Mengisi Long Weekend di Gunung Pancar


Siapa sih yang tidak gatal untuk pergi berlibur ketika masa libur panjang seperti libur Natal dan tahun baru ini tiba? Meski sudah bisa diprediksi bahwa ruas jalan akan semakin ramai dan macet, namun demi bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang terkasih, mereka rela berlama-lama antri di jalan demi mencapai lokasi wisata yang dituju. Ya, everyone seems to have a vacation! Termasuk juga kami. Hahaha.

Sejak lama, saya sudah penasaran dengan wisata Gunung Pancar. Salah satu objek wisata murah di Sentul, Bogor ini sangat mudah dijangkau dari tempat kami tinggal (baca: Depok). Aksesnya mudah dan bebas macet! Hanya butuh sekitar satu setengah jam perjalanan dengan kendaraan pribadi. Kalau pakai go-car atau grab car, ongkosnya sekitar 120ribu. Tanpa pikir panjang, saya pun mengetuk palu sebagai tanda bahwa Gunung Pancar sah menjadi tujuan wisata long weekend kami.

Kami dan Mbak Yendy sekeluarga, tetangga dekat di komplek, sengaja berangkat pagi-pagi dari rumah agar bisa puas menikmati suasana hutan pinus Gunung Pancar, yang dilihat dari foto yang bertebaran di internet sih nampak sangat teduh dan asri. Kami juga sengaja membawa bekal makanan supaya tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk makan siang di sana. Biar nuansa pikniknya dapet gitu. Hehehe. Peralatan tempur untuk memotret tak lupa kami siapkan. Pasalnya, di sana Mbak Yendy sekalian ingin belajar motret dan hunting foto.

IMG_0713_1

Setibanya kami di gerbang utama wisata Gunung Pancar dan membayar uang retribusi yang alkhamdulillah sama sekali tidak di-mark up seperti kejadian di Sukamantri Camping Ground, ayah Fandi segera mencari lokasi terbaik untuk memarkir mobil. Betapa tertegunnya saya ketika melihat area hutan pinus telah berubah menjadi area parkir mobil dan motor para wisatawan. Laaahhh -______- Rupanya objek wisata ini juga menjadi incaran para pelancong untuk menghabiskan libur panjang mereka tho? Kirain yang ramai mah cuma Puncak dan Lembang doang. Hahaha. Saya langsung hopeless bisa tetap mood atau tidak untuk memotret kecantikan hutan pinus yang tumbuhnya alamak sungguh sangat rapat sekali. Asli, hutan ini sebetulnya magis dan cantik sangat kalau tidak diriuhkan oleh para pengunjung dan mobil-mobil kami. Sayang seribu sayang, karena padatnya kendaraan yang diparkir di area hutan, termasuk juga kendaraan kami huhuhu, nuansa ‘hutan pinus’-nya jadi nggak dapet. Hiks.

IMG_0766_1

But, show must go on, right? Kami bersegera mencari lahan kosong yang bisa kami pakai untuk menggelar dagangan tikar dan membuka bekal makanan kami. Cacing-cacing di perut saya rupanya sudah mulai berdemo minta dipakani. Maklum, dari rumah, saya belum sempat sarapan. Pun begitu dengan ayah Fandi. Maka, nasi dan lauk pauk yang kami buat seadanya dan sederhana itu pun habis dalam sekejap. Ayah Fandi bahkan sampai nambah nasi. Wekekek.

Salah satu pemandangan yang juga membuat saya tercengang ketika tiba di area hutan pinus adalah banyaknya spot foto yang cukup ‘instagramable’ yang sengaja dibuat, dibangun, dibentuk oleh pihak pengelola. Tujuan dari pembangunan area khusus untuk berfoto tersebut tak lain dan tak bukan tentu sebagai daya tarik pengunjung dan sumber penghasilan para pengelola. Pihak pengelola rupanya menyadari tentang habbit wisatawan Indonesia yang hobi selfie maupun wefie. Dengan adanya spot-spot foto itu, yang menurut saya memang cukup menarik, akan semakin memikat para pengunjung untuk mengambil gambar di lokasi-lokasi tersebut. Satu lokasi dikenakan tarif Rp10,000 per satu orang yang memasuki area foto.

IMG_0772_1
Spot foto 1
IMG_0717_1
Spot foto 2
IMG_0711_1
Spot foto 3

Inilah yang tidak kami sadari ketika asyik memotret di sekitar area spot foto. Awalnya, saya, Launa, dan Mbak Yendy hanya berkeliling untuk memotret dari jauh area spot foto tersebut. Namun kemudian, agar Launa betah saya ajak berkeliling, saya mengajaknya menaiki salah satu area spot foto yang cukup cantik dengan hiasan bunga dan sepasang bangku meja. Kami bertiga dengan asyiknya saling memotret dan mengambil gambar dari spot itu. Setelah puas, kami langsung melenggang pergi tanpa tahu bahwa seharusnya kami membayar tarif karena telah memakai spot foto tersebut. Barulah sekitar lima belas meter setelah kami turun dari spot foto tadi, seorang mbak-mbak menghampiri kami sembari berkata.

“Teteh yang tadi foto-foto di atas ya?”

“Iya mbak. Kenapa mbak?”

“Teteh belum bayar tadi teh.”

“Oh. Harusnya bayar tho mbak?”

“Iya teh.”

“Bayar berapa?”

“Sepuluh ribu teh per orang.”

“Oh gitu. Bayarnya ke siapa mbak?”

“Ke saya teh kalau foto di tempat tadi. Yang punya beda-beda soalnya.”

“Oohh.” Saya dan Mbak Yendy melongo.

“Bentar ya teh, saya ambil uang dulu.”

Hahaha. Saya kira nggak bayar, makanya saya dengan entengnya ajak Launa ke atas area spot foto. Rupanya bayar tho? Kalau dari awal tahu harus bayar, kayanya saya bakal berpikir ulang deh mau naik ke area spot foto itu atau nggak. Hahaha. Lumayan soalnya sepuluh ribu, bisa buat beli cilok dua porsi. Wakakak.

Daaan, sesuai dengan perkiraan awal, saya jadi sedikit nggak mood untuk memotret lantaran ramainya suasana hutan pinus hari itu. Ditambah kondisi saya sedang meler dan sedikit batuk. Tambah-tambah bikin nggak semangat untuk moto. Kondisi seperti ini menyadarkan saya kembali bahwa long weekend memang bukan momen yang pas untuk berkunjung ke objek wisata manapun, khususnya bagi orang seperti saya yang suka kesunyian. Sebab konsekuensinya adalah R-A-M-A-I. Pokoknya paling enak mah berlibur pas orang-orang lagi pada ngantor.

IMG_0763_1
Emak jaman now selfie-nya di atas hammock

Namun, setidaknya saya sangat terhibur karena Launa terlihat menikmati momen jalan-jalan keluarga ini. Ketambahan adanya Sakha yang tingkah polahnya bikin pengen nambah anak lagi gemes dan bikin saya pengen nyowel-nyowel terus. Kalau sudah punya buntut, yang terpenting anak happy, maka orang tua pun akan ikut happy. Ya nggak? πŸ™‚

IMG_0760_1
Sakha dan ibun Yendy
IMG_0776_1
Keluarga cemara, atau pinus?

Mengisi long weekend di Gunung Pancar sah-sah saja kok. Hanya, bersiaplah dengan kebingaran ketika sudah sampai di lokasi. Mungkin, karena tergolong wisata murah dan sangat mudah dijangkau dari wilayah Jabodetabek, membuat Gunung Pancar menjadi tujuan favorit liburan keluarga. Oh iya, Gunung Pancar juga memiliki lokasi pemandian air panas, namun kemarin kami sengaja tak berkunjung karena tahu ramainya akan seperti apa. Lokasi air panas ini bisa juga menjadi daya tarik Gunung Pancar lainnya.

Nah, kira-kira, tertarik ke Gunung Pancar saat long weekend, weekend biasa, atau justru saat weekday nih? Selamat memilih ya πŸ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Mengisi Long Weekend di Gunung Pancar”

  1. Ternyata benar ya Mbak, Gunung Pancar dengan hutan pinusnya cantik untuk foto-foto. Sudah beberapa kali saya membaca tentang Gunung Pancar tapi belum juga kesampaian kesana. Salam kenal dari Serpong, Mbak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s