Category Archives: Warna-warni

Siap Bercerita Lagi, Semoga…

Ceritanya saya sudah jadi emak-emak nih. Jadi ya maklum kalau blog ini sempat dianggurkan selama lebih dari tiga bulan! Sejak mulai cuti, tenaga dan pikiran fokusnya cuma buat melahirkan. Maklum, anak pertama, belum ada pengalaman gimana rasanya ngeden-ngeden, gimana sakitnya kontraksi, gimana kalau ujung-ujungnya harus operasi caesar. Syukur alhamdulillah, ternyata melahirkan ituuuu rasanya luar biasaaaa. Hihihi… Continue reading Siap Bercerita Lagi, Semoga…

Advertisements

Menyulut Asa, Dari Kami Untuk Mereka

Saya percaya, perjalanan ini sudah Tuhan rencanakan untuk kami sejak lama, kami yang diberi kesempatan untuk menengok langsung wajah-wajah ceria calon penerus bangsa ini di salah satu desa terpencil di kabupaten Pandeglang, provinsi Banten. Di kecamatan Cigeulis tepatnya, kami bersepuluh diminta oleh @relawan_kfp, salah satu komunitas yang concern terhadap pendidikan di Indonesia, untuk turut memberikan sumbangsih kepada anak-anak didik di SDN 3 Banyuasih. Continue reading Menyulut Asa, Dari Kami Untuk Mereka

Suka Duka Berkelana di Liburan Hari Raya

Libur Idul Fitri tahun ini sangat mendukung sekali sebenarnya untuk kabur ke destinasi yang jauh, yang membutuhkan waktu setidaknya tiga atau empat hari. Banyak sahabat saya para pendaki sengaja memanfaatkan libur lebaran tahun ini untuk mendaki ke gunung di luar Jawa. Sebutlah Kerinci, Rinjani, Binaiya, dan gunung lainnya. Saya cuma bisa drooling aja sih saat tahu mereka mau naik ke gunung-gunung itu. Hehehe. Lalu, kemana sajakah kami di hari libur lebaran kemarin? Continue reading Suka Duka Berkelana di Liburan Hari Raya

Makan Malam Paling Romantis

Semenjak suami hijrah ke Kudus untuk bekerja, aku baru sekali aja datang ke Kudus untuk sekedar lihat kantor dia dan kos tempat dia tinggal. Itu juga ke sananya waktu kita belum nikah. Penasaran aja, gimana bentuk kosan suami, secara dari jaman dia lahir sampe kuliah, dia belum pernah kos. Tambah penasaran waktu dia cerita kalo ibu kosnya sering banget nawarin makan ke dia sama teman satu kos dia. Walah, baik banget yak ibu kosnya. Jadi inget jaman kuliah dulu waktu masih ngekos juga, dapet bu kos yang baik banget juga ­čÖé Continue reading Makan Malam Paling Romantis

Saya Seorang Perantau

Terdengar suara seorang pengamen di bagian paling depan bus Murni Jaya, bus jurusan Jakarta-Yogyakarta yang kali ini akan membawa saya pulang kembali ke kota kelahiran saya, Cilacap. Inilah rutinitas saya semenjak beberapa tahun lalu, hidup di negeri orang (mungkin lebih tepatnya di kota orang) dan rutin pulang kampung untuk beberapa minggu sekali. Dulu saya kuliah di Semarang. Selama empat tahun (2007-2011) saya menjadi pelanggan setia bus Sumber Alam, satu-satunya bus yang melayani rute Cilacap-Semarang PP saat itu. Tarifnya sangat cocok di kantong saya. Jadwal keberangkatan dan kedatangannya pun tepat waktu. Namun beberapa kali saya sempat merasakan kurang nyamannya armada yang digunakan untuk membawa penumpang-penumpangnya. Pernah saya dan para penumpang yang lain diminta untuk berganti bus lantaran bus yang kami gunakan sebelumnya mengalami kerusakan. Pernah juga bus yang saya gunakan mogok hingga mengeluarkan asap di bagian depan dekat dengan kursi supir. Tidak ada yang dapat saya lakukan selain tetap setia pada Sumber Alam karena alasan tadi, tidak ada trayek bus yang melayani rute Cilacap-Semarang PP kala itu.

Rutinitas pulang kampung masih menjadi kegiatan saya hingga hari ini. Namun kali ini saya tidak lagi hidup di Semarang, melainkan di kota yang sering menjadi tujuan orang-orang untuk mengadu nasib. Apalagi kalau bukan Jakarta. Ya, tempat yang sebelumnya tidak pernah terpikirpun untuk saya tinggal di sana. Bahkan saat itu saya membatin dalam hati tidak akan mau hidup di lingkungannya. Tapi kenyataannya saat ini saya justru sudah dua tahun lamanya menetap di kota metropolitan ini. Berpacu dalam kemacetan dan berteman dengan polusi, kebisingan serta teman-temannya itu sudah menjadi hal biasa bagi saya. Ya, Jakarta. Semakin tahun akan semakin ramai oleh para pendatang.

Si pengamen sudah selesai membawakan lagu berbahasa “jowo” itu, kemudian dia berjalan ke belakang sambil mengedarkan topi miliknya, tempat menaruh koin-koin dari para penumpang bus. Saya pun meletakkan selembar uang lima ribuan.

Lagi-lagi saya merasakan syukur yang mendalam dalam rutinitas perjalanan saya. Menjadi seorang perantau seperti ini memberikan saya banyak cerita dan pengalaman. Mereka yang hanya setia pada tanah kelahirannya, mereka yang tidak mau berkelana, tidak akan bisa merasakan was-was ketinggalan bus, berdesak-desakan antri di pintu masuk stasiun, gelisah menunggu taksi yang akan membawa ke bandara, ngobrol ngalor-ngidul dengan orang yang baru dikenal,  membeli tiket pesawat dan kereta untuk jadwal perjalanan dua bulan ke depan, ya sejenis-jenis itulah. Dari hal-hal itulah saya mendapat banyak cerita yang mungkin tidak akan saya dapat jika saya tidak mau merantau.

Kadang saya merasa geli sendiri dengan reaksi atau sikap keluarga dan beberapa kawan saya yang notabene mereka mungkin jarang melakukan perjalanan jauh. Mereka kadang memberikan komentar yang bagi saya terlalu membesar-besarkan. Mereka sering kali bilang: “Emang ga cape? Kok berani sih? Hah, naik kereta ekonomi?” Dan jujur saya sering risih dengan mereka yang terlalu mengkhawatirkan saya. Saya tahu mereka hanya takut terjadi apa-apa dengan saya. Tapi bagi saya akan jauh lebih baik untuk mendoakan dan mengucapkan “titi dj” ketimbang terlalu khawatir dengan perjalanan yang akan saya lakukan.

Ya, saran saya sih rajin-rajinlah berkelana, lakukan sebanyak mungkin perjalanan, merantaulah ke kota atau negara tetangga. Maka kamu akan mendapatkan sesuatu yang tidak akan bisa didapat dengan hanya berdiam diri di dalam rumah.

Jakarta 20.12.13 | 08.16 PM | on my home way