Sepenggal Kisah dari 3142 Mdpl


The mountains are calling, and I must go. – John Muir

Agaknya kalimat pendek itu sedang berlaku pada jiwa ini, yang rindu tentang rapatnya hutan dan desir angin lembah yang menusuk tulang. Saya akui, selama hampir empat tahun tak mendaki, hasrat untuk kembali ke belantara mulai muncul beberapa bulan terakhir. Saya kangen berat, kangen membawa carrier 30 liter dengan perintilan alat-alat pendakian di dalamnya. Kangen dengan pegalnya betis dan paha akibat tanjakan demi tanjakan untuk menggapai puncak. Kangen memandang sunrise dari ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. Kangen menikmati samudra awan yang bergerombol meminta diselami. Ah, orang yang lama tak mendaki dan sedang dirundung rindu pasti tahu bagaimana rasa yang saya rasa sekarang.

1522839071411
View Merapi dari basecamp Selo

Sekitar bulan Oktober 2017 lalu, saya dan Fandi sempat menyusun sebuah rencana untuk mendaki gunung Lawu bersama beberapa teman satu kelompok di kegiatan Kelas Inspirasi Cilacap. Tanggal pendakian telah disepakati, tiket kereta Jakarta-Solo PP pun telah terbeli. Dasar memang belum jodohnya untuk naik gunung, qodarullah mendadak Fandi mendapat tugas kantor yang tak bisa ditinggalkan. Semua rencana buyar tak beraturan. Mood saya mendadak hilang, menguap tak berbekas. Kecewa dan sedih bersatu dengan pedih. Seketika itu pula saya sudah tak punya lagi gairah untuk kembali menyusun rencana pendakian. Percuma! Begitu batin saya berbisik. Kalau memang masih harus off dari kegiatan ini, ya sudah. Kalau sedang rindu dengan suasana alam, ujung-ujungnya paling ya camping lagi camping lagi. As usual. Hehehe.

Beberapa bulan pasca tragedi kegagalan itu, Evi – seorang teman sependakian ke gunung Gede tahun 2013, secara tak sengaja speak-speak tentang keinginannya untuk naik gunung. Awalnya kami hanya ngobrol-ngobrol biasa di rumahnya, sembari saya memotret barang-barang dagangan dia. Obrolan yang bermula dari basa-basi itulah rupanya semakin mengarah ke tahap yang lebih serius, dan berujung pada sebuah kesepakatan untuk mendaki gunung Merbabu. Wew, yakin nih?

Awalnya saya ragu, akahkah Fandi mengijinkan saya pergi mendaki tanpa didampingi olehnya? Tak seperti rencana ke Lawu di mana Fandi memang ikut serta dalam rencana tersebut walaupun tak sempat terealisasi, kali ini saya berniat berangkat sendiri. Pun begitu dengan Evi. Jadi, sebagai mahmud abas (baca: mamah muda anak baru satu), kami berdua setuju untuk ber-me time ria di gunung. Hehehe. Di luar dugaan, Fandi sama sekali tak menentang rencana gila saya untuk mendaki Merbabu bersama teman-teman. Dia justru dengan terbuka mengijinkan saya untuk pergi, sementara dia akan di rumah untuk menjaga Launa. Oh ya Rabb, pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya saya akan pergi mendaki gunung lagi!

Tak lupa saya mengajak seorang sahabat yang entah sudah berapa ratus kali kami jalan bareng selama hampir lima tahun saling mengenal. Nur memang sudah pernah mendaki Merbabu, namun ajakan saya ternyata disambutnya dengan antusias. Katanya, dia ingin mencoba ke Merbabu lewat jalur yang berbeda dengan jalur yang dulu pernah dia lewati.

1522976739376
Pendaki hijabers

Menurut informasi yang saya baca, Merbabu via Selo merupakan jalur pendakian paling favorit di kalangan pendaki. Selain trek yang terbilang paling landai dibanding jalur lain, view sepanjang jalur Selo ini konon katanya sangat indah. Hmm, seindah apakah ia?

***

Singkat cerita, rombongan kami sudah tiba di basecamp Pak Bari sekitar pukul setengah tiga pagi. Dari pihak tour yang menggawangi pendakian kami hari ini, seharusnya pukul delapan pagi kami sudah prepare untuk memulai pendakian. Sayang seribu sayang, bang Bahrun selaku leader tim kami terlambat tiba di basecamp lantaran terjebak macet di perjalanan dari Jakarta ke Solo. Imbasnya, pendakian yang semestinya sudah bisa start jam delapan pagi menjadi molor sampai selepas dhuhur.

Target untuk mendirikan camp di Sabana 1 pun harus sirna. Dengan sisa waktu yang ada, mustahil kami bisa berbarengan tiba di Sabana 1 sebelum maghrib datang. Melihat jumlah personel sebanyak 14 orang, ketambahan Evi yang rupanya mendapat jadwal haid, serta ritme mendaki masing-masing personel yang tentu berbeda-beda, maka bang Bahrun menargetkan kami untuk camp di Pos 3 saja.

Trek dari basecamp ke Pos 1 terbilang masih cukup landai. Landai dalam jalur pendakian gunung jangan disamakan dengan landainya jalan raya ya. Tentulah ada tanjakan demi tanjakan di sepanjang jalur. Kalau jalurnya nggak nanjak, nggak akan sampai puncak dong. Hehehe.

Basecamp ke Pos 1 aman. Walaupun pundak mulai berasa pegal-pegal lantaran membawa beban sekian kilogram. Napas mulai engap-engap, alhasil kali ini trekking saya harus dibantu dengan ranting pohon yang beralih fungsi menjadi trekking pole. Memasuki jalur dari Pos 1 menuju Pos 2, jalur menanjak yang kian curam mulai menyambut langkah kami. Dari titik inilah, tanjakan sadis mulai berdatangan tanpa bisa ditawar. Salah satunya dijuluki sebagai Tikungan Macan. Sebuah tanjakan berkemiringan hampir 70 derajat sekaligus berbelok membuatnya sangat familiar di kalangan pendaki. Di jalur inilah rombongan kami mulai berpencar dengan jarak yang agak jauh. Saya dan Nur lebih dulu berjalan di depan, sementara Evi, Emi, dan Febri sudah tak lagi terlihat. Mereka tentu tertinggal jauh di belakang. Bang Bahrun meminta tim porter yang lebih dulu tiba di Pos 2 untuk menahan rombongan kami agar stay dulu di Pos 2, sembari menunggu personel tim yang masih berada di belakang. Tujuannya tentu agar kami semua tak terpisah jarak terlampau jauh.

1522917958886
Tikungan Macan

Waktu kian menyore, matahari semakin bergerak ke ufuk barat. Tak terasa sekarang sudah hampir jam setengah lima sore. Geluduk sesekali terdengar disertai suasana mendung yang terlihat menggantung di langit. Duh, jangan hujan dulu dong. Batin saya. Saya paling sedih trekking di gunung dengan ditemani hujan. Selain udara akan semakin terasa dingin, beban yang dipikul tentu makin terasa berat karena ujung kepala hingga ujung kaki akan basah. Untungnya, sebelum hujan benar-benar turun, saya sudah tiba di Pos 2.

Di shelter yang ada di Pos 2 inilah saya dan beberapa anggota tim yang telah lebih dulu tiba, menunggu personel lain yang masih berjuang mendaki tanjakan demi tanjakan untuk sampai di pos ini. Rupanya, mendung yang sedari tadi bergelayut tak mampu lagi bertengger di langit. Ia pun turun menjadi tetesan air hujan yang makin lama makin deras. Saya langsung teringat dengan Evi. Apa kabar dia ya dengan kondisi sedang haid begitu? Huhuhu, saya jadi tak enak hati tak membersamainya berjalan. Sekitar pukul lima sore, barulah mereka bertiga tiba di Pos 2 dengan kondisi basah kuyup karena kehujanan.

Tak ingin terlalu lama diam kedinginan di shelter Pos 2, tim kami memutuskan untuk melanjutkan pendakian menuju Pos 3. Hujan masih saja turun, namun tak sederas sebelumnya. Jarak dari Pos 2 ke Pos 3 sebetulnya tak terlampau jauh. Dari Pos 2 saja Pos 3 bisa terlihat dengan jelas. Namun, jarak yang terlihat dekat itu perlu ditempuh dengan tanjakan tak berperikemanusiaan. Pokoknya mah nanjak terus! Hahahaha. Jadi, dari pengalaman ini saya benar-benar merekomendasikan penggunaan trekking pole dalam pendakian. Memang sih, tak semua orang nyaman dengan trekking pole. Tapi, dengan kondisi saya kemarin yang amat kepayahan menyusuri setiap tanjakan curam, trekking pole sangat membantu menopang tubuh saya.

Ada kejadian menggelikan tatkala mendaki dari Pos 2 ke Pos 3. Saya yang akhir-akhir ini sedang amat sensitif dengan udara dingin dan angin, membuat perut menjadi gampang sekali terasa mulas. Bila mulas sudah datang, artinya panggilan alam-pun tak bisa ditawar, harus dipenuhi saat itu juga. Nah, kondisi tersebut mendadak saya rasakan ketika hujan dan angin menghampiri kami sore itu. Rasa mulas di perut mulai datang ketika rombongan kami sudah bersiap untuk mendaki lagi. Saya mencoba menahan sembari berdzikir agar rasa mulas ini pergi. Walaupun memang sempat pergi, tapi selang beberapa menit rasa mulas itu kembali datang. Huhuhu. Kata Nur, saya harus coba menahannya dulu, mengingat hari sudah semakin sore dan suasana sudah makin gelap. Kami harus mengejar waktu agar bisa tiba di Pos 3 sebelum matahari benar-benar menghilang. Hiks, rupanya menahan buang air besar rasanya menyiksa juga ya.

Sekitar jam enam sore, sampailah saya di Pos 3. Saya sudah tak sanggup lagi menahan keinginan buang air besar ini. Dengan terburu-buru, saya lepas jas hujan, keril, dan sepatu, lalu mengambil sandal jepit dan tisu basah dari dalam carrier. Beruntung, hujan sudah benar-benar reda. Bila masih hujan, nggak kebayang gimana nasib saya harus pup sambil hujan-hujanan. Huhuhu.

Ketika bersiap hendak mencari tempat pewe untuk buang air besar, tiba-tiba suara Emi terdengar memanggil saya dan menanyakan saya mau kemana. Rupanya Emi pun sedang merasakan mulas, hahaha. Alhasil malam itu kami berdua trekking mencari lokasi gelap yang sekiranya tak akan dilewati orang, dan secara bersamaan memenuhi panggilan alam yang sudah lama menyeru sejak tadi sore. Sungguh sangat seru pup berdua di atas semak-semak beratapkan langit malam dan ditemani sinar rembulan purnama. Hahaha, geli nggak sih membayangkannya.

1522918390494
Bulan purnama yang menemani saya pup di semak-semak

***

Malam itu saya ingin tidur cepat, walaupun akhirnya saya kesulitan tidur lantaran batuk kering yang belum kunjung sembuh dari sejak seminggu lalu. Istirahat malam saya menjadi kurang berkualitas, tidur hanya sebatas tidur ayam yang sama sekali tak nyenyak. Padahal jam 2 pagi kami harus sudah mulai prepare summit untuk pendakian menuju puncak.

Menurut estimasi waktu yang bang Bahrun hitung, bila jam 2 teng kami sudah start mendaki, maka paling cepat jam setengah enam pagi kami sudah bisa tiba di puncak. Empat setengah jam adalah waktu yang dibutuhkan bila kami berjalan dengan ritme yang teratur, tanpa break yang terlalu lama. Saya cuma modal bismillah dan dzikir terus dalam hati, agar kaki ini mampu membawa tubuh saya hingga tiba di puncak Merbabu.

Jalur yang harus kami tempuh dari Pos 3 menuju Sabana 1 (Pos 4), Sabana 2 (Pos 5), Watu Lumpang, hingga puncak tak berbeda jauh seperti jalur sebelumnya. Tanjakan curam nan sadis. Bahkan di beberapa titik terdapat untaian tali tambang yang dipasang secara permanen untuk memudahkan pendaki menyusuri jalur tersebut. Tanpa bantuan senter maupun headlamp, saya mantapkan langkah demi langkah untuk menyelesaikan proses ini. Sinar bulan purnama yang terang benderang sangat membantu saya menemukan pijakan-pijakan baru untuk setiap langkah kaki yang terus bergerak.

1522918722450
Waiting for sunrise

By the way, sedari awal, saya tak pernah menduga bahwa jalur Merbabu via Selo akan seganas ini. Tanjakannya sungguh menzalimi saya banget. Terlebih, selepas Sabana 1, jalur yang kami telusuri merupakan jalur naik turun bukit. Tak heran, jarak tempuhnya menjadi cukup panjang dibanding jalur pendakian yang lain. Saking sadisnya, saya sempat hampir menyerah saat menyusuri jalur dari Watu Lumpang menuju puncak. Ketika break, sambil memandang jalur ke arah puncak yang masih harus saya lewati, saya berbisik lirih: udah ah, aku sampe sini aja apa ya? Gilak, masih jauh banget. Lagian pemandangan dari atas juga palingan sama kaya dari sini. Begitu batin saya berucap. Padahal pundak cuma bawa beban tas kamera, tapi rasa-rasanya kaki semakin terasa letih dan berat untuk berjalan naik. Tanpa bantuan trekking pole, kadang saya harus berjalan merangkak demi mencapai pijakan yang lebih tinggi. Bener emang ya, usia nggak bisa bohong. Rupanya saya sudah makin tua. Hahahaha.

1522921385454
Titik di mana saya sempat hampir menyerah

Tapi dengan semangat teman-teman yang masih berjuang agar bisa sampai puncak, akhirnya saya kuatkan lagi mental supaya nantinya tak menyesal. Perlahan tapi pasti saya melangkah lagi, terus melangkah ke atas, dengan sesekali melirik pemandangan sekeliling yang benar-benar memanjakan mata. Amboi, lukisan Sang Khaliq memang tak ada duanya.

1522976743799
Beberapa meter sebelum puncak Kenteng Songo

Di persimpangan dua puncak, kami memilih jalur yang berada di kanan dari arah kami datang. Alasannya sederhana, karena terlihat lebih dekat. Hehehe. Tak sampai sepuluh menit dari persimpangan tadi, sampailah kami di salah satu puncak gunung Merbabu, puncak Kenteng Songo, 3142 mdpl. Alkhamdulillaaaaah! Akhirnyaaaaa… Puncak Merbabu! Tanpa disadari, saya sampai mbrebes mili lho. Sebab, rasanya kok perjuangan banget ya bisa tiba di titik ini. Hahaha. Sembari break, saya pun memotret sekeliling dan memandang gugusan bukit, awan, gunung Sindoro-Sumbing, dan juga gagahnya Merapi. Speechless!

1522934151724
View puncak Trianggulasi dari puncak Kenteng Songo

Dari puncak Kenteng Songo, kami sudah tak ada motivasi untuk menyusuri jalur ke puncak Trianggulasi. Padahal jaraknya tak seberapa jauh. Cukup turun bukit sedikit, lalu naik lagi sedikit. Karena tak ada lagi semangat, alhasil puncak Trianggulasi dilewatkan begitu saja. Tapi ketika sudah tiba di rumah, baru deh merasa menyesal kenapa kemarin tidak diperjuangkan juga untuk bisa sampai di puncak Trianggulasi. Huhuhu.!

1522936347508
Di sini, di ketinggian 3.142 mdpl

Terbayar sudah penantian sekian tahun untuk kembali ke belantara. Semua terbayar lunas dengan keberhasilan saya menggapai titik puncak yang baru dalam sejarah hidup saya. Merbabu, sebuah gunung yang terbukti menyimpan panorama alam yang ciamik punya. Walau harus mendapat oleh-oleh berupa pegal di sekujur tubuh, agaknya tak akan membuat saya kapok untuk mendaki lagi dan lagi. Mendaki gunung tak sekedar naik sampai puncak, lalu pulang. Lebih dari itu, kali ini saya memaknainya sebagai proses tadabbur alam, merenungi keindahan alam semesta agar saya bisa lebih banyak bersyukur pada Allah SWT. Harapannya, dengan proses tadabbur ini, tak hanya kenangan indah dan foto-foto perjalanan yang didapat, namun juga meningkatnya keimanan dan ketaqwaan kita pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Aamiin, insyaa Allah.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

3 thoughts on “Sepenggal Kisah dari 3142 Mdpl”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s