Mendadak Ber-night Photography


Sebagai penggemar fotografi yang baru intens mendalami seni memotret ini setahun belakangan, saya kerap memanfaatkan setiap kesempatan untuk sekadar mengabadikan momen langka. Padahal, tahukah bahwa saya sudah punya kamera DSLR sejak 6 tahun silam? Jadi selama 5 tahun lamanya, kamera saya terbilang lebih banyak nganggur ketimbang digunakan oleh pemiliknya. Sedih ih.

Kesempatan baik untuk sekadar hunting ala-ala pun mendadak tercetus ketika mudik lebaran kemarin. Namanya ide yang datang secara tiba-tiba, tentu pesiapannya pun seadanya. Berbekal kamera tanpa tripod, malam itu, saya meminta suami untuk menemani saya memotret beberapa landmark yang ada di kampung halaman saya, Cilacap.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, fotografi malam tentu saja wajib menggunakan tripod. Sayang, tripod yang awalnya sudah saya rencanakan untuk dibawa serta mudik, harus tertinggal di Depok lantaran lupa terbawa. Akhirnya, tak ada rotan akar pun jadi, saya pun memanfaatkan dingklik (sejenis bangku kecil) dan handuk sebagai pengganti tripod.

Sebagai salah satu kota di ujung selatan pulau Jawa, Cilacap banyak menyimpan landmark menarik dan khas untuk dipotret. Tapi untuk memotretnya semua dalam satu malam, tentu waktunya enggak akan cukup. Apalagi hanya berbekal kamera, dingklik, dan handuk. Sudut yang diambil tentu sangat terbatas, hanya bisa menggunakan frog angle. Jadilah saya memilih beberapa tempat ikonik di kota Cilacap yang sekiranya bisa saya potret dengan gear seadanya.

Lokasi pertama yang dituju adalah alun-alun kota, yang familiar dengan tulisan CILACAP BERCAHAYA. Tempat ini epic banget. Siapa pun yang datang ke alun-alun dan gemar berswafoto, pasti akan berfoto dengan background tulisan ini. Berhubung kami enggak dapat tempat untuk memarkir mobil, akhirnya alun-alun kami skip dulu sembari memotret obyek lain.

Lokasi berikutnya yang menurut saya tak begitu ikonik namun cukup menyimpan sejarah dalam kehidupan saya (halah……) adalah Pelabuhan Laut Tanjung Intan. Ssst, jangan salah. Ibu saya memang bekerja di pelabuhan Tanjung Intan, tapi pemberian nama saya sama sekali tidak terinspirasi dari nama pelabuhan ini. Saya lahir jauuuh sebelum Ibu ditugaskan di sini. Hehehe. Yang saya ingat banget tentang Pelabuhan Tanjung Intan yaitu tentang kapal bongkar muat. Dulu semasa saya masih SD, Ibu sering sekali mengajak saya melihat kapal-kapal besar yang sedang melakukan bongkar muat di pelabuhan. Kami datang ketika malam, sehingga saya tidak begitu jelas melihat bentuk detail kapal. Yang pasti kapalnya sangat besar dan saya sungguh antusias dan bahagia jika diajak melihatnya. Hahaha. Barangkali di kesempatan mendatang, boleh nih ajak Launa untuk lihat kapal bongkar muat juga di pelabuhan.

IMG_8328_1

Selepas dari pelabuhan, obyek memotret berikutnya adalah lokasi yang masih berkaitan dengan transportasi. Manakah?

Jawabannya adalah: Stasiun Cilacap.

Loh? Kirain Terminal Cilacap. Hmm, alasannya simple. Karena saya menyukai kereta api. Dan Stasiun Cilacap ini unik lho, sebab stasiun ini buntu, alias kereta hanya bisa datang dari satu arah saja. Karena berada di ujung selatan sekaligus buntu, stasiun ini terbilang tak begitu ramai. Kalah ramai dengan Stasiun Kroya yang notabene adalah stasiun di salah satu kecamatan di Cilacap. Lagi-lagi terkendala tak ada tripod, angle yang bisa dimanfaatkan untuk memotret sungguh amat terbatas. Hiks.

IMG_8336_1

Nah, ceritanya hunting foto kali ini adalah hunting foto pertama kami. Maksudnya, baru kali ini saya pergi mengajak suami HANYA untuk foto-foto. Terlebih obyek yang difoto adalah lokasi yang menurut dia β€˜ngapain sih kaya gitu aja difoto-foto?’ Hahaha. Enggak heran, di perjalanan dari obyek satu ke obyek lain, terjadilah percakapan seperti ini.

Dia: Kepengen banget sih Bun moto di situ?

Saya: Loh. Fotografer kan gitu Yah. Menyengaja dateng cuma buat foto. Ditunggu, sampai dapet momen yang pas.

Dia: Ya kan fotografer. Supirnya enggak.

Saya: Wkwkwk. Ya masa aku suruh pergi sendiri malem-malem. Pengennya sih pergi sendiri, tapi kan ya enggak pantes.

Dia kemudian diam, sambil terus mengemudikan laju kendaraan.

Dia: Terus kemana nih?

Saya: Alun-alun. Habis itu tugu selamat datang. Dah, habis itu pulang.

Dia: Jauh lho tugu selamat datang.

Saya: Halah enggak apa-apa… Biar sekalian.

Dari percakapan singkat itu, kelihatan kan bedanya pergi hunting foto dengan penyuka fotografi dan tidak? Hihihi. Tapi saya cukup (eh sangat ding) bersyukur memiliki suami macam suami saya. Meski enggak suka fotografi dan ujung-ujungnya saya tetap berkeliaran sendiri mencari angle terbaik sementara dia asyik main smartphone, dia selalu rela dan mau mengantar saya ke mana saja HANYA SEKADAR untuk memotret. So sweet kan?

Jadi, karena kami tadi belum sempat memotret di alun-alun, selepas dari stasiun, kami memutuskan kembali lagi ke sana sebelum menuju obyek foto terakhir. Suasana sudah jauh lebih sepi lantaran hari sudah makin merangkak tua. Namun penjual bakso, siomay, wedang ronde, mi ayam, masih betah berjualan di sepanjang trotoar alun-alun. Mereka membuat saya cepat-cepat menyelesaikan tugas tak penting ini sebelum saya kelamaan menjadi bahan tontonan mereka. Bagaimana enggak jadi bahan tontonan? Lha wong saya motretnya bawa-bawa dingklik dan handuk kok. Mau keren, jadi enggak jadi keren deh.

IMG_8337_1

Perburuan malam itu ditutup dengan memotret tugu selamat datang kota Cilacap. Salah satu icon kota Cilacap ya gapura selamat datang ini. Untuk manusia perantauan macam saya, melewati gapura kota Cilacap menjadi sesuatu yang spesial. Apa pasal? Hal itu menjadi tanda bahwa beberapa menit lagi saya akan tiba di rumah! Haaaaa senangnya kalau sudah sampai rumah! Makanya, dalam hunting foto malam itu saya enggak ingin melewatkan memotret pintu gerbang utama menuju rumah.

Yang ter-NIAT ketika memotret gapura ini adalah saya memanfaatkan atap mobil untuk mencari angle yang lebih baik. Rempong ya memang, segala cara dicoba demi mendapatkan hasil yang maksimal walau dengan gear seadanya. Hahaha.

IMG_8345_1

Setelah dari Cilacap, malam lebaran hari kedua kami meluncur menuju kampung halaman suami, Semarang. Cukup lega rasanya ketika mendapati adik ipar masih menyimpan tripod miliknya. Saya tak lagi bingung harus memanfaatkan akar apalagi untuk menggantikan rotan. Hehehe. Meski memang ketika diujicoba, posisi tripod sudah tak lagi seimbang. Salah satu kuncinya pun sudah tak bisa lagi berfungsi. Tak apalah, yang penting masih bisa untuk menyangga kamera saya.

Di Semarang ini saya mengaku bingung! Parah, karena Semarang punya landmark yang lebih dahsyat untuk dipotret kala malam. Namun, ada satu tempat yang langsung saya nomorsatukan untuk disambangi dan dipotret. Tahukah?

Ini dia, Masjid Agung Jawa Tengah.

1529436349040
The majestic of Central Java Grand Mosque

Parah banget memang, terakhir kali saya ke MAJT adalah ketika saya masih kuliah, yang artinya sudah ratusan purnama yang lalu! Padahal, hampir tiap tahun kami selalu mudik ke Semarang. Sungguh ironis ketika kami sering pulang ke Semarang tapi sama sekali enggak pernah kepikiran untuk menyambangi MAJT. Huhuhu.

1529437052537
Can you spot the crescent moon?

Masih seagung saat terakhir kali saya melihatnya. MAJT memang agung, megah, dan sempurna untuk ibadah sekaligus wisata. Saya sengaja mengajak suami untuk datang selepas ashar, berharap bisa puas menikmati pergantian siang menuju malam di pelataran masjid. Dugaan saya tak salah, MAJT di kala senja sungguh menyejukkan. Teduh dan damai. Tak heran, di nuansa idulfitri kemarin, MAJT sangat riuh oleh para pengunjung dan jamaah. Area depan masjid yang kerap digunakan untuk salat Jumat dan hari raya begitu penuh. Launa pun tampak bersemangat lari-larian ke sana kemari saking luasnya area depan masjid tersebut.

IMG_8374
The happy Launa

Ada sebuah menara di MAJT yang bisa pengunjung naiki hingga puncak. Dari atas, view MAJT bisa terlihat sangat jelas secara menyeluruh. Ingin rasanya ke atas menara lagi. Namun, dengan waktu yang terbatas, terpaksa kami harus merelakan tidak menyambanginya.

1529436693199
Menara masjid dan payung ikonik yang diadaptasi dari Masjid Nabawi

Seberes memotret MAJT, kami pun segera melajukan kendaraan ke lokasi berikutnya yang juga tak boleh terlewat untuk dijadikan obyek fotografi malam. Bisa menebak?

Ya, tentu saja Lawang Sewu.

Siapa sih yang enggak kenal Lawang Sewu? Peninggalan sejarah zaman Belanda yang dulu pernah dijadikan kantor Jawatan Kereta Api PJKA ini, makin ramai pengunjung setelah diresmikan sebagai salah satu destinasi wisata tahun 2011 silam. Terlebih bangunannya telah banyak dipugar, sehingga tampak lebih rapi, bersih, dan fresh. Tak hanya siang, Lawang Sewu juga bisa dikunjungi kala malam hingga jam 9. Sebab itulah, saya tak ingin menyiakan kesempatan untuk ngubek-ngubek dan motret bagian dalam Lawang Sewu di kala gelap.

IMG_8420-01

Dengan harga tiket masuk sebesar Rp10,000 untuk dewasa dan Rp5,000 untuk anak-anak, kami bisa puas berkeliling ke segala penjuru Lawang Sewu. Tidak keseluruhan sih, karena ada ruang-ruang tertentu (salah satunya ruang menuju loteng) yang dilarang untuk dimasuki.

1529495228654

Gila! Parah banget deh cantiknya Lawang Sewu pas malam. Pemburu night dan architecture photography pasti bakal betah berlama-lama di gedung tua ini. Dengan bangunan yang unik dan khas tempo dulu, ditambah dengan lampu-lampu temaram di setiap sudut, membuat Lawang Sewu makin sempurna untuk dijadikan lahan memotret.

1529553910463

Lokasi terakhir yang kami datangi demi memuaskan hasrat memotret adalah Kota Lama. Di benak saya, Kota Lama yang khas dengan Gereja Blenduk-nya adalah obyek yang pasti cukup menarik untuk difoto. Saya mengira bangunan gereja tersebut akan banyak tersorot oleh lampu-lampu di sekitarnya sehingga bentuk blenduk-nya akan jelas terlihat. Namun, ketika kami sudah ditempat: ZONK. Iya sih area taman Sri Gunting yang terletak persis di seberang gereja memang sangat terang dengan sinar lampu di sana-sini. Tapi, bangunan Gereja Blenduk-nya sendiri sama sekali gelap, bro. Kalah terang dengan sinar lampu yang menerangi area taman. Huhuhu.

IMG_8431
Taman Sri Gunting yang begitu riuh dengan pengunjung

Banyak hal yang sangat membuat saya tercengang dengan perubahan Kota Lama. Kini banyak sekali kios yang menjual beragam macam benda-benda kuno di sepanjang jalan di salah satu sisi taman. Tak hanya itu, masih di salah satu sisi taman, disediakan booth khusus untuk berfoto dengan tema yang berbeda-beda. Namun kesemua tema sepakat bernuansa gaya tempo dulu. Ada kotak sukarela yang diperuntukan bagi setiap pengunjung yang ingin berfoto di booth. Pun begitu di area taman sendiri. Pengelola wisata menyediakan sepeda kuno, becak, lampu-lampu yang digelantungkan di pohon, sebagai obyek menarik untuk para pengunjung berswafoto. Kota Lama kini semakin hidup kala malam. Sangat kreatif!

IMG_8436
Launa udah enggak minat difoto
IMG_8437
Launa udah ngantuk
IMG_8433
Kios di sepanjang salah satu sisi Taman Sri Gunting

Menghabiskan dua malam untuk HANYA memotret cukup membuat saya lega. Mengapa? Karena akhirnya enggak sia-sia saya bawa-bawa kamera dan lensa yang volumenya cukup memakan space di mobil. Hehehe. Dengan menyengaja datang ke beberapa landmark di Cilacap dan Semarang ini, sekaligus juga memberi wawasan dan kenangan baru pada Launa. Menjelang usia ketiganya, Launa sudah makin mudah dan cepat dalam menangkap dan mengingat sesuatu. Makanya, perlu lebih sering diajak vacation nih bocah, yang artinya emak bapaknya harus lebih rajin banting tulang demi mengumpulkan dana untuk rutin traveling. Wkwkwk. Semoga Allah selalu kasih rezeki yang cukup ya nduk untuk kita jalan-jalan lagi. Aamiin πŸ™‚

Advertisements

One thought on “Mendadak Ber-night Photography”

  1. Hello admin, i’ve been reading your content for some
    time and I really like coming back here. I can see
    that you probably don’t make money on your blog. I know one interesting method of earning money, I think you will like it.
    Search google for: dracko’s tricks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s