Batal Terbang dengan Lion Air


Senin kemarin, saya mendadak harus berangkat ke Jogja. Seharusnya hari Kamis minggu sebelumnya sih, tapi saya mengajukan nego agar bisa dijadwalkan hari Senin saja. Berhubung Launa tidak bisa ikut, saya pun mengkondisikan agar perjalanan saya ke Jogja tidak perlu sampai menginap, cukup pergi pagi pulang malam.

Jumat siang, saya pun mulai berburu tiket pesawat untuk penerbangan paling pagi di hari Senin, sekaligus tiket untuk penerbangan pulang. Ada beberapa alternatif maskapai yang terpampang di situs booking online, termasuk maskapai yang sudah familiar dengan agenda delay-nya. Meski begitu, seumur-umur saya beberapa kali memakai maskapai tersebut, saya belum pernah merasakan jadwal flight yang di-delay olehnya. Pengalaman ribuan orang yang sudah pernah kena jadwal delay maskapai ini rupanya tak membuat saya percaya begitu saja. Pikir saya, “Ah, biasanya kalau jadwal penerbangan pagi sih jarang kena delay.” Begitulah, akhirnya siang itu, berdasarkan jadwal departure dan price, saya tetapkan hati memakai Lion Air untuk flight ke Jogja, sedangkan pulangnya saya putuskan memakai Batik Air.

IMG_4712_1

Dengan jadwal bording pukul 05.25 pagi, setidaknya saya harus sampai di bandara Soekarno Hatta pukul 04.00. Tapi dengan adanya sistem online check-in, saya jadi agak lebih santai berangkat dari Depok. Tepat pukul 03.00 lewat sepuluh menit, taksi biru yang sudah saya pesan siang harinya, mengantar saya ke tujuan. Sepanjang jalan, saya cuma berdoa banyak-banyak agar perjalanan ini bisa membawa saya ke sebuah kantor di Gamping tepat sebelum jam 10.00 pagi.

Ruas jalan menuju Soetta amatlah lengang di pagi buta. Kurang dari satu setengah jam, saya sudah tiba di counter check-in Terminal 1A yang antriannya ternyata sudah sangat panjang. Beruntunglah saya sudah check-in melalui web Lion Air. Saya bisa langsung melenggang menuju boarding room.

Flight JT-544 yang akan saya naiki dijadwalkan boarding melalui gate A13. Sesampainya saya di boarding room, ruangan sudah lumayan terisi penuh oleh manusia-manusia yang juga akan terbang dengan maskapai ini. Dengan mata yang mulai mengantuk, saya pun duduk di salah satu bangku dekat toilet.

Saya menunggu sambil main hape, sambil baca-baca artikel, sambil nonton tv yang ada di ruang tunggu, dan sambil mencuri dengar obrolan para penumpang. Tiba-tiba, ada banyak nama penumpang yang dipanggil ke meja informasi untuk mengambil sesuatu dari orang yang memanggil. Awalnya saya pikir, mereka adalah rombongan tour yang sedang dibagikan entah name tag atau sejenisnya dari agen tour mereka. Tapi kok, rasa-rasanya ada yang aneh ya. Sebab keadaan tersebut terjadi berulang-ulang, antara 3-4 kali. Apa mungkin ada banyak rombongan tour di sini? Batin saya.

Betapa tersentaknya saya ketika akhirnya saya mengetahui bahwa nama-nama penumpang yang dipanggil tadi adalah rombongan penumpang yang menerima uang kompensasi dari Lion Air akibat keterlambatan jadwal penerbangan!

DHWARR!!!

Glek. Saya tertegun. Akankah flight JT-544 tujuan CGK-JOG juga mengalami delay?

Saya mencoba tetap tenang sembari mencari informasi dari penumpang di kanan kiri. Rupanya memang sudah terjadi keterlambatan terbang sejak dari Minggu malam dengan tujuan penerbangan yang beragam. Mulai dari Medan, Surabaya, Tarakan, Makassar, Kupang, Semarang, dan Jojga. Wew!

Saya pun mulai gelisah ketika sudah pukul enam pagi dan penumpang JT-544 belum juga dipanggil untuk boarding. Setiap kali pengeras suara berbunyi, saya berharap agar jadwal penerbangan saya lah yang disebut. Nyatanya bukan, bukan lagi, dan bukan terus. Huaaaaa! Bagaimana ini?

Berhubung saya masih berpikir positif dan optimis bahwa penerbangan saya masih ada harapan untuk diberangkatkan, akhirnya saya memilih tetap menunggu di boarding room. Sampai akhirnya ada seorang ibu yang berteriak lantang, “JOGJA JOGJA, ke gate A3…!”

IMG_4714_1

Saya dan rombongan penumpang lain tujuan Jogja pun bergegas menuju gate A3 sesuai instruksi si ibu tadi. Entah informasi itu benar atau tidak, entah Jogja dengan jadwal flight yang mana, kami tak peduli. Kami hanya fokus saja berjalan ke gate A3. Sesampainya kami di boarding room, bukan main kagetnya saya melihat lautan manusia memenuhi ruangan itu. Ada yang berteriak-teriak, ada yang mencoba merekam dan memotret kondisi boarding room, ada pula yang tetap duduk di bangku ruang tunggu. Mereka adalah para penumpang Lion Air yang terlantar akibat delay parah yang terjadi sejak semalam.

Astaga! -_____-

Kami yang merasa punya jadwal terbang ke Jogja, serentak berjalan ke boarding gate, yang rupanya tidak dijaga oleh petugas sama sekali. Karena penasaran, saya pun bertanya pada salah seorang ibu untuk menanyakan apakah jadwal flight kami sama. Spontan saya tercengang ketika mendengar jawaban si ibu, “Saya JT-xxx. Harusnya berangkat tadi malam. Ini sudah ada 3 jadwal penerbangan ke Jogja yang di-delay sejak semalam mbak.”

DHWARR!!!

Waduh, pusing kepala saya. Perkiraan saya bahwa penerbangan pagi Lion Air tidak akan delay ternyata meleset. Parahnya, delay-nya sudah dari semalam, dan beritanya pun sudah ter-update ketika saya iseng mencari tahu juga lewat google. Wah, ckckck.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, saya ditantang mengambil keputusan untuk membeli tiket maskapai baru yang masih bisa dipesan pagi itu. Sekaligus memberi kabar kepada mbak Windi bahwa ada force majeur yang mengakibatkan delay pada pesawat yang akan saya naiki. Beruntunglah, mbak Windi memaklumi kondisi saya. Sedetik kemudian, saya pun mengajukan refund atas tiket Lion Air saya dan membeli tiket pesawat baru melalui aplikasi booking tiket online. Ada dua maskapai yang pas dengan sisa waktu yang masih ada untuk sampai di Jogja, yaitu Batik dan Citilink. Lebih murah Batik beberapa puluh ribu rupiah, tapi segera saya tinggalkan. Maskapai Citilink-lah yang kemudian menjadi keputusan saya saat itu.

IMG_4720_1

Benar kata pepatah, pengalaman adalah guru yang terbaik. Melalui pengalaman terburuk  memakai jasa Lion Air, dengan ini saya memantapkan hati untuk menjauhkan diri dari menggunakan maskapai tersebut. Saya tidak mengatakan tidak akan lagi atau nggak lagi-lagi pakai Lion Air, karena bisa jadi hanya maskapai itulah yang tersedia untuk suatu tujuan penerbangan saya berikutnya. Jadi, lebih baik saya katakan menjauhkan diri. Hihihi.

Terkait dengan kejadian delay super parah yang berulang kali terjadi di maskapai Lion Air, saya sih tidak akan banyak cakap. Sebab, sudah banyak para penumpang yang menumpahkan kekesalan, kemarahan, kekecewaan, sekaligus berbagai saran dan masukan kepada pihak maskapai. Saya rasa mereka sudah mewakili suara saya. Ada baiknya memang begitu sih, carilah maskapai penerbangan lain sekiranya masih ada opsi selain Lion Air. Nggak papa-lah lebih mahal sedikit, yang penting penumpang tidak dirugikan waktu, tenaga, dan uangnya. Setuju?

Advertisements

2 thoughts on “Batal Terbang dengan Lion Air”

  1. Betul mbak, ketidakpastian cukup merugikan. Minggu lalu naik Lion dari Banjarmasin ke Jakarta. Diperkirakan delay 5 jam, karena pesawat baru berangkat satu jam lagi dari Jakarta. Panik dong orang 2, termasuk saya yg langsung beli tiket kereta jam berikutnya. Ternyata pesawat cuma telat 1 jam, pesawat dari Semarang yg harusnya balik angkut penumpang ke Semarang dialihkan ke Jakarta. Mau refund tiket kereta udah mepet, hangus deh. Alhamdulillah lancar dan selamat, itu saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s