk berangkat.

IMG_4664-01
welcome to sukamantri

Memasuki jalan bebatuan, saya masih agak tenang. Sebab, batu-batu di awal  jalur masih tergolong kecil dan keadaan jalanannya pun masih rata. Tapiii, makin lama kok batuannya makin gede ya? Krik krik -___- Benar saja, kondisi jalanan makin parah bok, hahaha. Makin ke atas, trek mulai belak-belok membentuk huruf S yang tak kunjung usai. Di beberapa titik, jalur terlihat bergelombang dan berbatu besar. Pfftt. Ini mah cocoknya buat mobil four wheels. Huhuhu. Jadilah selama tiga kilometer yang mendebarkan itu, saya cuma komat-kamit minta diberi keselamatan untuk kendaraan yang kami tumpangi :’)

Jadi…

Kesimpulannya adalah sangat disarankan untuk mengendarai mobil dengan ground clearance yang tinggi ketika akan mengunjungi Sukamantri. Memaksa naik dengan mobil sedan atau sejenisnya berisiko terjedug-jedug di beberapa jalur yang tidak rata dan berbatu besar.

Tiba di pintu masuk camp ground, kami dimintai retribusi sebanyak Rp20,000 per orang dan Rp15,000 untuk parkir. Tanpa bertanya lebih detail, kami pun langsung membayar total retribusi yang disebutkan oleh bapak penjaga. Betapa kagetnya saya ketika menerima lembaran tiket masuk dan tiket parkir. Nominal yang tertulis tidak sesuai dengan nominal yang bapak penjaga tadi sebutkan. Harusnya kami hanya perlu membayar Rp5,000 untuk tiket masuk kawasan, Rp7,500 untuk perijinan camping, dan Rp10,000 untuk biaya parkir. Hmm, mark up harganya banyak sekali ya pak.

Jadi…

Untuk kesempatan berikutnya, ada baiknya kita mintakan dulu lembar tiket atau karcis sebelum kita membayar retribusi. Bukan masalah nominal, tapi ini masalah moral dan kejujuran petugas. Bukankah menjemput rejeki itu harus dengan cara yang jujur dan tidak merugikan pihak lain ya?

Kami memilih lokasi mendirikan tenda tepat di area yang berseberangan dengan pemandangan kota Bogor. Makin malam, gemerlap lampu kota di bawah sana makin terlihat cantik. Mie rebus sebagai menu wajib saat camping pun makin terasa nikmat di lidah. Sluruuuppp.

1505572370524
night shymphony

Sayang seribu sayang, keheningan malam yang syahdu kala itu mendadak dirusak oleh serombongan pengunjung, yang isinya lelaki semua, yang mendirikan tenda persis di samping tenda kami, yang hanya berjarak kurang dari sepuluh meter, yang kemudian mereka gonjrengan dan nyanyi-nyanyi nggak jelas sampai pukul setengah tiga pagi! OH MY GOD! Bisa dibayangkan betapa kami sangat keberisikan dengan suara cempreng mereka? Mau negur, nanti takut diapa-apain. Nggak ditegur, mereka sama sekali nggak merasa bersalah sudah mengganggu tenda tetangga yang jumlahnya nggak cuma satu dua, tapi banyak. Hpfftt. Beruntung, Launa yang sudah pulas terlelap selepas isya, sama sekali tidak terganggu tidurnya. Emang ya nok, kamu beneran anak baik dan pinter banget.

Jadi…

Please ya, be smart and tolerance camper! Silakan aja kok kalau mau gonjrengan dan konser malam-malam. Tapi nggak sampai jam setengah tiga pagi juga kalik. Artis papan atas sekelas Raisa aja paling lama konser cuma dua jam. Lah elu? Artis papan triplek ya?

Malam itu, saya baru benar-benar merasakan tidur nyenyak nan damai ketika alarm hape saya akhirnya berbunyi jam setengah lima pagi. Mau nggak mau, saya tetap harus bangun kan bagaimana pun rasa kantuk ini masih bergelayut di kedua kelopak mata saya? Dan tahukah? Betapa baiknya semesta pagi itu, saat saya membuka pintu tenda dan melongokan pandangan ke langit. Ada bulan sabit dan taburan bintang-bintang yang menyapa saya dengan eloknya. Uwuwu! Cuantik sekali ya Allah. Saya speechless, namun masih bisa berteriak histeris membangunkan Nur untuk tidak melewatkan pemandangan super indah ini. Ah, lumayan banget sebagai penawar kekesalan sama mas-mas tenda sebelah.

1505618998939
crescent moon
1505629608852
orion constellation
IMG_4644-01
start a new day
IMG_4647-01
rumah adalah di mana pun

Menu utama sarapan kami yang seharusnya adalah sayur asem, terpaksa harus berubah haluan lantaran sang koki (sebut dia Nur) kelupaan membawa bahan utamanya. Ya ampun! Padahal bayangan menyeruput kuah sayur asem anget-anget sudah berseliweran sedari tadi. Jadilah bahan-bahan yang ada, yaitu kacang panjang, daun so, cumi, dan tempe, ditumis jadi satu dalam satu nesting. Tumis campur aduk kaya gitu pasti bakal terasa aneh ketika dimasak di rumah. Tapi saat camping, niscaya segala jenis makanan akan terasa sangat nikmat. Apalagi dimakan di saat perut sudah sangat lapar. Hahaha. Kalau kata Mas Fendi, “Hajar, bleh!”.

IMG-20170920-WA0032
sarapan ala billion stars hotel

Camping yang berisi beragam cerita mulai dari awal banget direncanakan sampai akhirnya terealisasi ini, sekaligus menjadi reuni (agak) besar kami berempat. Berlima sih sebenarnya kalau dihitung sama Fandi juga, hahaha. Dari sejak summit bareng ke Papandayan empat tahun lalu, baru saat camping ini lah saya, Nur, Mbak Ika, dan Mbak Sari bisa ngumpul berempat lagi. What a moment banget kan? Impian kami sih, suatu saat nanti kami bisa ngumpul berempat lagi, di lokasi dan cerita yang berbeda tentunya. Semoga yah. Semoga semesta ikut mengamini.

IMG-20170920-WA0029
girls time
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s