Category Archives: Sulawesi Selatan

Cara Kami Menikmati Tana Toraja

Flashback sedikit dua tahun lalu, tepatnya bulan April 2015, ketika kami pergi babymoon ke Sulawesi Selatan, tepatnya saat kami akhirnya menapakan kaki di Tana Toraja. Tanah yang bagi saya cukup menarik perhatian karena rumah adat dan tradisi pemakamannya. Lokasi wisata yang cukup memakan waktu panjang untuk bisa mencapainya. Continue reading Cara Kami Menikmati Tana Toraja

Nekat ke Rammang-Rammang

Ya, bumil yang satu ini memang tidak mau ambil rugi. Gagal ke Rammang-rammang di hari pertama penjelajahannya di selatan Sulawesi gegara hujan deras, tidak lantas menyurutkan niatnya untuk tetap mengunjungi kampung yang konon sangat epik dengan bebatuan karst-nya itu. Jujur, saya sangat nyesek. Hujan deras turun ketika kami sudah berada persis di depan dermaga di mana banyak tertambat perahu kayu yang selalu siap mengantar wisatawan menuju desa yang hanya berpenghuni 16 KK itu. Kami pun memutuskan kembali ke Makassar, dengan satu tekat dalam hati, esok lusa saya harus kembali kesini…

Benar saja, pagi hari sekembalinya dari Toraja (lho kok dari Toraja? Bukannya tadi baliknya ke Makassar ya? Hahaha iya, kan hari kedua memang jadwalnya kami eksplor Toraja), dan setelah berbenah sejenak di wisma, kami langsung tancap gas menuju Maros.

T: Naik apa?

J: Coba tebak…

T: Mobil dong.

J: Boros lah kalau sewa mobil lagi ke Maros.

T: Lha terus naik apa?

J: Motor.

T: HAPAH??? Hamil 7 bulan nekat naik motor dari Makassar ke Maros???

Iya, dan motornya saja bukan dapat dari penyewaan motor lho. Saya sudah berusaha maksimal mencari penyewaan motor di Makassar, tapi entahlah, kok bisa susah bener ketemu sama tukang nyewain motor di kota Anging Mamiri ini.

Alhamdulillah kami dapat pinjaman motor gratis dari mas OB tempat kami menginap. Itu juga karena suatu ketidaksengajaan bertemu mereka di lobby wisma. Kami cukup mengganti bensin motor mas-nya setelah selesai dipakai. Ssst, saat pinjam motormya, kami bilang ke mas-nya mau dipakai untuk muter-muter Makassar saja. Hehehe. Sebabnya kami tidak enak hati kalau harus jujur mengatakan motornya mau dipinjam sampai Maros. Sudah gratis, mau dibawa jauh pula. Kami takut masnya jadi khawatir dan tidak jadi meminjamkan motornya kepada kami. Jadi, berbohong sedikitlah kepadanya agar motornya tetap bisa kami pinjam. Hihihi.

Dengan berucap bismillah, akhirnya, meluncurlah kami ke Maros.

Percaya kah, waktu itu saya hanya bersandal jepit, pakai gamis, tanpa jaket, tanpa masker. Secara kami kan tidak punya plan ke Maros naik motor. Jadi, perlengkapan tempur semacam masker, jaket, dan sepatu pun tentu tidak kami persiapkan dari rumah. Fandi yang hanya pakai kaos lengan pendek, akhirnya menyerah pada teriknya matahari hari itu. Dia memutuskan untuk membeli jaket seharga Rp5.000 yang kebetulan dijual di pinggir jalan. Ndilalah kok ya ada gitu yang kebetulan jual jaket murah di saat kami sedang membutuhkan. Mungkin ini rejeki para traveler soleh dan solehah. Hihihi.

20150405_134117 (1)
Kostum yang seharusnya untuk city tour Makassar 😀
IMG_6606 (1)
Memakai jaket seharga lima ribu rupiah

Perjalanan pun dilanjutkan. Bisa dibayangkan kan, betapa nekatnya kami berdua? Kondisi jalan raya Makassar-Maros sangatlah ramai dan cukup berdebu. Beberapa kali motor kami beradu dengan truk dan bus yang sama-sama melewati jalur tersebut. Mulut dan hati saya tidak berhenti komat-kamit melafazkan doa agar kami bertiga selamat pulang pergi dalam perjalanan ini.

T: Kenapa harus senekat itu sih, Intan? Kamu kan dulu sedang hamil besar? Nggak kuatir dengan kandunganmu?

J: Pertama, selama kita yakin dengan apa yang menjadi jalan pilihan kita, just do it with bismillah. Kedua, desa Rammang-rammang terlalu sayang untuk tidak didatangi mengingat tiket pesawat PP CGK-UPG untuk berdua itu harganya tidak murah lho. Hehehe.

So, bukan berarti saya tidak mengkhawatirkan kondisi kandungan saya saat itu. Justru karena saya amat yakin kandungan saya akan baik-baik saja, sehingga saya akhirnya berani melakukan perjalanan tersebut walaupun dengan perencanaan dadakan.

Perjuangan menggunakan motor selama kurang lebih dua jam yang diselingi dengan perdebatan kecil menentukan arah jalan pun sukses kami lewati. Dengan diantar sebuah perahu kayu berukuran sedang, kami diantar ke lokasi utama tujuan kami, desa Berua, kampung Rammang-rammang. Sejauh mata memandang, kampung ini dibentengi oleh bukit-bukit karst yang aduhai indahnya. Sawah nan hijau kekuningan, seakan memanggil-manggil minta foto bareng saya. Hehehe. Tidak terpungkiri memang, tanah air beta sungguh tiada duanya. We-o-we, WOW!

20150405_123835 (1)
Rammang-rammang hasil jepretan kamera hape Note II

Lalu, apa jadinya ya kalau kami tidak nekat ke Rammang-rammang? Mungkin tidak akan ada cerita beli jaket seharga 5000 perak, mungkin tidak akan ada cerita bumil bonceng motor pakai gamis, mungkin tidak akan ada cerita bertengkar gegara bingung pilih arah jalan, mungkin tidak akan ada cerita-cerita perjalanan nekat kami untuk kami kisahkan kepada Launa dan anak-cucu-cicit kami nanti.

Iya, mungkin tidak akan pernah ada.

20150405_125245 (1)
27 weeks 4 days

First Caving, Goa Batu Bantimurung

Kalian harus percaya sama saya bahwa menikmati Bantimurung Bulusarung perlu waktu seharian, dari pagi hingga sore agar kalian bisa benar-benar menjajal tiap objek di taman wisata alam ini. Selain famous dengan taman kupu-kupunya yang menurut informasi ada ratusan spesies kupu-kupu yang menjadi penghuni Bantimurung Bulusarung, ada banyak tempat menarik lainnya lho di kawasan ini. Saya pun baru tahu ketika Mas Fandy mulai bercerita tentang ada apa saja di Bantimurung. Saat itu juga saya langsung sedih karena hanya sempat menyusuri Gua Batu Bantimurung saja. Hiks. Continue reading First Caving, Goa Batu Bantimurung

Seharian Bersama Mas Fandy yang Baik Hati

Mas Fandy? Fandi Rosananda? 😀 Hihihi bukan. Kalau Fandi Rosananda mah saya nggak pernah panggil dia pakai “mas”. Lalu, siapakah Mas Fandy itu?

Ketika sudah safely landed di Bandara Sultan Hasanuddin, saya langsung menyalakan hape, berniat menghubungi Pak Halim untuk menginformasikan kalau kami sudah sampai di Makassar. Tapi begitu hape saya menyala sempurna, sebuah sms dari Pak Halim justru sudah duluan sampai. Continue reading Seharian Bersama Mas Fandy yang Baik Hati

Menjauh ke Selatan Sulawesi

Tidak ada latar belakang khusus mengapa saya tiba-tiba ingin menjadikan Sulawesi sebagai titik henti saya berikutnya. Bahkan saya sendiri masih samar-samar dan meraba ada tempat menarik apa di pulau berbentuk huruf K itu. Alasan sederhana saya hanya satu, saya belum pernah ke sana. Setelah berkesempatan ke Sumatra, Kalimantan, dan Bali yang merupakan beberapa pulau utama di nusantara ini, tiba-tiba mencuat saja rencana menjauh ke Sulawesi yang sebenarnya sudah ada sejak tahun lalu. Tempat yang selalu terbayang pun hanya Makassar. Tidak Bunaken, tidak Wakatobi, tidak Togean, tidak pula Selayar, yang merupakan beberapa wisata pantai dan bawah laut yang ada di Sulawesi. Continue reading Menjauh ke Selatan Sulawesi